6 Kesalahan Orang Tua yang Ternyata Bisa Merusak Masa Kecil Anak. Risikonya, Trauma!

Merusak masa kecil anak

Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk buah hati. Oleh karena itu banyak yang mempersiapkan sedetail mungkin rencana mengasuh anak dengan caranya yang dinilai paling tepat. Namun, di sisi lain hanya karena orang tua mau si kecil tumbuh sesuai dengan ekspektasinya, kadang kala justru mengesampingkan perasaan anak atau hak yang seharusnya ia dapatkan.

Advertisement

Kita ketahui jika setiap anak akan mendapatkan masa kecilnya sekali seumur hidup. Sebagai orang tua sebisa mungkin harus mempertimbangkan, merenungkan setiap tindakan yang dilakukan supaya tak menyesal di kemudian hari. Anak juga berhak lo Moms, merasa bahagia dalam pertumbuhannya, supaya momen masa kecil terkenang dan memberi pengaruh baik di kemudian hari. Nah, berikut ini Hipwee YoungMom akan membahas beberapa faktor yang berisiko merusak masa kecil anak. Pahami, yuk!

1. Menyepelekan perasaan anak, Moms bertindak seolah-olah si kecil sudah dewasa. Padahal mereka akan menyesuaikan usianya

Memperlakukan anak seolah sudah dewasa | Credit: Jerry Wang via unsplash.com

Anak-anak perlu tahu bahwa menunjukkan ekspresi atau perasaan yang ia alami merupakan tindakan yang baik. Dengan begitu mereka akan terbuka dengan orang tua, selayaknya teman yang bisa diajak diskusi tanpa takut dihakimi. Biasanya saat mereka rewel atau melakukan kesalahan Moms dan Dads mungkin langsung berkata “Jangan kayak anak kecil, malu lo dilihat banyak orang!”. Padahal si kecil memang belum berkembang sepenuhnya, tingkah lakukan belum matang secara emosional atau mental.

Hindari berharap si kecil dapat bertingkah layaknya orang dewasa, meski umurnya sudah menginjak 6 atau tujuh tahun, mereka akan tepat berlaku menyesuaikan usia. Jangan lantas dianggap nakal, di sinilah peran Moms dan Dads untuk mengatur emosi anak. Beritahu mana yang baik dan hal yang kurang bijak. Peluklah dan biarkan mereka menjadi anak-anak.

Advertisement

2. Membandingkan anak dengan orang lain dengan tujuan supaya ia termotiviasi. Namun, yang kerap terjadi justru sebaliknya. Bisa diingat sampai dewasa, lo

Tak perlu membandingkan anak dengan orang lain | Credit: Edward Cisneros via unsplash.com

Siapa sih yang suka dirinya dibandingan dengan orang lain? pasti jawabannya tak ada. Sayangnya tindakan tersebut masih dilakukan oleh sebagian orang tua. Mereka membandingkan hal-hal positif dari orang lain dengan harapan anak akan memiliki pencapaian atau sifat yang sama.

Namun, kenyataannya justru bisa berakibat sebaliknya. Banyak yang menjadi merasa sedih, kurang percaya diri, memendam sifat iri, bahkan merasa tak beharga karena terlalu sering dibandingkan. Tindakan tersebut tak dibenarkan karena setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan pada masing-masing bidang, Moms dan Dads tak seharusnya membandingkan. Akan bijaksana jika perbuatan yang tak sesuai prinsip Moms dikomunikasikan kepada anak dan kemudian mengambil jalan tengahnya.

3. Percayalah berekspektasi berlebihan pada anak juga bisa menjadi bumerang nantinya. Ditambah jika Moms mengatur jadwal kegiatan yang berlebihan

Advertisement

Jangan terlalu berekspektasi tinggi | Credit: Bruno Nascimento via unsplash.com

Hal wajar bila orang tua ingin yang terbaik bagi anaknya. Tetapi yang sering ditemukan Moms mengasuh anak dengan dasar yang belum pernah dicapai sewaktu kecil. Akibatnya di usia yang masih belia anak mudah merasa tertekan atau lelah dengan aturan sang orang tua.

