5 Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak. Imbasnya Bisa Sampai Dewasa, Lo!

Cara menjaga kesehatan mental anak

Kesehatan mental sangat penting bagi semua jenjang usia. Seperti orang dewasa, kesehatan mental anak juga sangat penting untuk membangun kesejahteraan jiwanya. Hal ini juga penting untuk tumbuh kembang dan kecerdasan anak. Namun, sering kali orang tua luput memerhatikan kesehatan mental anak. Padahal, belum tentu anak yang pintar dan aktif kesehatan mentalnya baik, lo. Bagaiman cara menjaga kesehatan mental anak? Hal ini sering menjadi pertanyaan para Moms dan Dads.

Advertisement

Kesehatan mental atau kondisi psikologis memang nggak seperti kesehatan fisik yang bisa dilihat dengan jelas, tapi bukan berarti nggak penting ya Moms. Dilansir dari Child Trends, kondisi jiwa anak sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisik, kondisi emosional, perilaku, kemampuan sosial dan kemampuan kognitif anak. Wah, penting banget nih Moms! Lalu bagaimana cara menjaga kesehatan mental anak? Berikut beberapa hal yang bisa Moms dan Dads lakukan!

1. Selain memastikan kesejahteraan psikologis anak, Moms dan Dads juga harus menjaga kesehatan mental diri sendiri. Ini pondasi utamanya, ya!

Kesehatan mental Moms dan Dads juga sangat penting! | Photo by Vlada Karpovich via www.pexels.com

Anak akan bertumbuh dan berkembang sesuai apa yang ia lihat, apa yang ia dengar dan apa yang ia rasakan. hal ini membuat kondisi psikologis Moms dan Dads sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental anak. Menurut penelitian yang dihimpun di Wiley Online librabry, disebutkan bahwa anak yang cenderung mengalami masalah kesehatan mental jika orang tuanya mengalami gangguan psikologis tertentu.

Hal ini karena anak banyak menjadikan Moms dan Dads sebagai contoh dalam membentuk perilaku. Jadi, usahakan Moms dan Dads selalu menjadi role model yang baik untuk anak, ya.

Advertisement

Moms dan Dads bisa mulai belajar mengelola stres dan emosi diri sebaik mungkin. Nggak jarang emosi orangtua membuat anak bisa mengalami trauma hingga meninggalkan pengalaman buruk sampai ia beranjak dewasa. Hal ini tentu akan menganggu kesejahteraan psikologis anak.

2. Bangun hubungan relasi yang baik dalam keluarga seperti kepercayaan dan nggak saling memaksakan kehendak sendiri

Beri anak kepercayaan dan dampingi, jika salah maka nasihati | Photo by Gustavano Fring via www.pexels.com

Membiasakan hubungan relasi yang baik akan membentuk kepribadian yang baik pada anak. Terutama hubungan Moms dan Dads dengan anak, ini akan sangat berperan dalam mendukung kesehatan mental pada anak. Misalnya membangun kepercayaan pada anak. Ketika anak ingin melakukan sesuatu, Moms bisa memberinya kepercayaan untuk melakukan hal itu, mengawasinya dengan baik dan membuat komitmen pada anak bahwa ia memang mampu.

Advertisement

Moms dan Dads juga bisa mendampingi anak dan memberikan rasa aman padanya, sehingga anak juga bisa membangun kepercayaan terhadap orang tuanya.

Jika rasa saling percaya sudah terbangun, kemungkinan Moms dan Dads untuk memaksakan kehendak sebagai orangtua lebih kecil. Moms dan Dads bisa lebih tenang dan mudah dalam melakukan negosiasi pada anak. Nggak jarang keinginan anak dan orang tua nggak sejalan. Namun, hubungan relasi yang baik ini akan memudahkan Moms dan Dads dalam menghadapi masalah ini. Dampak positifnya, anak akan merasa dihargai, mandiri dan terbiasa berusaha keras untuk meraih impiannya.

3. Biarkan anak terkoneksi dengan lingkungan sosial. Moms dan Dads hanya perlu mendampingi anak dan menunjukkan hal yang baik

Biarkan anak membangun relasi di lingkungan sosial | Photo by Lukas via www.pexels.com

Selain hubungan relasi yang baik dalam keluarga, anak juga membutuhkan hubungan relasi yang baik dengan lingkungan sosial. Mulai dari mengenal anggotan keluarga besar, mengenal tetangga, hingga bisa bersosialisasi dengan teman-teman di sekolahnya. Lingkungan sosial akan membantu anak dalam memelihara kesehatan mentalnya. Moms dan Dads nggak perlu mengekang, hanya perlu mendampingi dan menasihati jika ada yang salah, dan menunjukkan hal yang benar.

Dengan cara ini, anak juga bisa belajar mengelola emosi melalui interaksi dengan lingkungan sosial. Anak bisa lebih bersemangat untuk belajar, lebih ceria dan lebih bahagia.

4. Beri kesempatan anak untuk berpendapat, jangan mendebat dan biarkan anak mengekspresikan emosinya

Ajak anak diskusi tentang pendapat, biarkan ia mengeluarkan emosinya | Photo by August de Richelieu via www.pexels.com

Pendapat anak adalah hasil dari ia belajar melalui pengamatan terhadap lingkungan dan berbagai hal yang ia pelajari dari pengalaman, termasuk rasa takut dan keinginan. Proses ini mungkin saja nggak mudah, bahkan mungkin saja anak juga kesulitan untuk mengungkapkan pendapatnya. Jadi apapun pendapat anak, Moms dan Dads hanya perlu membantu anak untuk bisa mengungkapkan pendapat atau isi hatinya, jangan didebat ya Moms. Anak hanya butuh diterima dan jika nggak tepat, cukup dinasihati dengan baik, jangan sampai melukai perasaannya.

Selain pendapat, Moms dan Dads juga harusĀ  membiarkan anak mengekspresikan emosinya. Pahami jika emosi adalah validasi dari perasaan yang anak rasakan. Entah itu sedih, marah, kecewa, menangis, bahagia dan sebagainya. Anak yang menangis dan marah bahkan tantrum karena ia kurang bisa mengungkapkan perasaannya.

Moms dan Dads perlu mendampingi anak ketika meluapkan emosi, terutama ketika marah. Beri ia pengertian jika sudah tenang. Meminta anak menahan emosi justru nggak baik untuk kesehatan mentalnya, bahkan bisa terbawa sampai dewasa.

5. Berikan apresiasi dan pujian. Jangan ragu untuk menunjukkan cinta pada anak, misalnya mencium, memeluk, mengucapkan terima kasih

Beri apresia dengan cara sederhana | Photo by Elly Fairytale via www.pexels.com

Mengapresiasi pencapaian anak akan membangun self-esteem atau membangun rasa sayang dan menghargai diri sendiri. Moms dan Dads bisa memberi apresiasi atau pujian atas pencapaian anak sekecil apa pun, meski dengan cara sederhana. Misalnya memujinya pintar, atau jika pencapaiannya cukup besar, bisa dengan memberi hadiah yang sederhana. Hal ini akan membuat anak merasa dihargai, dianggap dan bisa percaya diri.

Sebaliknya, kritikan justru akan membuat anak minder, takut bahakn jika sampai melukai perasaannya, bisa menimbulkan trauma. Hal ini tentu akan mengancam kesehatan mental anak.

Hal ini bisa Moms dan Dads praktikkan sendiri dan sesuaikan dengan kebutuhan anak. Kesehatan mental memang nggak terlihat jelas seperti kesehatan fisik. Namun, sangat memengaruhi perilaku dan tumbuh kembang anak. Dilansir dari Halodoc, kesatan mental anak yang terganggu biasanya ditandai dengan perubahan cara berpikir, perubahan perasaan, perilaku, hingga murunnya kesehatan fisik. Misalnya prestasi menurun, sulit berkonsentrasi, tidak berdaya, mengalami kecemasan, senang menyendiri, emosi yang berlebihan dan tidak stabil, gangguan tidur, mudah letih, dan nggak berenergi sepanjang waktu.

Sudah siap menjadi penjaga kesehatan mental anak kah, Moms dan Dads?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Seorang makmum yang taat :)

CLOSE