Para penikmat film bergenre horor dan thriller, saat ini sedang ‘dimanjakan’ dengan kemunculan film “It” di bioskop-bioskop seluruh dunia, termasuk Indonesia. Film yang sudah tayang sejak 8 September kemarin ini, berkisah tentang seorang badut seram yang meneror sekelompok anak kecil di kota Derry. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Stephen King yang dirilis tahun 1986 silam. Meski hanya fiksi, teror badut Pennywise yang kembali tiap 27 tahun sekali ini bahkan berkembang jadi semacam urban legend yang ditakuti banyak orang.

Film dan novel Stephen King ini ternyata memang punya dampak besar secara sosial. Bahkan bagi badut-badut beneran di dunia nyata. Bukannya senang karena film tentang badut meledak di pasaran, sebagaimana dilansir dari Vice, badut-badut profesional di Kanada malah protes besar-besaran menentang film tersebut. Pasalnya, pekerjaan mereka untuk menghibur di ulang tahun atau acara perayaan lainnya, menurun drastis karena kini orang-orang merasa badut itu lebih menyeramkan daripada menggemaskan.

Tapi sebenarnya, novel ‘It’ bukan satu-satunya sebab awal mula badut dianggap jadi sosok mengerikan lho. Daripada penasaran, yuk simak dulu ulasan Hipwee News & Feature kali ini!

Awalnya badut dikenal sebagai sosok yang lucu, ceria, dan menghibur, membuatnya menjadi ikon komedi yang banyak disukai anak kecil

Badut biasa disewa untuk menghibur via time.com

“SEWA BADUT ULANG TAHUN. Hub 081234567xx”

Advertisement

Mungkin kamu termasuk orang yang sering melihat brosur seperti di atas, saat sedang berkendara di jalanan. Ini karena memang badut identik dengan pesta ulang tahun anak-anak karena sosoknya yang lucu, ceria, dan menyenangkan. Sedangkan kata ‘”clown” dalam Bahasa Inggris selain memiliki arti sebagai badut, kata tersebut juga bisa merujuk pada “seorang yang bodoh, atau tidak kompeten”. Di dunia sirkus sendiri, karakter badut hampir tak pernah absen untuk ikut menghibur penontonnya. Ia jadi sosok yang mudah dikenali karena dandanannya yang heboh dan nyentrik. Konsep badut dan sirkus awalnya dibawa oleh Joseph Grimaldi pada tahun 1800-an. Sejak itu, badut jadi bagian tak terpisahkan dalam industri hiburan dan sirkus.

Semua berubah ketika tahun 1970-an seorang pembunuh dan pemerkosa di AS menggunakan kostum badut saat sedang menyamar

John Wayne Gacy via didyouknowfacts.com

John Wayne Gacy, adalah orang yang mengawali perubahan persepsi tentang sosok badut dari lucu, ceria, dan penuh komedi, jadi sosok yang menakutkan. Gacy, atau yang sering dijuluki ‘killer clown‘ ini dihukum mati pada 1994 lalu setelah memperkosa dan membunuh remaja pria di Illinois, AS, sejak tahun 1972-1978. 26 dari 33 korbannya dikubur di rumahnya sendiri. Sebelum polisi mengetahui perbuatannya ini, Gacy justru aktif di kegiatan-kegiatan sosial seperti parade, penggalangan dana, atau pesta anak-anak. Ia kerap menggunakan kostum Pogo the Clown, karakter buatannya sendiri.

Seolah semakin menegaskan citra badut yang menakutkan, tahun 1986 keluar novel ‘It’ karangan Stephen King dengan tokoh antagonis utama seorang badut

Karakter Pennywise dalam film ‘It’ via www.inverse.com

Ditangkapnya Gacy nyatanya nggak mengakhiri citra badut yang sudah terlanjur buruk. Pada 1986, Stephen King menerbitkan buku bergenre horor thriller berjudul ‘It’, seolah-olah semakin menegaskan bahwa badut memang patut dihindari. Novel ini memunculkan protes keras di kalangan para badut profesional yang biasa tergabung di klub sirkus. Ya, gimana nggak, bisnis badut ini jadi lesu dan terus mengalami penurunan omzet karena anak-anak tak lagi menyukai badut. Mereka jadi jarang dipanggil untuk menghibur di pesta atau perayaan lainnya.

Apalagi novel ‘It’ milik Stephen King ini bukan satu-satunya karya yang menggambarkan badut sebagai sosok menyeramkan. Pada 1998 ada film The Clown at Midnight, Camp Blood pada 1999, dan Clown pada 2014. Dalam musim keempat serial American Horror Story (2014-2015), sutradara juga memunculkan sosok badut pembunuh bernama Twisty the Clown.

Ketakutan pada badut semakin nyata sejak dunia psikologi mengakuinya sebagai coulrophobia

Coulrophobia via www.healthtopia.net

Dalam dunia psikologi, fobia pada badut disebut sebagai coulrophobia. Bisa jadi awalnya para psikolog menyadari fobia itu karena saking banyaknya orang yang takut dengan badut. Istilah coulrophobia bahkan masuk dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM-IV) di kategori fobia spesifik. Psikolog asal Kanada, Rami Nader, mempelajari jenis fobia ini dan mengungkapkan bahwa kostum serta dandanan badut kerap jadi alasan kenapa orang bisa punya ketakutan irasional pada sosok satu itu.

Beberapa negara bahkan menerapkan hukuman pidana pada setiap orang yang sengaja menggunakan kostum badut untuk menakut-nakuti

Badut dalam prank video di Youtube via www.worldstarhiphop.com

Ketakutan pada badut sampai membuat banyak anak muda membuat prank video dan mengunggahnya di banyak media sosial, khususnya YouTube. Mereka menggunakan kostum badut dan menakut-nakuti orang lain kemudian diabadikan melalui video. Tapi ternyata nggak sedikit penjahat yang melakukan tindak kriminal dengan menggunakan kostum badut, di dunia nyata. Seorang anak lelaki berusia 16 tahun pernah ditikam orang berkostum badut di Pennsylvania, AS. Saking seringnya kostum badut disalahgunakan untuk hal yang tidak-tidak, beberapa negara sampai memberlakukan hukuman pidana bagi siapapun yang sengaja menakut-nakuti orang lain menggunakan kostum badut, seperti Jerman, Inggris, dan AS.

Kalau rasa trauma sama badut sudah separah ini menjangkit banyak orang, industri hiburan yang memakai karakter badut sebagai ‘senjata’nya tinggal tunggu waktu gulung tikar aja sih. Kasihan ya…

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya