Sering nggak sih kamu mengalami saat sedang asyik scrolling di media sosial terus menemukan akun ibu-ibu yang ramai diserang para pengikutnya, lantaran apa yang diunggah dianggap nggak sesuai dan nggak pantas dilakukan? Atau jangan-jangan kamu salah satu yang suka ikutan komen pedas dengan dalih ‘kasih saran’ atau ‘mengingatkan’? Bahkan di kehidupan nyata, ada yang suka iseng nyeletuk soal gaya pengasuhan ibu A atau ibu B.

Tindakan ‘mempermalukan ibu lain’ tersebut bisa mengarah pada mom-shaming, aksi bullying yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Dilansir dari tempo.com, perilaku mom-shaming yang kini kian marak terjadi di kalangan ibu-ibu bisa terjadi karena beberapa faktor pemicu seperti merasa bosan, marah, cemburu, repot, terlalu letih, kehilangan jati diri, dan haus pengakuan.

Advertisement

Dengan memberikan ‘saran’ atau kritikan terhadap ibu lain,  si ibu yang melakukan mom shaming merasa dirinya bakal diakui sebagai ibu yang lebih hebat. Padahal nih menurut Jane Bolton, Psy.D., MFT, dalam tulisannya di Psychology Today, “What We Get Wrong about Shame (Yang Kita Salah Artikan tentang Rasa Malu), rasa malu yang ditimbulkan dari mom shaming itu sangat menyakitkan lho, bahkan lebih sakit daripada malu biasa! Agar kamu nggak melakukan hal ini juga, cek nih 8 komentar mom shaming yang sebaiknya kamu hindari!

Komentar #1: “Anaknya kurus banget, Mom. Kok nggak dikasih vitamin penambah nafsu makan atau divariasikan makanannya?”

Pusingnya emak-emak kalau anak susah makan~ via bayisusahmakan.com

Kamu mungkin nggak tahu seberapa keras perjuangan sang ibu untuk memberi makan anaknya. Daripada komentar begitu, lebih baik bahas hal lain saja deh. Kecuali kalau sang ibu bertanya saran sama kamu, baru deh boleh komentar.

Komentar #2: “Idih, tebel amat tuh dempulan di muka. Nggak malu udah jadi emak-emak, gaya masih kayak anak muda. Pasti anak dititip pembantu mulu tuh.”

Apa salahnya ibu dandan untuk menyenangkan hatinya ‘kan? via www.kathybeaverphotography.com

Jadi ibu-ibu yang masih sibuk momong anak bayi atau balita itu nggak mudah lho, bisa jadi si ibu dandannya buru-buru atau memang baru kesampaian bisa dandan kece. Selama yang punya muka happy, komentar dalam hati saja lah nggak perlu sampai ikutan sotoy komentar di media sosial atau nyeplos langsung.

Komentar #3: “Eh anaknya belum bisa tengkurap/ merambat/ jalan ya, Mom? Padahal anakku umur segitu udah jago lho.”

Nggak perlu ngasih komen yang bisa buat orang jadi tertekan dan gelisah~ via www.pexels.com

Advertisement

Setiap anak punya milestone yang berbeda-beda. Selama dalam batas usia yang wajar, lebih bijaksana kalau kita nggak singgung-singgung tentang perkembangan anak lain tanpa ditanya. Apalagi sampai cerita tentang kelebihan-kelebihan anak kita yang seumuran bayi teman atau orang, wah itu sih bisa bikin jengkel orang~

Komentar #4: “Waduh, kok cara gendongnya begitu? Nggak takut kecengklak tuh leher?”

Ada banyak cara menggendong lho~ via coolmompicks.com

Cara menggendong yang baik dan benar dulu dan sekarang berbeda. Mungkin si ibu punya referensi lain yang bisa jadi kamu belum tahu. Daripada komentar negatif, mending tanya saja teknik menggendong anak apa yang dilakukannya.

Komentar #5: “Kasihan amat anaknya dititip ke nanny mulu. Mamanya pasti nggak bisa ngurus anak tuh, pasti main-main dulu kerjaannya”

Nggak semua ibu bisa melakukan semua hal sendiri tanpa stres via www.huffingtonpost.com

Apa salahnya sih mendapatkan bantuan saat kamu bisa mendapatkannya? Jadi ibu itu nggak mudah, dan sebisa mungkin ya mendapat bantuan biar si ibu nggak stres. Bisa jadi si ibu punya pekerjaan lain atau kewalahan mengurus bayinya sendirian sambil beres-beres rumah sendirian. Nggak perlu dikomentarin, toh yang ngegaji bukan kamu ‘kan?

Komentar #6: “Rambut anaknya nggak dicukur, Mom? Kasihan nanti rambut si adik bayi bakal tipis terus lho, nggak bisa lebat.”

Lebat atau nggak, rambut itu urusan genetik, Sis! via www.koreus.com

Rambut lebat diturunkan dari genetik, bukan dari masalah cukur rambut atau nggak. Jadi urusan si orangtua mencukur rambut bayinya atau nggak mending kita nggak usah ikut campur deh.

Komentar #7: “Mom, kok anaknya sudah dikasih sufor? Bagusan ASI eksklusif lah, kasihan anaknya!”

Biarlah ini jadi keputusan orangtuanya saja ya via pregnant.sg

Urusan memberi anaknya makanan apa, selama itu sehat dan halal kayaknya kamu nggak perlu ikut campur atau komentar bisa membuat si ibu down. Ya, semua juga tahu kalau ASI eksklusif itu lebih baik dan lebih ekonomis, tapi bisa jadi karena sesuatu dan lain hal si ibu kesulitan memberikan ASI sendiri.

Komentar #8: “Drama mulu sama anak-anaknya tiap pagi. Emang penting banget ya, sampai harus kerja dan ninggalin anak-anak?”

Seandainya kerja sambil mmomong anak bisa ‘seindah’ ini ya via www.rd.com

Kita nggak pernah akan bisa mengerti pergumulan ibu yang terpaksa bekerja meninggalkan anak, kalau kamu berada di posisi tersebut. Jadi daripada memberikan tatapan atau komentar negatif, lebih baik berikan dukungan moral yang positif.

Ingat, pola asuh atau urusan rumah tangga orang sama sekali bukan urusan kita. Meskipun mereka membagikannya di media sosial, bukan berarti kamu bisa bebas komentar apalagi memberikan komentar yang bernada negatif atau menggurui tentang orang lain.  Daripada melakukan tindakan mom shaming, lebih baik saling  menawarkan bantuan dan mendukung deh, ‘kan lebih berfaedah!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya