Kenalan Sama Istilah ‘Dad Shaming’, Kritik Hingga Bullying pada Sosok Ayah. Imbasnya Ngeri!

Dad shaming

Istilah mom shaming mungkin sudah sering kamu dengar atau justru moms sendiri yang mengalaminya. Beriringan dengan maraknya penggunaan media sosial, mom shaming semakin mudah ditemukan. Para ibu kerap menjadi sasaran komentar yang menyudutkan perihal pola pengasuahannya. Tapi nggak banyak yang tahu kalau ayah pun bisa menjadi korban dad shaming.

Advertisement

Jadi, sama seperti ibu yang mengalami mom shaming, ayah pun mengalami hal serupa. Masih awan di telinga, dad shaming memang belum familier. Namun ada baiknya kamu dan pasangan mulai memperhatikannya agar tidak terjebak dalam depresi. Yuk, simak ulasannya di bawah ini!

Dad shaming tak jauh berbeda dengan mom shaming. Keduanya sama-sama mengandung komentar negatif yang ditujukan kepada ayah atau ibu terkait pengasuhan anak

Credit: freepik.com via www.freepik.com

Bila ayah menerima komentar negatif yang cenderung menyudutkan soal pengasuhan anak, sepertinya ayah sedang mengalami dad shaming. Sebenarnya nggak berbeda dengan mom shaming, hanya saja dad shaming ditujukan secara khusus untuk para ayah nih. Biasanya cara ayah mengasuh anak dinilai nggak benar. Sehingga orang lain melontarkan komentar penuh intimidasi. Tak ayal, para ayah pun merasa tertekan.

Apa yang terjadi jika ayah mengabaikan dad shaming? Tak sedikit lo para orang tua baru merasa kewalahan dengan komentar orang-orang di sekitarnya. Alih-alih mendukung, banyak orang lebih sering memberikan kritik pedas yang bikin orang tua merasa nge-down. Kalau dibiarkan aja, para ayah akan mengalami masalah kesehatan mental.

Advertisement

Inilah beberapa contoh kalimat dad shaming yang bikin kepercayaan diri para ayah bisa menurun drastis

Credit: freepik.com via www.freepik.com

Dinukil dari Tirto, seorang akademisi dari University of Chicago bernama Sarah J. Clark, meneliti fenomena dad shaming. Dari sekitar 73 ayah yang memiliki anak berusia 1-13 tahun, terdapat separuh responden yang mengaku pernah mejadi korban dad shaming lo. Mayoritas dad shaming berkaitan dengan gaya pengasuhan yang dilakukan ayah. Misalnya, ayah menerima dikritik habis-habisan gara-gara makanan yang diberikan kepada anak. Selain itu, sikap ayah yang dinilai kurang perhatian atau terlalu pun menjadi sumber dad shaming.

Melansir The Asian Parent, berikut ini adalah beberapa contoh dad shaming yang sering dialami para ayah:

Advertisement

“Pantes anaknya bandel. Si ayah jarang pulang sih, nggak pernah ada waktu buat ketemu langsung. Mending nggak usah ngehubungin anak sekalian daripada cuma video call.”

“Ayahnya nggak pernah ngajak jalan-jalan nih, kayaknya. Anaknya kelihatan nggak bahagia.”

“Anaknya kurus banget. Sering dimarahin ayahnya, nih.”

Contoh di atas cuma sebagian kecil aja, ya. Maish banyak bentuk dad shaming lainnya. Bahkan tak sedikit yang mengatakan kalimat seperti ini, “Anaknya kurus banget. Kurang nutrisi tuh. Anaknya nggak dikasih makan nggak sih?” Mungkin terdengar sepele, tapi kalimat itu bikin ayah merasa rendah diri. Bahkan dampaknya pun nggak hanya itu, lo!

Dampak dad shaming nggak main-main. Selain menimbulkan krisis kepercayaan diri, para ayah bisa ogah mengasuh anak lagi

Credit: freepik.com via www.freepik.com

Beberapa ayah mungkin terpcau untuk mencari informaasi pengasuhan yang baik setelah menerima dad shaming. Namun tak sedikit ayah yang merasa tidak percaya diri. Lantaran banyak komentar negatif yang menekan, tingkat kepercayaan diri ayah malah terus menurun dari waktu ke waktu. Dampak paling parah, ayah akan kehilangan motivasi untuk mengasuh anak. Alhasil, ayah enggan terlibat pengasuhan anak lagi.

Mengingat dampaknya, dad shaming justru membuat ayah kapok mengasuh anak bersama dengan pasangannya nih. Bila pasangan mengalami dad shaming, peranmu sangat berarti dalam mendukungnya bangkit lagi. Dukungan dari pasangan akan membuat ayah merasa tidak sendirian dan bisa mengatasi dad shaming dengan tepat. Buat para ibu dan ayah, sebaiknya saling mendukung agar bisa sama-sama kuat menghadapi dad shaming maupun mom shaming, ya.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Seorang makmum yang taat :)

CLOSE