Yang galau karena masih jomblo, kamu jelas tidak sendirian! Menurut riset yang dilakukan Tempo, tahun 2015 lalu populasi jomblo di Indonesia mencapai 52 juta! Di waktu yang sama, Zola Yoana, pendiri Heart Inc mengungkapkan bahwa setiap tahun dari 2010 hingga 2014, jumlah tuna asmara di Indonesia meningkat 2%. Kurang jelas juga apa penyebab dari banyaknya tuna asmara. Tapi semakin lama bau-baunya generasi muda memang semakin malas berurusan dengan asmara.

Nah apa yang terjadi di luar negeri ini lebih menarik lagi. Banyak yang bukan lagi jomblo karena terpaksa, tapi justru pilihan. Tidak hanya semakin menikmati hidup sendiri, ternyata ada juga orang yang sampai memutuskan untuk menikahi dirinya sendiri. Beneran deh, mereka melamar diri sendiri, mengucap janji suci kepada diri sendiri, dan tukar cincin dengan diri sendiri. Seperti kisah yang diliput The Telegraph, seorang perempuan Taiwan yang menikahi diri sendiri yang istilahnya disebut ‘sologami’.

Sekilas memang terdengar kurang masuk di nalar. Tapi hal ini benar-benar kejadian. Kalau melihat tren naiknya populasi jomblo di Indonesia, kira-kira apakah sologami atau menikahi diri sendiri ini bisa juga jadi tren di sini ya? Simak deh ulasan Hipwee News & Feature ini.

Saking ngetrennya, ada pelaku sologami di California yang membuka biro nikah. Tentunya khusus untuk mereka yang ingin menikahi diri sendiri

Jasa pernikhan sendiri sudah banyak via www.vice.com

Sologami bisa dilakukan oleh siapa saja, tapi lebih identik dengan perempuan. Salah satunya adalah Erika Anderson. Seorang perempuan di New York, yang tied the knot dengan dirinya sendiri karena lelah dengan orang-orang yang selalu mempertanyakan kenapa dia masih sendiri.

Advertisement

“(sologami) Itu ibaratnya perempuan yang mengatakan “ya” kepada dirinya sendiri. Itu artinya kami sudah bahagia, meski tidak berpasangan dengan orang lain.” Ungkap Anderson kepada media lokal, Wusa9.

Bersamaan dengan semakin populernya budaya pop, sologami juga semakin familiar dan populer. Dominique, seorang pelaku sologami di California bahkan mendirikan biro pernikahan solo berupa yaitu website Self Marriage Ceremony. Nggak hanya membantu melangsungkan resepsi, Dominique juga membantu memberikan “konsultasi pernikahan” dan panduan untuk bisa lebih terkoneksi dengan diri sendiri. Kepada setiap kliennya yang semakin bertambah, Dominique menerapkan tarif US$200 untuk satu paket.

Di Kanada ada juga layanan serupa bernama Marry Yourself Vancouver. Awalnya hanya di Amerika, sekarang sologami sudah dilakukan di banyak negara.

Layaknya sebuah pernikahan, ada juga yang menggelar resepsi, untuk merayakan bersatunya dia dengan dirinya sendiri

Ada juga yang pakai bridesmaid via www.vice.com

Menurut Dominique, keinginan setiap klien berbeda-beda. Ada yang ingin menikah secara privat, ada juga yang ingin menggelar pesta layaknya pernikahan sungguhan. Dalam pernikahan privat, yang dibutuhkan hanya lilin dan janji yang diucap dalam hati. Tapi bila kliennya ingin pesta, maka akan disiapkan juga gedung, gaun pernikahan, kue dan hidangan untuk para undangan. Cincin? Ada. Tapi masing-masing orang bebas berimprovisasi. Dominique sendiri memakai cincin pernikahannya sebagai piercing atau tindik di hidung.

Bagi mereka yang melakukannya, filosofi self-marriage berarti hubungan yang lebih mendalam dengan diri sendiri

Lebih mencintai diri sendiri via www.wokv.com

Mungkin kita semua bertanya-tanya kenapa orang mau nikah sama diri sendiri? Terus apa bedanya dengan lajang kalau ujungnya apapun juga sama sendirinya? Banyak juga yang menganggap tindakan ini cermin diri yang egois.