Coba saja bayangkan jika sehabis pulang sekolah ia diharuskan untuk les akademik, kemudian mengasah keterampilan dalam bermusik atau menari dan selanjutnya mengikuti kursus yang lain. Sebenarnya hal tersebut tak apa asalkan dilakukan sesuai dengan minat sang anak tanpa memaksa. Buat ia senang dalam menjalaninya.

Anak tetap butuh berinteraksi dengan teman serta istirahat yang cukup untuk menjaga kesehatan mental dan fisik. Ekspektasi yang terlalu tinggi dari orang tua akan berdampak buruk saat dewasa, anak tak bisa menceritakan keluhannya secara leluasa karena anggapan orang tua yang selalu sempurna.

4. Melakukan tindakan fisik dan emosional bisa membuat anak merasa trauma. Termasuk saat orang tua bertengkar di hadapan buah hati

Hindari melakukan tindakan fisik | Credit: Julien L via unsplash.com

Dilansir dari Lifehack.org, seorang doktor psikologi Dr.Magdalena Battles menyebut pelecehan fisik hingga ucapan emosional akan menempel seperti lem sampai anak beranjak dewasa. Sayangnya beberapa orangtua bahkan tak menyadarinya. Ketika menyebut anak bodoh, buruk, jelek ataupun menghina kata-kata itu akan menyentuh inti hati anak. Tak ada kata-kata yang menyakiti hati anak lebih dari perkataan orangtuanya. Sehingga Moms dan Dads perlu berhati-hati ya.

Hindari untuk bertengkar di hadapan anak, sebab beberapa studi menunjukkan hal tersebut cenderung membuat si kecil sulit untuk beradaptasi dan rentan mengalami depresi.

5. Anak juga perlu berinteraksi dengan teman seusianya. Namun, kadangkala orangtua terlalu takut dengan pergaulan di sekitar

Membatasi anak berinteraksi | Credit: Spikeball via unsplash.com

Anak perlu berada di lingkungan teman seusianya, hal ini dilakukan untuk mengembangkan perilaku adaptasi yang baik. Berinteraksi dengan orang lain akan memengaruhi kemampuannya diterima secara sosial. Hanya berinterkasi dengan orang dewasa akan membuat dirinya kurang peka saat bertemu dengan orang baru seumuran. Maka dari sana, bantu si kecil yuk Moms bermain dengan anak-anak lain, jadwalkan kegiatannya atau jika perlu mengajak mereka bermain bersama di rumah supaya Moms bisa tetap melakukan pengawasan.

6. Melindungi anak dari kesalahan hingga memuji sosoknya secara berlebihan juga tak baik, lo. Dikhawatirkan anak akan fokus dengan tujuan atensi bukan karena ia senang menjalaninya

Melindungi anak dari kesalahannya | Credit: Bermix Studio via unsplash.com

Semua orang tua pasti ingin anaknya hidup bahagia dan nyaman. Namun, bukan berarti ini jadi alasan untuk selalu melindungi sang anak dari kesalahan. Kegagalan dan kesalahan justru bisa menjadi pelajaran bagi anak untuk bangkit, kembali berjuang, dan memperbaiki diri. Jika Moms terus menerus ikut campur dalam permasalahan yang ia hadapi, kebiasan ini akan terbawa hingga dewasa. Akibatnya anak tak mampu mandiri menghadapi tekanan dalam menyelesaikan masalah.

Hal ini pun berlaku saat orang tua memuji anak, hal teersebut sebenarnya baik sebab berarti Moms menghargai setiap perjuangannya. Meski demikian jangan lantas berlebihan yang membuat anak besar kepala dan sulit menerima kritikkan.

Nah itulah beberapa faktor yang berisiko meninggalkan kesan tak baik di masa kecil si anak. Tanpa disadari hal yang dilakukan orangtua bermaksud baik tetapi justru sebaliknya. Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk selalu merefleksikan perilaku yang tepat sebelum menunjukannya kepada anak. Semangat selalu!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Seorang makmum yang taat :)

CLOSE