Tahukah kamu, bahwa pada setiap tanggal 1 hingga 7 Agustus diperingati sebagai Pekan Menyusui Dunia alias World Breastfeeding Week? Meski gaungnya mungkin kurang begitu terdengar di Indonesia, momentum yang diinisiasi oleh WABA (World Alliance for Breastfeeding Action) serta didukung oleh WHO, UNICEF dan organiasi lain ini  bertujuan untuk mendorong semangat pemberian ASI demi ibu dan bayi yang sehat.

Ya, walaupun menyusui terkesan semudah membuka baju dan melekatkannya pada anak, kenyataannya ada banyak perjuangan jatuh-bangun ibu di baliknya lo. Mulai dari drama kebimbangan ASI-sufor, bingput sampai perkara infeksi yang mengintai seperti mastitis misalnya. Hmm, apa itu mastitis? Simak ulasannya berikut ini ya!

1. Mastitis merupakan infeksi peradangan pada payudara. Perempuan yang menyusui sangat memiliki potensi untuk mengalami hal ini lo

Mastitis bisa dialami siapa saja via www.popmama.com

Advertisement

Menurut Hallo Sehat, mastitis adalah infeksi yang terjadi pada satu atau lebih pada saluran payudara. Hal ini dapat mengganggu proses pemberian nutrisi kepada bayi karena rasa sakit yang terjadi saat menyusui. Mastitis biasanya terjadi pada ibu menyusui di trimester awal pada 2 hingga 3% wanita, tapi bisa terjadi juga walau sudah lama menyusui lo.

2. Agar tak terlambat menangani dan semakin parah nantinya, kenali dulu yuk gejala-gejalanya supaya lebih waspada

Payudara membengkak via kumparan.com

Dilansir dari AloDokter, ada beberapa gejala mastitis seperti payudara memar kemerahan, sering terasa gatal pada payudara, perih saat menyusui, terdapat benjolan yang menyakitkan, salah satu payudara akan tampak lebih besar karena pembengkakan, puting mengeluarkan nanah, terdapat pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, hingga jika sudah parah ibu menyusui akan mengalami demam.

3. Mastitis disebabkan oleh beberapa hal, bahkan sesepele kesalahan memakai bra lo. Perhatikan deh kebiasaan kamu

Jangan lupa memompa via www.honestdocs.id

Masih menurut AloDokter, penyebab paling umum dari mastitis adalah infeksi bakteri Staphylococcus  dan Streptococcus yang menginfeksi jaringan payudara melalui luka di puting maupun saluran air susu. Sumbatan yang terjadi karena endapan di saluran susu juga bisa menyebabkan infeksi.

Advertisement

Hal-hal lainnya juga dapat menjadi penyebab seperti menyusui hanya dengan satu payudara, memakai bra yang terlalu ketat, kelelahan, gizi yang kurang, frekuensi menyusui yang tidak teratur, dan pengalaman mengalami mastitis juga di masa lalu.

4. Walaupun terdengar menyakitkan, ada kok beberapa cara yang bisa dilakukan untuk pengobatan mastitis

Minum obat via www.workingmother.com

Menurut Hello Sehat, saat mengalami mastitis kamu tidak perlu berhenti menyusui, bahkan kamu bisa sering melakukannya  dengan berganti sisi. Kamu juga bisa mengonsumsi obat pereda sakit seperti ibuprofen. Busui juga bisa mengonsumsi antibiotik yang biasanya akan membutuhkan 10 hingga 14 hari. Walaupun rasa sakit mungkin membaik setelah 24 hingga 48 jam, sebaiknya semua pil tetap dihabiskan.

5. Selain hal-hal tersebut, kamu juga bisa melakukan beberapa langkah mandiri yang bisa diterapkan

Tetap menyusui via www.todaysparent.com

Jika bayimu tidak menyusui dalam jumlah banyak, kamu tetap perlu mengeluarkan ASI dengan memompanya. Kamu juga bisa memijat payudaramu dengan lembut untuk memperlancar ASI. Hindari juga memakai bra yang terlalu ketat. Selain istirahat yang cukup, kamu juga perlu memenuhi kebutuhan cairanmu. Mandi air hangat atau mengompres dengan kain yang direndam air hangat dapat menghilangkan rasa sakit hingga membuat payudara lebih lunak dan ASI lebih lancar lo!

Jika hal-hal tersebut sudah kamu lakukan dan sakitmu tak juga berkurang, ada baiknya kamu memeriksakannya ke dokter untuk mendapat penanganan secara medis.

Selain busui yang harus berjuang dalam melakukan hal ini, dukungan dari orang-orang sekitar terutama yang paling dekat dengan si ibu juga amat sangat diperlukan. Setuju?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya