Menyayat Hati, Ternyata Ini 4 Pengorbanan Laki-Laki Setelah Jadi Suami. Semanis Itu! :(

Pengorbanan suami

Dalam kehidupan berumah tangga, saling terbuka satu sama lain adalah kunci menuju keharmonisan. Setidaknya begitu bunyi wejangan dari mereka yang sudah makan asam garam pernikahan, kepada pasangan yang baru hendak memasuki bahtera rumah tangga. Kenyataannya hal tersebut nggak mutlak. Ada hal-hal dari satu sama lain yang enggak selalu harus diceritakan.

Advertisement

Sebagai contoh, istri yang baru menjadi ibu dan harus terjaga tiap tengah malam untuk menyusui si kecil tentu nggak akan mengeluhkan hal ini kepada suami. Sebaliknya, suami pun punya hal-hal yang jadi pengorbanan, tetapi nggak pernah diceritakan kepada istri. Entah itu soal kerjaan atau kehidupan sosial, seperti 4 berikut ini.

1. Capek menghadapi pekerjaan

Capek kerja | Photo by Tim Gouw on Unsplash

Dunia pekerjaan nggak berputar sesuai keinginan para pekerja. Terkadang seorang suami bisa dengan mudah melewati hari-hari kerja, kadang harus menghadapi hari yang lebih berat karena tenggat lebih ketat dari biasanya, dan target yang diberikan lebih tinggi dari sebelumnya. Lembur pun tak terelakkan karenanya.

Meski begitu, sesampainya di rumah suami tetap harus punya senyum semringah untuk anak dan istri yang menanti. Bukan karena ingin terlihat kuat dan tangguh, melainkan karena tidak ingin menambah beban pikiran istri tentang jerih payah yang ia lakukan demi keluarga terkasih.

Advertisement

2. Rela tidur di ruang tamu meski dingin karena pulang kerja terlalu larut

Tidur di sofa | Photo by Mert Kahveci on Unsplash

Bekerja hingga lembur terkadang memaksa suami pulang larut malam. Terlalu larut hingga tiba di rumah ketika anak dan istri telah tidur pulas. Dalam kondisi ini, tak jarang suami jadi enggan untuk masuk ke kamar. Khawatir bunyi derit gagang dan engsel pintu bikin istri dan anak tercinta tersentak dari tidurnya.

Alhasil, sofa pun jadi kasur paling empuk malam itu. Dingin dan nyamuk yang tiap sebentar hinggap bukan jadi soal. Ketika ditanya keesokan harinya, suami biasanya akan berkilah bilang kalau dia ketiduran. Padahal mah, sengaja tidur di sofa biar enggak mengganggu.

3. Selalu jadi orang pertama yang menerima keluhan

Advertisement

Ilustrasi pasrah disalahkan | Photo by Ketut Subiyanto from Pexels

Nggak melulu suami, sih, satu sama lain dalam rumah tangga bisa jadi orang yang harus pasrah dan tabah menerima keluhan. Bagi suami, keluhan yang sering dialamatkan biasanya seputar kebutuhan dasar rumah tangga, seperti gas yang habis, air galon yang udah kering, atau token listrik yang udah berisik.

Sekalipun sang suami sudah sering mengingatkan istri untuk mengecek segala kebutuhan sebelum benar-benar habis, tetap akan ada masanya ia harus pasrah disalahkan. Alasannya? Biar enggak memicu perdebatan yang nggak perlu. Toh hal-hal seperti itu bisa dengan mudah diselesaikan.

4. Pasrah ketika ada bagian dirinya yang tidak dimengerti istri

Ilustrasi memilih diam daripada berdebat | Photo by Diva Plavalaguna from Pexels

Sama seperti istri, pasangan yang sempurna itu hanya ada di dunia fiksi. Di dunia nyata, masing-masing kita punya kekurangan dan hal-hal yang mungkin nggak dimengerti satu sama lain. Dalam hal ini, suami terkadang memilih pasrah dan diam saja jika ada satu bagian pada dirinya yang nggak dimengerti dan terus dipertanyakan sang istri.

Lagi-lagi, diamnya suami bukan berarti mengamini kalau cara sang istri memaksakan ketidakmengertiannya adalah sesuatu yang benar. Melainkan karena tidak ingin memperlebar masalah, dan ingin saling berlaku bijak saja. Melihat ke dalam diri sendiri menjadi laku paling baik dibanding harus terus memperdebatkan apa yang menjadi keyakinan masing-masing.

Nah, itu dia 4 di antara sekian banyak hal-hal yang menjadi pengorbanan suami, tetapi nggak pernah ia ceritakan atau umbar-umbar kepada istri. Ada yang merasa relate atau punya versi tersendiri? Share yuk!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

get me away from here I'm dying

Editor

Seorang makmum yang taat :)

CLOSE