15 Mitos Makanan yang Dianggap Aman untuk Bayi, Nggak Semuanya Benar: Ini Faktanya!

Dari telur mentah hingga madu, kenali fakta di balik kebiasaan pemberian makanan bayi yang masih dipercaya turun-temurun.

Di Indonesia, masih banyak orang tua dan keluarga yang percaya mitos soal makanan yang dianggap aman untuk bayi. Niatnya sih membantu bayi cepat sembuh, tapi bagaimana kalau makanan tersebut justru berisiko bagi kesehatannya?

📰 Kasus yang jadi pengingatPertanyaan ini kembali jadi perhatian setelah kabar meninggalnya Alena, bayi berusia 28 hari di Surabaya, yang diduga diberi telur mentah oleh neneknya untuk menurunkan demam. Alena sempat dirawat intensif di RSUD Dr. Soetomo sejak 9 Oktober 2026 sebelum meninggal dunia pada Minggu, 11 Oktober 2026. Hubungan sebab-akibat antara makanan yang diduga dikonsumsi dan kematiannya belum dipastikan.

Kisah ini jadi pengingat bahwa mitos makanan bayi nggak bisa dipandang sepele, apalagi untuk bayi baru lahir yang sistem tubuhnya masih berkembang. Telur mentah bukan obat demam, dan makanan yang biasa dikonsumsi orang dewasa belum tentu cocok untuk bayi.

Lantas, apa saja mitos makanan yang dianggap aman untuk bayi yang perlu diluruskan? Ini faktanya, penting diketahui orang tua dan semua anggota keluarga yang ikut mengasuh si kecil.

Advertisements

15 mitos makanan yang dianggap aman untuk bayi dan faktanya

Anggapan soal makanan bayi sering diwariskan dari generasi ke generasi. Ada yang percaya pisang boleh diberikan sejak lahir, air putih perlu supaya bayi nggak haus, atau madu bagus untuk daya tahan tubuh. Padahal, keamanan makanan perlu dilihat dari usia bayi, kandungan gizi, kebersihan, cara pengolahan, dan kesiapan perkembangannya. Ini ringkasannya:

Ringkasan mitos vs fakta makanan bayi
❌ Mitos ✅ Fakta
1. Telur mentah bisa membantu menurunkan demam Bukan obat demam, justru berisiko Salmonella
2. Madu aman karena berasal dari bahan alami Dilarang di bawah 12 bulan karena risiko botulisme
3. Pisang boleh diberikan sejak bayi baru lahir Baru boleh sebagai MPASI sekitar usia 6 bulan
4. Bayi perlu diberi air putih supaya tidak kehausan Bayi ASI eksklusif nggak butuh air tambahan
5. Teh bisa meredakan perut kembung bayi Bisa berisiko dan menggantikan asupan ASI
6. Susu kental manis bisa menggantikan ASI Tinggi gula, bukan pengganti ASI atau formula
7. Telur matang baru boleh diberikan setelah bayi berusia satu tahun Telur matang boleh sejak MPASI sekitar 6 bulan
8. Makanan yang dihaluskan pasti aman untuk bayi Tetap harus bersih, matang, dan higienis
9. Bubur encer lebih baik daripada bubur kental Terlalu encer bikin gizi per suapan rendah
10. Makanan keluarga selalu aman untuk bayi Perlu disesuaikan tekstur, garam, dan gulanya
11. Makanan berbumbu pasti membuat bayi sakit Boleh, asal nggak pedas dan rendah garam-gula
12. Jus buah lebih sehat daripada buah utuh Buah utuh yang dilumatkan lebih baik
13. Biskuit khusus bayi boleh diberikan sebanyak yang diminta Tetap ada batasnya, cek gula dan teksturnya
14. Kacang utuh baik untuk melatih bayi mengunyah Kacang utuh berisiko bikin tersedak
15. Kalau bayi mau makan, berarti makanan itu cocok Lahap belum tentu aman dan sesuai usia
Advertisements

1. Telur mentah bisa membantu menurunkan demam

Telur mentah dalam mangkuk
Ilustrasi telur mentah | Hipwee

Telur mentah tidak terbukti menjadi obat penurun demam. Justru, telur mentah berisiko membawa bakteri seperti Salmonella, yang dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan.

Pada bayi baru lahir, infeksi dapat berkembang menjadi kondisi serius karena daya tahan tubuhnya belum matang. Bayi juga belum memiliki kemampuan makan dan menelan seperti anak yang lebih besar.

Mitos ini perlu diluruskan dengan tegas: kalau bayi demam, jangan mencoba mengobatinya dengan makanan atau ramuan tradisional. Bayi berusia di bawah tiga bulan yang mengalami suhu 38°C atau lebih perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.

