Masih segar di ingatan kita tentang video viral yang memperlihatkan tindakan bullying terhadap seorang mahasiswa Universitas Gunadarma beberapa hari yang lalu. Korban bully bahkan kemudian diketahui adalah mahasiswa berkebutuhan khusus yang menderita autisme. Dalam video tersebut terlihat bagaimana korban  berinisial MF, ditarik-tarik tas nya oleh pelaku hingga ia tidak bisa berjalan. Sementara banyak mahasiswa yang menyaksikannya pun mentertawai dan tidak menolongnya.

Miris sih kalau ini harus jadi gambaran dari kehidupan mahasiswa di Indonesia. Bukan hanya masalah bullying yang tampaknya terjadi di hampir semua jenjang pendidikan di negeri ini, tapi juga rendahnya kesadaran masyarakat kita tentang autisme. Mereka dengan autisme seharusnya dibantu untuk lebih bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, justru seringkali jadi sasaran bully karena pembawaan diri yang berbeda. Yuk belajar bersama untuk menghormati sesama, termasuk mereka yang mungkin punya kebutuhan khusus.

Meski mungkin bagi pelaku, ejekan mereka hanyalah hal sepele atau sekadar lucu-lucuan. Tapi nyatanya dampak bullying itu jangka panjang, korbannya mendapat luka mental selama-lamanya

Bahaya laten dalam pergaulan anak-anak sekolah. Ironisnya, mereka tidak sadar dampaknya  via studybreaks.com

Pada 2015 riset yang dilakukan oleh IRCW (International Research Center for Women) menyebutkan bahwa 84% anak di Indonesia dari tingkat SD hingga SMA pernah menjadi korban bully. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain di Asia. Bully dapat bersifat verbal dan nonverbal yang bisa mengakibatkan korbannya stres, kehilangan percaya diri, bahkan tidak sedikit yang sampai bunuh diri. Pembinaan terhadap pergaulan anak-anak mungkin saat ini sangat dibutuhkan. Tentu saja juga harus dengan pendampingan orang tua.

Terlebih lagi ketika alasan bullying-nya, seperti kasus di Universitas Gunadarma kemarin. Mahasiswa dengan autisme diolok-olok di depan umum, hanya karena dia autis

Padahal itu berada di luar kuasanya via jateng.tribunnews.com

Advertisement

Menilik dari kasus yang telah terjadi, pada kenyataannya masyarakat kita memang tidak memahami betul mengenai autisme. Sikap dan perilaku anak berkebutuhan khusus yang terkadang memang berbeda dari orang kebanyakan, membuat mereka tampak mencolok diantara pergaulannya. Hal inilah yang munkin membuat mereka rawan menjadi bahan olok-olokan.

Pihak universitas memang berjanji segera mengusut tuntas kasus ini. Sampai berita ini diturunkan, beberapa mahasiswa yang terkait kasus bully sudah mengunjungi rumah MF dan menunjukkan itikad baik dengn meminta maaf, namun proses sanksi terhadap kasus ini tetap akan dilanjutkan.

Minimnya pengetahuan masyarakat tetang autisme, anak berkebutuhan khusus justru dianggap sebagai ‘orang aneh’

Anak berkebutuhan khusus via www.sudouest.fr

Autisme merupakan sebuah gangguan genetik yang menyerang bagian otak. Penderita seringnya sulit berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain. Seorang anak mungkin tampak memiliki obsesi terhadap objek tertentu, sulit belajar berbicara, dan sangat emosional jika terjadi perubahan rutinitas. Dalam hal ini otak gagal bekerja sama, sehingga terkadang meskipun nampaknya tuli, sebenarnya seseorang yang autis tidak mengalami gangguan pendengaran.

Melihat autisme yang merupakan gangguan genetik tersebut, rasanya kurang etis jika kita mengolok-olok anak dengan kebutuhan khusus tersebut. Autisme berbeda dengan gangguan kejiwaan, meskipun mengolok-olok orang dengan gangguan jiwa juga bukan hal yang tepat. Kurangnya pengetahuan masyarakat seputar autisme ini mendorong pergaulan kita untuk meminggirkan anak autis dan menjadikannya bahan untuk bercanda. Padahal anak autisme juga bisa merasakan dan memahami bagaimana ia selalu dijadikan objek oleh kawan-kawannya.

Autisme dan istilah “autis” bukanlah sebuah ejekan dan bahan olokan. Meski dari luar mungkin tampak ‘aneh’, anak-anak autis justru diyakini punya potensi luar biasa jika berhasil dimengerti

Jangan gunakan kata autis sebagai ejekan via www.greatschools.org

Beberapa waktu yang lalu sempat ramai olok-olokan atau ejekan “autis” yang ditujukan kepada kawan mereka yang sifatnya selalu aneh, meskipun pada kenyataannya anak yang diejek tersebut tidak sungguh-sungguh tergolong autis. Kata “autis” pun disetarakan dengan makian “bodoh” atau “idiot”. Padahal itu sama sekali  tidak tepat. Anak-anak autis justru nyatanya seringkali menyembunyikan potensi luar biasa di berbagai bidang. Dengan bimbingan yang tepat dan lingkungan yang mendukung, banyak anak atau orang dengan autis tumbuh jadi jenius.

Dari luar, penderita autisme memang tampak atau seringkali berperilaku berbeda dari yang lain. Tapi itu tidak berarti, mereka ‘pantas’ diperlakukan lebih rendah atau bisa seenaknya dihujani makian.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya