Di pertengahan Februari ini, kita dibuat agak bingung dengan pernyataan salah satu anggota MUI (Majelis Ulama Indonesia), Cholil Ridwan. Beliau mengatakan bahwa tradisi menghormati bendera itu “haram” dan tidak pantas dilakukan oleh mereka yang menganut agama Islam. Kemungkinan mendekati bid’ah dan sifat syirik juga dikemukakan beliau kepada media pada 9 Februari kemarin.

“Saya telah berdiskusi dengan ulama Timur Tengah, banyak di antara beliau yang sepakat bahwa hormat pada bendera itu haram karena masih ada orang-orang tua yang lebih pantas dihormati ketimbang benda mati seperti bendera. Ini pendapat pribadi saya, bukan mengatasnamakan MUI.” Cholil Ridwan

Tanpa menghakimi pihak manapun, Hipwee akan mencoba menjabarakan apa saja sih yang semestinya Pak Cholil Ridwan pertimbangkan sebelum statement pribadinya ini ia lontarkan kepada khalayak. Santai loh Pak Cholil, ini masukan aja….

1. Pak Cholil seharusnya lebih bersahaja dalam mengungkapkan pendapat. Sebagai orang yang punya nama pendapat Bapak powerful lho..

udah pada kritis via okezone.com

Kenyataan bahwa masyarakat Indonesia itu menganut multi agama dengan beragam budaya, seharusnya menjadi kebanggaan tersediri yang mengerucut kepada sikap saling menghargai satu sama lain. Berbeda dengan negara Timur Tengah yang memang didominasi masyarakat beragam Islam serta berbagai aturannya yang tentunya lain dengan Indonesia, negara Bhineka Tunggal Ika.

Advertisement

Memang, paham demokratis yang dianut Indonesia hingga sekarang ini banyak memberikan ruang bagi siapa saja yang ingin berpendapat, bersuara bahkan menuntut sesuatu. Tapi, pendapat mengenai penghormatan kepada bendera yang dinilai haram oleh Pak Cholil Ridwan ini tak perlu buru-bruu di ekspos ke publik secepat ini bukan?

Masyarakat Indonesia belum siap, Pak.

2. Menghormati bendera beda dengan menyembah benda mati. Ini cuma bentuk penghargaan pada mereka yang sudah berjuang demi negara ini

‘kan nggak tiap hari to? via sahabatkamera.wordpress.com

“Menghormati orang yang sudah tua itu lebih baik ketimbang menghormati benda mati, nanti bisa mengarah ke syirik.” Pak Cholil

Di Indonesia, kegiatan hormat kepada bendera itu tak dilakukan setiap hari alias pada event-event tertentu saja, seperti upacara dan Hari Kemerdekaan misalnya. Toh, nyanyian penghormatan kepada sang saka ini tak menggunakan kata-kata kotor dan membawa agama manapun bukan? Justru, sebagian lirik dari lagu penghormatan bendera itu mengajak kita untuk senantiasa mencintai negara tercinta, Indonesia.

3. Berdiskusi dengan para ulama di Timur Tengah, bikin Pak Cholil yakin hormat bendera itu ‘haram’. Lupa ya, Pak, kalau hormat bendera di Timur tengah itu bisa kelilipan?

aduh kelilipan via bataranews.com

“Setelah diskusi dengan para ulama di Timur Tengah, saya jadi tambah yakin kalau hormat pada bendera itu haram, zaman Rasulullah saja tidak ada kegiatan demikian, mengapa sekarang kita melakukannya?”

Pak Cholil

Seperti yang kita tahu, Timur Tengah tepatnya di Saudi Arabia itu merupakan daerah dengan hamparan gurun pasir yang luas dan hampir merata. Nah, Pak Cholil mungkin lupa bahwa penghormatan terhadap bendera di sana sangat jarang dilakukan karena resiko kelilipan tentu lebih tinggi oleh pasir yang terbawa angin. Hmmm…

4. Kalau hormat bendera itu haram — kenapa Pak Cholil nggak mengharamkan hari Pahlawan, hari Guru dan hari perayaan lainnya?

menghormati jasa pahlawan via muslimmoderat.com

Sejak zaman sebelum dan sesudah kemerdekaan, bangsa Indonesia serta para pendahulu kita telah mati-matian memperjuangkan hak yang telah direnggut oleh penjajah, bendera merah putih lah salah satunya. Simbol kemerdekaan serta kebahagiaan orang Indonesia ini tak lain hanyalah bentuk penghargaan kepada para pendahulu yang telah gugur memperjuangkan nasib bangsa. Bukan begitu?

5. Toh Indonesia nggak kekurangan ulama buat diajak diskusi. Sistem multi agama jelas lebih mereka pahami

berbeda dengan Timur Tengah, Indonesia itu multi agama via tempo.co

Negara dengan mayoritas Islam seperti Timur Tengah tentunya memiliki aturan-aturan yang jauh berbeda dengan Indonesia yang menganut sistem multi agama. Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu yang merupakan agama resmi di Indonesia, tentunya tak bisa begitu saja menerima aturan yang hanya ditujukan kepada salah satu agama. Di sinilah sikap toleransi patut dijunjung tinggi dan dibudayakan. Bukankah lebih nyaman jika kita yang berbeda tapi tetap satu jua, seperti istilah Bhineka Tunggal Ika?

6. MUI (Majelis Ulama Indonesia) sendiri belum mengeluarkan fatwa soal haram dan tidaknya menghormati bendera. Yang pasti, menghormati dan menyembah itu berbeda bukan, Pak?

ini pendapat pribadi saya, kok… via suara-islam.com

“Ini pendapat pribadi saya yang juga didukung para ulama Timur Tengah, saya tidak membawa-bawa nama besar MUI dalam pendapat saya ini. Pendapat pribadi saja, kok.”

Pak Cholil

Masih hangat di benak kita tentang fatwa MUI yang mengatakan bahwa rokok itu haram dan sempat menuai banyak kontroversi karena tak sedikit pula ulama-ulama yang merokok. Kalau kita kaitkan dengan kasus ini, Mungkin Pak Cholil hanya ingin menyampaikan sedikit pendapatnya mengenai penghormatan kepada bendera yang Ia dan para ulama Timur Tengah diskusikan, bukan untuk berfatwa karena tak membawa nama MUI. Ya, kita sikapi dengan bijak saja deh.

Tanpa bermaksud menyalahkan siapapun, penghormatan terhadap bendera merah putih tentu saja susah untuk dihilangkan apalagi diharamkan. Susah dan berat rasanya jika untuk menghargai jasa pahlawan, kita harus menggunakan bambu runcing seperti zaman peperangan dulu.

Jadi mana yang menurutmu lebih tepat?

Kredit Feature Images by http://kompasiana.com