Shaken Baby Syndrome; Risiko yang Bisa Ditimbulkan Jika Mengguncang Bayi Terlalu Keras!

Bahaya shaken baby syndrome

Bermain bersama anak adalah hal yang sangat menyenangkan. Biasanya orang dewasa berusaha membuat anak tertawa dengan cara mengayun atau mengguncang anak ke atas dan ke bawah. Tahukah Moms, mengayun atau mengguncang anak terlalu keras sangat berbahaya? Hal ini bisa menyebabkan shaken baby syndrome yang bisa berakibat fatal, lo.

Advertisement

Shaken baby syndrome disebut juga abusive head trauma, yaitu kondisi ketika otak mengalami cedera serius akibat guncangan yang keras. Kondisi ini biasanya terjadi pada bayi hingga anak usia 5 tahun, dengan kasus terbanyak dialami anak berusia di bawah 2 tahun. Yuk Moms, ketahui lebih dalam bahaya shaken baby syndrome ini, supaya kita bisa lebih hati-hati ketika bermain dan ketika menghadapi anak rewel.

Kasus shaken baby syndrome umumnya disebabkan guncangan yang terlalu keras saat bermain bersama anak atau karena emosi orang tua

Sering banget nih, mainan ayun-ayun anak seperti ini, padahal bahaya lo! | Photo Dominika Roseclay via www.pexels.com

Hal yang harus diketahui oleh orangtua atau semua orang dewasa ketika bermain bersama anak balita adalah hati-hati saat mengguncang anak terlalu keras. Dilansir dari The Asian Parent, usia balita masih memiliki otot leher yang belum punya reflek untuk mengimbangi guncangan. Otak dan pembuluh darahnya juga masih lembut dan belum terlalu kuat untuk menghadapi guncangan keras.

Alih-alih tindakan bermain seperti ini justru berisiko menyebabkan otak anak membentur tengkorak, akibatnya bisa memar, bengkak, tertekan dan menimbulkan pendarahan. Dilansir dari Klik Dokter, kondisi shaken baby syndrome lebih berat bila tindakan ini diakhiri dengan benturan keras. Apalagi jika guncangan dilakukan karena emosi, misalnya saat anak rewel dan nggak mau berhenti menangis. Kondisi ini sering membuat orang tua emosi dan mengguncang anak dengan keras untuk menenangkan tangisnya. So, hati-hati ya Moms, saat bermain maupun saat menenangkan anak yang rewel!

Advertisement

Shaken baby syndrome menyebabkan pendarahan pada otak dan mata, cedera tulang leher, rusuk dan tengkorak, serta kerusakan sumsum tulang belakang

Shaken baby syndrome bisa berakibat fatal | Photo by Singkham via www.pexels.com

Dilansir dari Halodoc, Saat mengalami guncangan yang keras, otak mengalami perputaran atau pergeseran aksis (batang otak). Akibatnya, saraf dan pembuluh darah pada otak akan robek dan memicu pendarahan pada otak. Bahkan saraf bisa mengalami kerusakan permanen. Pendarahan juga bisa terjadi pada retina mata, sayangnya masalah ini sulit terdeteksi karena anak belum bisa mengeluh gangguan pengelihatan.

Selain itu, shaken baby syndrome juga bisa mengakibatkan cedera pada tulang leher, rusuk dan tengkorak, karena tulang-tulang penyangga ini masih lemah dan rentan cedera saat mengalami guncangan. Pada kasus yang berat, hal ini bisa menyebabkan kelumpuhan karena rusaknya sumsum tulang belakang.

Saat anak mengalami shaken baby syndrome, biasanya timbul gejala sesuai tingkat keparahan yang dialami

Saat mengalami shaken baby syndrome anak cenderung lebih rewel dari biasanya | Photo by William Furtunato via www.pexels.com

Pada kasus yang ringan, anak terlihat normal setelah mengalami guncangan keras, tapi biasanya mengalami masalah kesehatan dan perilaku. Misalnya anak jadi lebih rewel, malas menyusu atau nafsu makan menurun. Gejalanya memang sulit terdeteksi karena cidera shaken baby syndrome nggak menimbulkan tanda di bagian tubuh luar, kecuali sampai menimbulkan memar. Dilansir dari Mayo Clinic, pada kasus yang berat anak akan menunjukkan gejala kurang aktif bermain, rewel parah, muntah-muntah, demam, kejang, hingga kehilangan kesadaran.

Diagnosis shaken baby syndrome membutuhkan pemeriksaan medis. Ketika Moms mendapati gejala shaken baby syndrome, segera bawa anak untuk periksa ke dokter, ya!

Ilustrasi pemeriksaan shaken baby syndrome | Photo by CDC via www.pexels.com

Dilansir dari Klik Dokter, untuk menentukan diagnosis shaken baby syndrome bukan hal yang mudah, karena anak belum bisa menyampaikan keluhannya dan kesulitan menceritakan kejadian yang ia alami. Apalagi jika pelaku misalnya orang terdekat, pengasuh, bahkan orangtua berusaha menutupi tindakannya. Maka, perlu dilakukan serangkaian pemeriksaan seperti funduskopi atau eptalmologi untuk mengetahui kondisi mata, CT scan kepala, penyinaran tulang dan pemeriksaan darah.

Untuk mencegah shaken baby syndrome, butuh kesadaran pada orang dewasa tentang bahaya mengguncang anak terlalu keras

Beri pemahaman pada orang dewasa di sekitar anak tentang bahaya shaken baby syndrome | Photo by Tatiana Twinslol via www.pexels.com

Moms bisa memberi tahu orang dewasa di sekitar anak supaya nggak mengguncang anak terlalu keras saat bermain. Jika Moms menggunakan jasa pengasuh anak, perlu juga edukasi tentang bahaya shaken baby syndrome ini lebih dalam. Selain itu, emosi orangtua juga perlu dilatih supaya bisa lebih terkendali ketika menghadapi anak yang rewel. Emosi orang dewasa di sekitar anak, entah itu orang tua, pengasuh atau orang terdekat anak bisa menjadi faktor risiko shaken baby syndrome ini lo, Moms.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Seorang makmum yang taat :)

CLOSE