Miris banget kisah seorang istri di Bangladesh ini. Hanya karena ingin mengenyam pendidikan, dia harus belajar menulis dengan tangan kiri karena kelima jari kanannya sudah hilang. Seperti yang diulas oleh Dailymail, Rafiqul Islam yang baru pulang dari bekerja di Arab Saudi memotong jari istinya Hawa Akhter yang ketahuan melanjutkan pendidikan diam-diam. Mirisnya lagi, aksinya itu didahului oleh sebuah adegan romantis.

Rafiqul menutup mata Hawa, mengikat tangannya, memplester mulutnya, dan berbisik bahwa dia punya kejutan. Alih-alih kejutan yang romantis, Rafiqul justru memotong kelima jari Hawa dan membuang potongannya ke tempat sampah supaya dokter tidak bisa menyambungnya lagi. Kepada polisi, sang suami mengaku bahwa dia cemburu karena sang istri menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Akibat sistem patriarki yang terlalu lama, perempuan memang masih sering dipinggirkan. Dilarang mengenyam pendidikan dan berpartisipasi di dunia luas. Padahal pendidikan adalah sebuah jendela dunia, dan siapapun berhak mengenyamnya. Sungguh kelewatan kalau hanya karena ingin belajar, sampai harus dipotong jarinya.

Memang kejadian itu jauh di Bangladesh sana. Tapi tak dipungkiri di sekitar kita banyak juga contohnya

Pendidikan adalah hak setiap orang via edujesuit.org

Tak perlu jauh-jauh ke Bangladesh. Di Indonesia pun masih banyak perempuan yang kesulitan melanjutkan pendidikan. Terutama di daerah pinggiran, perempuan masih sering dianggap warga negara kelas dua. Perempuan masih sering dianggap tak perlu mengenyam pendidikan tinggi-tinggi. Toh nanti setiap bulannya dinafkahi suami. Sementara menjadi ibu tak perlu gelar sarjana, yang penting bisa ngurus anak saja. Topik kesetaraan memang belum sepenuhnya terselesaikan. Masih banyak perempuan yang tersingkirkan, perjuangan kesetaraan masih panjang.

Apalagi katanya pendidikan tinggi dan sifat yang mandiri bikin cowok malas mendekati. Tapi masa cewek juga harus mengurusi gengsi lelaki?

Advertisement

Cewek cerdas dan mandiri katanya ditakuti via unsplash.com

Seperti pengakuan Rafiqul, amarah dan cemburunya muncul karena pendidikan sang istri lebih tinggi. Mungkin dia merasa kalah dan sang istri tidak akan mau menghormatinya lagi. Mau tidak mau hal ini jadi mengingatkan tentang tweet seorang tokoh pria di Indonesia yang lumayan terkenal. Intinya, beliau mengingatkan bahwa bila cewek telalu cerdas, mandiri, dan bisa apa-apa sendiri, cowok-cowok akan kabur dan malas mendekati. Hal ini tentunya bikin kaum hawa bertanya-tanya. Masa iya kita harus jadi sosok yang lemah, nggak bisa apa-apa, nggak tahu apa-apa, dan selalu bergantung pada pria supaya bisa disegerakan jodohnya?

Padahal apapun profesinya kelak, sebagai calon ibu memang harus cerdas. Jadi tak seharusnya akses pendidikannya terbatas

Seorang Ibu harus cerdas via id.pinterest.com

Ada penelitian yang menyebutkan bahwa kecerdasan anak diturunkan dari ibu. Karena itu, ibu yang cerdas akan melahirkan anak yang cerdas pula. Membesarkan anak memang tidak bisa sembarangan. Begitu juga mengatur rumah tangga dan menjadi bagian dari partner dalam berkeluarga. Memang sekolah bukan satu-satunya sarana mencari ilmu. Lagipula ilmu menjadi ibu yang baik tidak diajarkan di bangku sekolahan. Namun pendidikan tinggi bisa menjadi jalan untuk berlatih banyak skill. Termasuk logika dan cara menghargai diri sendiri.
Apakah pendidikan tinggi dan sikap mandiri membuat kita dijauhi lelaki? Ah, tergantung bagaimana memandangnya. Tentunya lelaki yang tak berani mendekati hanya karena gebetannya mandiri dan bisa apa-apa sendiri jelas bukan sosok yang tidak punya semangat juang. Pria yang terintimidasi hanya karena pasangannya lebih berpendidikan diri tentu bukan sosok yang bisa menghargai dirinya sendiri. Keduanya tidak perlu dipikirkan.

Saat ini, Hawa Akhter tetap bertekad melanjutkan pendidikannya meski sudah kehilangan kelima jari. Jadi jangan mau kalah ya, ladies, Jangan pernah ragu untuk belajar dan menuntut ilmu ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya