6 Trik Cerdas Hadapi Suami yang Hobinya Bilang “Terserah”. Komunikasi Aja Belum Cukup!

Sikap terserah suami

“Terserah kamu, aku ngikut aja.”

“Menurut kamu baiknya gimana, aku terserah aja.”

Advertisement

Jawaban “terserah” dari suami jika hanya soal menentukan menu makanan malam atau wangi sabun mandi mungkin bukan masalah. Namun, jawaban semacam itu dalam urusan rumah tangga yang lebih kompleks seperti  menyikapi intervensi orang tua atau memilih sekolah anak, tentu akan membuat istri kesal. Pasalnya, jawaban “terserah” berarti keputusan harus diambil istri tanpa pendapat atau pertimbangan dari suami.

Hal ini akan mengharuskan istri untuk membuat pertimbangan sendiri, menentukan keputusan sendiri, bahkan mengambil langkah sendiri. Sementara suami hanya akan mengikuti istri apa pun keputusannya. Jika hal ini terus dibiarkan dan istri merasa keberatan, akibatnya ia mudah kelelahan dalam mengambil sikap, bahkan bisa lebih buruk lagi misalnya terjadi disfungsi peran dalam keluarga.

Sikap suami yang serba terserah biasanya karena ia mudah bimbang dan kurang bisa tegas dalam mengambil keputusan. Akhirnya melimpahkan segala pertimbangan dan keputusan di tangan istri. Lalu, bagaimana sebaiknya sikap yang harus istri ambil dalam menghadapi suami yang serba terserah saat dimintai pendapat? Yuk simak informasi berikut!

Advertisement

1. Sebelum mengambil sikap, sebaiknya istri mencari tahu lebih dulu alasan di balik sikap suami yang sukanya serba terserah

Cari tahu alasannya | Credit by Freepik on Freepik

Percaya deh, setiap orang pasti memiliki alasan atau penyebab yang membentuk sikap dan perilakunya. Begitu juga sikap suami yang sukanya serba terserah. Coba cari tahu dulu alasan sikap suami yang demikian. Cara mencari tahunya bisa dengan menanyakan langsung secara terbuka, tanpa menghakimi dan menyudutkan. Bisa juga dengan mengamati sendiri sikapnya setiap kali dimintai pendapat. Setelah diketahui alasan di balik sikap tersebut, cobalah untuk menerima apapun alasannya supaya lebih mudah mencari jalan keluar.

2. Bicara dari hati ke hati untuk menentukan batasan, seperti apa saja keputusan yang harus diambil bersama dan apa yang bisa ditangani istri sendiri

Bicara dari hati ke hati | Credit by Our-team on Freepik

Setelah menerima alasan dari sikap suami yang serba terserah, cobalah untuk memberinya pengertian bahwa sebagai istri, Moms juga butuh sikap tegas dari suami. Bicaralah dari hati ke hati mulai dari mengungkapkan ketidaknyamanan sikap masing-masing dan terbuka terhadap kritikan. Jika sudah bisa saling memahami, coba buat batasan sejauh mana suami boleh bersikap terserah, kemudian buat kesepakatan bersama.

3. Bantu suami untuk menghadapi keraguan, meyakinkannya dan beri kepercayaan penuh padanya dalam mengambil keputusan

Bantu menghadapi keraguan, yakinkan dan beri kepercayaan | Credit by Katemangostar on Freepik

Jawaban terserah dari suami bisa jadi tanda bahwa ia ragu-ragu dengan keputusannya sendiri. Jika hal ini yang terjadi, maka sebagai istri Moms harus bisa membantu suami untuk menghadapi keragu-raguannya. Misalnya dengan meyakinkan bahwa Moms akan selalu mendukung keputusan tersebut. Selain itu, Moms juga harus membantu suami untuk lebih yakin dengan keputusannya. Misalnya dengan membantunya mencari hal positif dari keputusan tersebut. Di sini, dukungan dan kepercayaan istri sangat penting supaya suami lebih yakin akan keputusannya.

Advertisement

4. Mulai dari hal kecil untuk mendorong suami mengurangi sikap serba terserahnya. Beri dukungan dan kepercayaan saat ia membuat keputusan!

Dorong suami membuat keputusan dari hal-hal kecil | Credit by Yanalya on Freepik

Komunikasi dan pengertian saja nggak cukup untuk membantu suami bisa tegas dengan keputusannya tanpa menggunakan senjata “terserah”. Maka dari itu butuh diberi dorongan supaya ia terbiasa yakin dengan keputusannya. Misalnya minta suami menentukan tempat membeli mainan anak, menentukan nominal uang yang akan dikirim ke orang tua, membuat jadwal berkunjung ke rumah orang tua dan sebagainya. Jangan lupa dukung suami apa pun keputusannya dan jangan pernah menyalahkannya jika terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.

5. Terapkan pada diri masing-masing untuk bisa saling menerima kekurangan dan saling melengkapi satu sama lain

Saling menerima dan melengkapi |Credit by Wayhomestudio on Freepik

Sebenarnya sikap serba terserah juga bisa terjadi pada istri. Hal ini karena setiap individu memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Misalnya suami paling nggak bisa memberikan keputusan tentang pola asuh anak, sehingga ia bersikap terserah terkait hal tersebut. Dilain sisi, istri kurang paham tentang keuangan sehingga ia mengambil sikap terserah soal uang belanja.

Sebagai pasangan, sudah seharusnya bisa menerima kekurangan tersebut dan saling melengkapi dengan cara mengambil alih keputusan-keputusan yang harusnya diambil bersama. Meski begitu, tetap harus dikomunikasikan sesuai batasan yang sudah disepakati. Jadi bukan berarti bisa diputuskan sepihak saja, karena tetap harus didiskusikan bersama.

6. Jika beberapa cara di atas sudah diterapkan, dan Moms sudah mencoba terus bersabar tapi sikap suami nggak bisa dikompromi lagi, cobalah minta bantuan pihak ketiga

Bantuan orang ketiga | Credit by Prostooleh on Freepik

Jangan ragu minta bantuan pihak ketiga untuk membantu Moms menghadapi sikap suami yang serba terserah. Cara ini bisa dilakukan jika Moms sudah mencoba berdiskusi, memahami dan upaya lainnya tapi suami tetap sulit berubah. Pihak ketiga bisa saja dari lingkungan keluarga, misalnya saudara kandung suami atau mertua Moms yang bisa membantu untuk menasihatinya. Bisa juga pihak ketiga berasal dari ahli profesional misalnya psikolog atau konselor perkawinan.

Nah, itulah cara menghadapi sikap terserah suami yang bisa Moms terapkan. Bisa juga diadaptasi dan dimodifikasi sendiri sesuai dengan nilai-nilai yang diterapkan dalam keluarga. Sebab, pada intinya dalam mengahadapi sikap suami yang serba terserah dan kurang tegas dalam mengambil kebutusan butuh penerimaan, pengertian, dorongan, dukungan dan kepercayaan dari istri.

Selain itu, istri juga harus lebih sabar dan konsisten untuk menerapkannya.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Seorang makmum yang taat :)

CLOSE