🚨 Segera bawa bayi ke dokter kalau:
  • Bayi di bawah 3 bulan demam 38°C atau lebih
  • Bayi terlihat sangat lemas, rewel terus, atau sulit dibangunkan
  • Bayi nggak mau menyusu, muntah terus, atau diare
  • Napas terlihat cepat atau berat

Jangan coba obati dengan makanan atau ramuan tradisional.

Advertisements

2. Madu aman karena berasal dari bahan alami

Madu dalam toples kaca
Ilustrasi madu | Hipwee

Madu memang dikenal sebagai bahan alami dan sering digunakan dalam pengobatan rumahan. Namun, madu tidak boleh diberikan kepada bayi berusia di bawah 12 bulan karena berisiko menyebabkan botulisme pada bayi, yaitu penyakit serius akibat racun yang dihasilkan bakteri Clostridium botulinum.

Risiko ini tetap ada meskipun madu dicampurkan ke dalam air, susu, atau bubur. Jadi, jangan menambahkan madu ke makanan bayi hanya karena ingin memberikan rasa manis atau meredakan batuk.

3. Pisang boleh diberikan sejak bayi baru lahir

Pisang matang di atas meja
Ilustrasi pisang | Hipwee

Selama enam bulan pertama, bayi umumnya cukup mendapatkan ASI eksklusif. MPASI, termasuk pisang yang dilumatkan, baru diperkenalkan sekitar usia enam bulan ketika bayi siap secara perkembangan.

Memberikan pisang terlalu dini bukan cara yang tepat untuk membuat bayi lebih cepat kenyang atau tidur lebih lama. Makanan tambahan juga berpotensi menggantikan asupan ASI yang dibutuhkan bayi. Jadi, bukan berarti pisang adalah makanan yang buruk. Pisang bisa menjadi bagian dari MPASI, tetapi waktu pemberiannya harus tepat.

Advertisements

4. Bayi perlu diberi air putih supaya tidak kehausan

Segelas air putih untuk bayi
Ilustrasi air putih | Hipwee

Pada enam bulan pertama, bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif umumnya tidak membutuhkan air putih tambahan. ASI menyediakan cairan yang diperlukan bayi, termasuk saat cuaca hangat. Memberikan air putih terlalu dini dapat mengurangi asupan ASI dan, jika jumlahnya berlebihan, berisiko mengganggu keseimbangan elektrolit tubuh.

Setelah MPASI dimulai sekitar usia enam bulan, air putih dapat diperkenalkan dalam jumlah yang sesuai. Hal ini perlu dipahami karena kebutuhan cairan bayi tidak bisa disamakan dengan orang dewasa.

5. Teh bisa meredakan perut kembung bayi

Secangkir teh hangat
Ilustrasi teh | Hipwee

Teh biasa mengandung kafein, sedangkan teh herbal bisa memiliki kandungan dan tingkat keamanan yang berbeda-beda. Memberikannya kepada bayi tanpa arahan tenaga kesehatan dapat menimbulkan risiko dan menggantikan asupan ASI.

Jika bayi mengalami perut kembung, muntah, atau tampak kesakitan, orang tua perlu mencari tahu penyebabnya. Jangan langsung memberikan teh atau ramuan herbal berdasarkan saran keluarga.

6. Susu kental manis bisa menggantikan ASI

Susu kental manis dalam kaleng
Susu kental manis tidak untuk bayi | Hipwee

Susu kental manis bukan pengganti ASI maupun susu formula bayi. Produk ini umumnya mengandung gula dalam jumlah tinggi dan tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi.

Jika pemberian ASI menghadapi kendala, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan pilihan nutrisi yang tepat. Jangan mengencerkan susu kental manis dengan air lalu memberikannya kepada bayi sebagai pengganti susu.

7. Telur matang baru boleh diberikan setelah bayi berusia satu tahun

Telur rebus matang yang dipotong
Ilustrasi telur matang | Hipwee

Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Telur yang dimasak hingga matang dapat diperkenalkan sebagai bagian dari MPASI sejak bayi mulai makan sekitar usia enam bulan, dengan tekstur yang sesuai kemampuan bayi.

Orang tua juga perlu memperhatikan kemungkinan reaksi alergi ketika memperkenalkan makanan baru. Jika bayi menunjukkan gejala yang mengarah pada reaksi alergi, hentikan pemberian makanan tersebut dan cari bantuan medis sesuai tingkat keparahannya.

8. Makanan yang dihaluskan pasti aman untuk bayi

Makanan bayi yang dihaluskan dalam mangkuk
Ilustrasi makanan yang dihaluskan | Hipwee

Makanan yang dihaluskan memang bisa sesuai untuk bayi yang baru memulai MPASI. Namun, tekstur lembut tidak otomatis menjamin makanan aman.

Bahan makanan tetap harus bersih, matang sesuai jenisnya, disimpan dengan benar, dan disajikan menggunakan peralatan yang higienis. Makanan yang tercemar bakteri tetap bisa menyebabkan gangguan kesehatan meskipun sudah dihaluskan.

Tekstur juga perlu ditingkatkan secara bertahap sesuai perkembangan bayi. Bayi perlu belajar menerima variasi tekstur, bukan terus-menerus mengonsumsi makanan yang sangat encer atau terlalu halus.

9. Bubur encer lebih baik daripada bubur kental

Bubur MPASI untuk bayi
Ilustrasi bubur MPASI | Hipwee

Bubur encer mungkin terlihat lebih mudah ditelan, tetapi jika terlalu banyak air, kandungan zat gizi dalam setiap suapan bisa menjadi lebih rendah. Padahal, bayi yang sudah mulai MPASI membutuhkan makanan dengan kepadatan gizi yang memadai.

WHO menyarankan agar tekstur MPASI disesuaikan dengan usia dan kemampuan bayi, dimulai dari makanan yang dilumatkan atau semi-padat, kemudian ditingkatkan secara bertahap.

Bukan berarti semua bubur harus kental. Teksturnya tetap perlu disesuaikan dengan kesiapan bayi, tetapi jangan sengaja membuat makanan terlalu encer dengan anggapan bahwa itulah pilihan paling sehat.

10. Makanan keluarga selalu aman untuk bayi

Bayi makan MPASI di kursi makan
Ilustrasi bayi fase MPASI | Hipwee

Nasi, sayur, ikan, daging, dan lauk keluarga bisa menjadi bahan MPASI. Namun, makanan tersebut perlu disesuaikan dengan usia, tekstur, kebersihan, serta kandungan garam dan gulanya.

Makanan yang keras, berbentuk bulat, atau sulit dikunyah dapat meningkatkan risiko tersedak. Contohnya, kacang utuh, anggur utuh, dan potongan wortel mentah tidak cocok diberikan kepada bayi dalam bentuk tersebut.

Bukan berarti bayi harus selalu mendapat menu yang benar-benar berbeda dari anggota keluarga lain. Orang tua bisa menyisihkan bahan makanan sebelum menambahkan garam atau bumbu tertentu, lalu mengolahnya sesuai kemampuan makan bayi.

11. Makanan berbumbu pasti membuat bayi sakit

Makanan berbumbu untuk keluarga
Ilustrasi makanan berbumbu | Hipwee

Bayi memang tidak membutuhkan makanan dengan cabai atau bumbu yang terlalu kuat. Namun, menyebut semua makanan berbumbu sebagai makanan berbahaya juga tidak tepat.

Hal yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian bahan, kandungan garam dan gula, serta tekstur makanan. Bayi bisa mulai mengenal beragam rasa melalui MPASI yang diolah dengan aman dan tidak diberi garam atau gula berlebihan.

Jangan pula memberikan makanan yang terlalu pedas hanya untuk membiasakan bayi mengikuti selera keluarga. Utamakan makanan bergizi dengan rasa yang sesuai tahap perkembangannya. Penting untuk membedakan makanan yang benar-benar berisiko dengan makanan yang sekadar perlu disesuaikan.

12. Jus buah lebih sehat daripada buah utuh

Jus buah dalam gelas
Ilustrasi jus buah | Hipwee

Buah mengandung vitamin, mineral, dan serat. Namun, jus buah tidak selalu menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan buah utuh atau buah yang dilumatkan.

Untuk bayi yang baru memulai MPASI, buah matang yang dilumatkan dengan tekstur sesuai usia dapat menjadi pilihan. Jus buah tidak perlu dijadikan minuman rutin untuk memenuhi kebutuhan cairan bayi.

13. Biskuit khusus bayi boleh diberikan sebanyak yang diminta

Bayi memegang biskuit
Ilustrasi bayi makan biskuit | Hipwee

Produk yang dipasarkan untuk bayi tidak otomatis boleh diberikan tanpa batas. Orang tua tetap perlu membaca komposisi, kandungan gula, petunjuk usia, serta tekstur produk. Biskuit juga tidak boleh menggantikan makanan utama yang kaya zat gizi. Jika diberikan sebagai selingan, perhatikan kemampuan bayi mengunyah dan menelan serta risiko tersedak dari teksturnya.

Selain itu, makanan kemasan tidak selalu memiliki kandungan gizi yang sama. Jangan hanya mengandalkan gambar bayi atau tulisan pada kemasan untuk menentukan apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhan anak.

14. Kacang utuh baik untuk melatih bayi mengunyah

Kacang-kacangan utuh dalam mangkuk
Ilustrasi kacang-kacangan | Hipwee

Kacang-kacangan mengandung protein nabati, lemak, dan zat gizi lain. Namun, kacang utuh berisiko menyebabkan tersedak sehingga tidak aman diberikan kepada bayi. Jika ingin memperkenalkan kacang, pilih bentuk yang sesuai, misalnya selai kacang yang dioleskan tipis atau dicampurkan ke makanan hingga tidak terlalu lengket. Hindari memberikan sesendok selai kacang yang kental atau gumpalan besar yang sulit ditelan.

Orang tua juga perlu memperhatikan kemungkinan alergi. Jika bayi memiliki riwayat alergi atau kondisi medis tertentu, konsultasikan cara memperkenalkan makanan tersebut kepada tenaga kesehatan.

15. Kalau bayi mau makan, berarti makanan itu cocok

Bayi makan dengan lahap
Ilustrasi bayi makan dengan lahap | Hipwee

Bayi yang terlihat lahap belum tentu siap menerima semua jenis makanan. Orang tua tetap perlu mempertimbangkan usia, kesiapan perkembangan, kandungan gizi, kebersihan, dan risiko tersedak.

Pemberian MPASI sebaiknya dilakukan secara responsif. Artinya, orang tua mengenali tanda lapar dan kenyang bayi, membantu ketika dibutuhkan, serta tidak memaksa anak menghabiskan makanan.

Jangan pula menganggap bayi yang tidak langsung menunjukkan reaksi buruk berarti makanan tersebut pasti aman. Beberapa risiko, seperti kontaminasi makanan, tidak selalu terlihat saat itu juga.

Cara meluruskan mitos tanpa memicu konflik

Orang tua dan nenek berdiskusi soal makanan bayi

Kalau ada anggota keluarga yang menyarankan makanan tertentu untuk bayi, kamu nggak harus langsung berdebat. Coba jelaskan alasannya dengan tenang, terutama kalau sarannya soal makanan mentah, madu, atau makanan yang diberikan sebelum waktunya. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  1. 1Sepakati aturan makan bayi bersamaBeri tahu keluarga makanan apa yang boleh, yang harus dihindari, dan tekstur yang sesuai usia.
  2. 2Gunakan sumber tepercayaRujuk ke dokter anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Kementerian Kesehatan, atau WHO.
  3. 3Nggak ada pemberian makanan tanpa sepengetahuan orang tuaSetiap pengasuh perlu paham aturan soal ASI, MPASI, obat, dan bahan tambahan.
  4. 4Utamakan konsultasi medisKalau bayi demam, muntah, diare, atau ada keluhan lain, jangan andalkan makanan atau ramuan sebagai pengobatan.
  5. 5Berlakukan aturan yang sama untuk semua pengasuhOrang tua, kakek-nenek, pengasuh, dan anggota keluarga lain jadi punya pemahaman yang sama.

Meluruskan mitos bukan soal siapa yang paling berpengalaman. Tujuannya memastikan setiap orang yang ikut merawat bayi paham risikonya dan tahu kapan harus mencari bantuan medis.

Mitos makanan yang dianggap aman untuk bayi bisa terdengar masuk akal karena sudah turun-temurun. Tapi nggak semua kebiasaan lama sesuai dengan kebutuhan bayi, terutama di masa awal kehidupannya. Kasus Alena jadi pengingat untuk nggak menjadikan makanan sebagai pengganti penanganan medis.

💛 Mom tetap bisa menghargai pengalaman orang tua atau kakek-nenek tanpa harus mengikuti semua sarannya. Untuk urusan makan bayi, utamakan panduan tenaga kesehatan, kebersihan makanan, kematangan bahan, dan kesiapan perkembangan anak.
Bagikan ke yang ikut mengasuh si kecilShare artikel ini ke pasangan, keluarga, atau teman yang sedang merawat bayi, biar makin banyak yang paham pentingnya makanan yang aman sejak dini. Baca juga resep MPASI 6 bulan yang sederhana dan tetap bergizi.
Advertisements

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang vocal coach, content writer, dan author yang menjadikan suara dan tulisan sebagai medium ekspresi, pembelajaran, dan pemulihan. Memiliki ketertarikan besar pada eksplorasi hal-hal baru, proses kreatif, serta kepedulian terhadap kesehatan mental. Percaya bahwa suara, kata, dan empati dapat menciptakan ruang aman untuk bertumbuh, baik secara personal maupun profesional.

Editor

Bisa diajak diskusi panjang lebar tentang kehidupan asal ada segelas kopi di atas meja. Mengubah kafein menjadi inspirasi, lalu merangkainya menjadi cerita. Percaya bahwa ide-ide terbaik selalu datang dari hal-hal yang paling sederhana.