“Untukku, menikahi diri sendiri bukanlah sebuah aksi ‘hei, lihat aku dan betapa kerennya aku!’ yang meniadakan orang lain. Ini tentang klaim penuh atas berkah kehidupan lajang, yang tidak dipisahkan dengan kehidupan lainnya. Ini adalah sebuah perayaan dan penghargaan terdalam atas hidup dalam pelayanan akan cinta, dan untukku, ini adalah sesuatu yang benar-benar tidak egois dan murah hati.” Ungkap Dominique kepada The Independent.

Bagi yang melakukannya, sologami bisa berarti banyak hal. Mulai dari pelepasan diri dari kungkungan sosial yang sibuk mempermasalahkan kelajangan seseorang, hingga sebuah kemederkaan diri untuk mengambil sebuah keputusan. Ada juga yang memaknai pernikahan sendiri sebagai sebuah upaya untuk komitmen untuk memberikan kehidupan yang layak dan baik kepada diri sendiri.

Hidup di masyarakat, kita harus siap menghadapi pertanyaan “kapan nikah” setiap saat. Gerakan menikahi diri sendiri ini jadi salah satu bentuk protes

Kapan nikah? via kapankamunikah.com

Seumur hidup kita terbiasa dengan berbagai pertanyaan dari orang-orang sekitar. Salah satunya adalah “kapan nikah?” yang akan mendengung seperti lebah saat kita memasuki usia-usia dewasa. Yang sudah terlalu nyaman dengan diri sendiri pun tetap tidak bisa dimengerti. Seolah-olah satu-satunya definisi hidup yang bahagia adalah menikah dan punya anak.

Hal-hal seperti ini dulu mungkin bisa diterima. Tapi agaknya masa kini terjadi pergeseran opini yang cukup tajam. Mungkin ada juga hubungannya dengan target hidup yang semakin tinggi, sehingga banyak orang yang memilih berlama-lama sendiri.

Generasi millennial memang dikenal sebagai generasi malas nikah. Beberapa negara maju sampai menawarkan ini itu agar warga negaranya mau menikah dan punya anak

Generasi yang malas nikah via brunch.co.kr

Yang kita bicarakan tentu soal generasi millennial. Generasi yang harus terima-terima saja diberi label sebagai generasi malas nikah. Karena nyatanya, semakin lama pernikahan memang menjadi sesuatu hal yang dilirik paling belakangan. Di satu sisi, ledakan populasi bisa dihindari. Tapi di sisi lain banyak negara yang mulai ketar-ketir karena rendahnya angka kelahiran.

Seperti di Jerman, pemerintah akan memberikan subsidi kepada pasangan yang memiliki anak. Di Singapura pun sama. Di Romania, yang nggak punya anak diharuskan bayar pajak lebih tinggi. Sementara di Jepang, pemerintah menyuruh warganya untuk “hang out” dengan robot bayi, supaya perlahan-lahan muncul emosi untuk punya bayi beneran.

Kalau ditanya apakah sologami bisa menyelesaikan persoalan angka kelahiran atau tekanan masyarakat yang mengharuskan seseorang nikah cepat-cepat, jelas ini bukan solusi. Sologami bisa dianggap sebagai gerakan yang memprotes represi sosial yang kerapkali dialami oleh orang-orang lajang. Sologami juga bisa dianggap sebagai proses memerdekakan diri dan ajakan untuk lebih mencintai diri sendiri. Bukan cinta semacam narsistik, melainkan cinta yang penuh pernghargaan kepada diri sendiri.

Barangkali saja, menikahi diri sendiri secara filosofis memang perlu dilakukan oleh siapapun sebelum mereka menikahi orang lain. Karena dengan menghargai dan mencintai diri sendiri, barulah kita bisa mencintai dan menghargai orang lain sebagaimana mestinya. Dengan begitu, kapan kamu akan nikah ataupun kapan punya anak, bisa kamu tentukan sendiri. Dengan begitu, kebahagiaan bisa kamu definisikan sendiri tanpa harus berpatok pada bahagia versi orang lain.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya