“Perang bisa terjadi karena hoax.” – Jusuf Kalla

Ya, perkara hoax memang seserius itu. Sama halnya dengan rudal nuklir, hoax atau berita palsu juga bisa menyebabkan peperangan atau perpecahan lho. Padahal kalau dipikir-pikir nggak butuh tenaga dan waktu ekstra buat bisa menghasilkan hoax. Tapi efek sesudahnya nggak kalah ‘mematikan’. Seperti apa yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Berita palsu layaknya sebuah virus yang tersebar begitu cepat, melalui berbagai platform informasi.

Semenjak teknologi mendunia, informasi memang jadi terasa lebih mudah dan cepat diperoleh. Hanya dengan bermodal gawai dan koneksi internet, kamu bisa memilih mau mengonsumsi informasi dari belahan dunia manapun. Kamu nggak akan lagi kesulitan update berita soal badai Harvey yang melanda Amerika Serikat kemarin, meski letaknya nun jauh di sana. Selama informasi yang diperoleh benar dan bermanfaat sih, rasanya nggak ada yang salah dengan menjadi konsumen berita. Tapi kalau infonya palsu, apalagi sampai menimbulkan keresahan dan memakan korban, jelas ada yang salah di situ.

Kali ini Hipwee News & Feature sudah merangkum beberapa kasus hoax yang sampai memakan korban. Salah satunya yang baru terjadi semalam (17/9), di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Jakarta. Biar tambah waspada dan bisa membedakan, yuk simak!

Alih-alih melapor ke pihak berwajib, massa yang termakan isu pagelaran acara PKI malah memilih langsung mengepung kantor YLBHI, di Menteng, Jakarta Pusat

Salah satu pendemo membawa spanduk provokasi via kumparan.com

Advertisement

Dini hari kemarin, terjadi kericuhan di depan kantor YLBHI yang melibatkan sekitar 50an orang. Mereka mengklaim diri mereka sebagai kelompok anti komunis. Sekelompok massa itu berusaha membubarkan acara yang sedang berlangsung di sana sejak Minggu sore. Sambil berusaha memasuki gedung YLBHI, mereka terus berteriak, “Ganyang PKI! Bubarkan PKI!”.

Demonstrasi ini dilakukan setelah ada desas desus yang mengatakan kalau YLBHI memfasilitasi penyelenggaraan acara yang berbau PKI. Berita itu secara cepat menyebar di media sosial, lengkap dengan seruan untuk mengepung YLBHI Jakarta. Padahal seperti dilansir Kompas, Ketua Bidang Advokasi YLBHI Muhammad Isnur mengatakan kalau pihaknya sedang mengadakan acara diskusi dan pagelaran seni soal darurat demokrasi. Acara ini turut dihadiri seniman, budayawan, aktivis, dan akademisi.

Kalaupun masyarakat resah soal isu kebangkitan komunis, kan sebaiknya diserahkan ke pihak berwajib supaya bisa dilakukan investigasi sesuai prosedur. Bukannya malah menyerang langsung tanpa tedeng aling-aling. Atau jangan-jangan kepercayaan masyarakat pada aparat kepolisian saat ini sudah perlahan memudar?

Pejabat kepolisian memilih melakukan investigasi langsung ke dalam gedung. Meski sudah diselidiki, tanda-tanda kegiatan PKI tak ditemukan

Beberapa pejabat kepolisian seperti Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Suyudi, dan Dandim Jakarta Pusat, Letkol Edwin Adrian, mendatangi langsung lokasi untuk menenangkan massa yang saat itu semakin beringas. Mereka juga sudah mengklarifikasi, memeriksa, dan mengawasi langsung ke dalam gedung, tapi bukti-bukti yang menunjukkan acara tersebut berkaitan dengan PKI, tak ditemukan sedikitpun. Meski pihaknya sudah menjelaskan, tapi massa memilih tidak percaya dan malah melawan aparat. Akibatnya terjadi bentrok antara polisi dan massa. Sekitar pukul 02.00 WIB, massa baru bisa dipukul mundur setelah polisi menyemprot water canon dan gas air mata.

Sementara di dalam YLBHI sendiri tak kalah mencekam. Banyak tamu acara yang histeris, panik, bahkan sampai pingsan. Masalahnya orang-orang yang ada di sana nggak cuma pemuda-pemuda saja, melainkan juga para lansia.

Berita palsu kian meresahkan, parahnya sampai sering memakan korban meninggal. Masih ingat isu orang gila penculik anak beberapa waktu lalu?

Isu penculikan anak via www.spirit.id

Tentu saja kejadian di atas bukan yang pertama kali terjadi. Sekitar Maret 2017 lalu, terhembus isu penculikan anak dengan modus pelaku yang pura-pura jadi orang gila. Secara cepat berita tak bersumber itu pun viral di media sosial. Selama lebih dari sepekan, sejumlah orang dengan gangguan jiwa menjadi korban amukan warga yang termakan isu ngawur tersebut. Beberapa bahkan sampai meregang nyawa. Kejadian ini berlangsung di berbagai kota seperti Surabaya, Cilegon, Cirebon, Depok, Banjarnegara, hingga Sumenep. Ya inilah yang terjadi kalau otak terlalu tumpul, segala informasi ditelan mentah-mentah, tanpa merasa perlu dicek kebenerannya.

Belum lagi tabiat masyarakat Indonesia yang suka main hakim sendiri, membuat semakin banyak orang dirugikan karena dituduh ini itu

Main hakim sendiri via plus.kapanlagi.com

Entah apa yang ada di pikiran orang-orang yang hobi main hakim sendiri. Semurka-murkanya mereka pada orang lain, terlepas dia memang pelaku kejahatan atau bukan, sewajarnya dan semanusiawinya ya nggak perlu lah sampai menghakimi sendiri. Apalagi sampai membuat tertuduh babak belur hingga kehilangan nyawa.

Beberapa waktu lalu, di Pontianak juga pernah ada kasus serupa. Korban dicurigai sebagai pelaku setelah warga termakan info palsu soal penculikan anak dari pesan berantai. Warga saat itu menilai dari gerak-gerik korban yang tampak kebingungan. Padahal saat itu ia sedang mencari rumah anaknya. Tanpa ba-bi-bu, warga pun mengeroyoknya hingga babak belur hingga meninggal dunia.

Imajinasi anak kecil bahkan pernah jadi sumber berita palsu. Didukung dengan kelebihan teknologi yang memungkinkan informasi bisa tersebar lebih cepat

Pengakuan palsu anak SD Tanjung Duren via news.detik.com

Berita palsu bisa bersumber dari manapun, termasuk dari imajinasi anak kecil. Baru kemarin, media sosial dihebohkan dengan video anak SD di Tanjung Duren, Jakarta, yang mengaku berhasil lepas dari percobaan penculikan setelah dirinya menggigit pelaku. Berita tersebut sontak tersebar secara masif, membuat banyak orang tua jadi khawatir. Tak hanya itu, anak tersebut juga mengaku melihat anak laki-laki yang terikat tangannya serta mulutnya ditutup lakban, di mobil pelaku. Setelah dilakukan penelusuran, nyatanya kabar tersebut tak lain hanyalah imajinasi anak tersebut, alias hoax.

Kejadian serupa juga pernah terjadi di Riau. Seorang anak kelas 5 SD mengaku dimasukkan ke dalam mobil oleh lima orang tak dikenal. Dia mengaku selamat setelah meronta-ronta dan berteriak. Pengakuannya jelas membuat pihak sekolah maupun para orang tua di sana ketakutan. Tapi lagi-lagi cerita tersebut hanyalah fiktif belaka.

Kalau lebih ditelisik, bukan nggak mungkin hoax malah sengaja disebar untuk mengalihkan isu lain yang sebenarnya jauh lebih penting dibahas. Saat ini berbagai pihak sudah banyak melakukan sesuatu untuk mencegah hoax tersebar. Semoga saja masalah yang ‘diam-diam mematikan’ ini bisa segera teratasi ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya