Baru-baru ini, The World’s Most Literate Nations (WMLN) merilis daftar panjang negara-negara dengan peringkat literasi di dunia. Penelitian ini dilakukan oleh Jhon W. Miller, Presiden Central Connecticut State University, New Britain. Hasil dari penelitian ini menempatkan Finlandia sebagai negara paling literat atau terpelajar di dunia.

Sementara Indonesia mesti bersabar karena masih menduduki peringkat ke-61, satu kursi lebih tinggi dari Botswana. Walau begitu, kita masih bisa berbenah dan belajar banyak dari Finlandia, yang sistem pendidikannya ini memang diakui merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Dengan lingkungan yang mereka dapatkan sejak kecil hingga dewasa, inilah mengapa orang-orang Finlandia bisa begitu gemar membaca.

1. Ada maternity package yang diberikan kepada orang tua yang baru memiliki bayi. Termasuk di dalamnya buku-buku

maternity package via imgur.com

Pemerintah Finlandia benar-benar mendukung pendidikan anak sejak dini. Keluarga jadi gerbang pendidikan awal untuk anak, terutama dalam tahap belajar dalam usia dini. Oleh karena itu, setiap keluarga yang baru memiliki bayi berhak mendapatkan bingkisan paket perkembangan anak. Isinya adalah berbagai keperluan bayi seperti pakaian bayi, mainan, juga buku bacaan untuk untuk ibu, ayah, dan bayi itu sendiri.

2. Perpustakaan ada di mana-mana, tidak ada alasan untuk tidak sempat membaca

Advertisement

perpustakaan Finlandia via ollilaasanen.wordpress.com

Boleh dibilang, perpustakaan adalah institusi budaya yang jadi kebanggaan orang-orang Finlandia. Setiap tahun, jumlah buku yang dipinjam dari perpustakaan umum selalu tinggi. Finlandia menerbitkan lebih banyak buku anak-anak daripada negara lainnya, sehingga stok buku-buku baru yang sesuai dengan rentang usia selalu tersedia.

Petugas perpustakaan yang bertugas di sana merupakan lulusan terdidik yang dengan senang hati menjadi referensi tambahan bagi tamu yang ingin bertanya.  Selain ada perpustakaan keliling untuk daerah yang sulit dijangkau, Finlandia juga tak asing dengan perpustakaan yang menyatu dengan mall. Ibu-ibu yang sedang berbelanja bisa meninggalkan anaknya di perpustakaan untuk membaca.

3. Sekolah baru dimulai pada usia tujuh tahun. Budaya baca didorong turun-temurun

belajar sambil bermain via www.smithsonianmag.com

Anak-anak baru mulai bersekolah ketika mereka berumur tujuh tahun atau setelahnya. Guru-guru sekolah adalah lulusan master dengan kompetensi yang sudah teruji. Alih-alih berfokus pada tes dan nilai, sistem pendidikan di Finlandia lebih menekankan pembelajaran dengan metode bermain, berimajinasi, dan self-discovery. Mereka lebih menekankan kolaborasi daripada kompetisi.

Setelah bersekolah, setiap anak diwajibkan belajar bahasa Inggris dan membaca satu buku setiap minggu. Alih-alih menjadi beban pelajaran kelas semata, sistem pendidikan seperti ini membantu budaya baca tumbuh jadi kultur masyarakat Finlandia.

5. Demi kedekatan dan pengetahuan, dongeng sebelum tidur jadi tradisi penting dalam keluarga

dongeng sebelum tidur via www.mirror.co.uk

Kultur bercerita sudah jadi tradisi orang-orang Finlandia dari masa ke masa. Dongeng folk dan mitologi Finlandia diceritakan untuk membentuk karakter anak, misalnya memperkenalkan dengan hal-hal yang baik dan buruk, menghormati orang tua, dan menghargai sesama.

Lewat tradisi bercerita ini, minat baca terpupuk sejak dini. Selain itu, keaktifan orang tua sebagai penunjang belajar anak pun dapat terus berjalan. Tradisi inilah yang membuat minat baca dalam keluarga menjadi berkembang.

6. Program TV yang berasal dari luar tidak dialihsuarakan, hanya diberi teks terjemahan

nonton tv via www.dailymail.co.uk

Dubbing atau alihsuara untuk program-program asing bagi kita mungkin sudah jadi hal biasa. Lain halnya di Finlandia. Mereka lebih memilih mencantumkan subtitles atau teks terjemahan di tayangan asing yang tampil di TV.

Tujuannya adalah meningkatkan kebiasaan membaca pada anak. Jika mereka ingin mengetahui kelanjutan kisah superhero favorit mereka, tentunya mereka harus bisa membaca dengan cepat.

Finlandia memang sudah membuktikan hasil dari revolusi pendidikannya. Generasi cerdas dan terpelajar yang lahir dari minat baca yang tinggi, memang patut diacungi jempol. Tentu saja ini adalah hasil dari proses yang sangat panjang, dengan keterlibatan banyak pihak yang saling berkolaborasi.

Kalau Indonesia saat ini masih di peringkat dua dari bawah, tidak perlu berkecil hati. Masih banyak hal yang bisa kita contoh serta kita terapkan sesuai dengan kesesuaian budaya kita. Semoga generasi kita dan seterusnya mulai tergerak untuk lebih giat membaca, belajar dari Finlandia. 🙂