Sehabis duduk lama untuk mengikuti dzikir setelah sholat taraweh, tiba-tiba kaki sulit digerakkan. Rasanya seperti dikilik-kilik atau digerayangi ribuan semut. Yup, itulah yang namanya kesemutan. Orang jawa menyebutnya dengan “gringgingen”. Fenomena ini kerap terjadi kalau kita duduk bersila terlalu lama, bertopang dagu terlalu lama, ataupun salah posisi tidur dengan bertumpu di salah satu tangan.

Ketika kita mengalami kesemutan atau bahasa keilmuannya parestesia, kulit kita seolah mati rasa dan hanya bisa merasakan sensasi digelitik atau dikerubuti semut. Kalau sudah begini, menggerakan kaki saja rasanya sungguh menyiksa. Tapi apa iya fenomena ini ada hubungannya dengan semut-semut di sekitar kita? Kalau kamu penasaran, yuk simak ulasan Hipwee News & Feature kali ini!

Kesemutan atau Parestesia terjadi ketika tubuh mengalami tekanan sehingga aliran darah terhalang. Jadi nggak ada hubungannya dengan semut ya

Kesemutan terjadi karena tekanan berat via www.youtube.com

Kesemutan bisa terjadi ketika tubuh kita menerima tekanan terlalu lama. Biasanya kesemutan terjadi di bagian-bagian tubuh yang sering digunakan untuk aktivitas sehari-hari seperti tangan, kaki, lutut, dan lain sebagainya. Seperti yang kita tahu, tubuh kita terdiri dari aliran pembuluh darah dan jutaan syaraf yang menghubungkan setiap organ dengan pusat kendali, yaitu otak dan sumsum tulang belakang.

Nah ketika ada bagian tubuh kita yang mengalami tumpukan tekanan (misalnya duduk terlalu lama), hal itu menghimpit syaraf dan pembuluh darah. Terjepitnya syaraf ini membuat otak kekurangan informasi dan sebaliknya syaraf akan kekurangan suplai oksigen yang diperoleh dari jantung. Terblokirnya komunikasi dua arah ini membuat bagian tubuh kita mengalami “mati rasa”. Ketika akhirnya tekanan itu dihilangkan, syaraf langsung menembakan informasi-informasi yang tadinya tertahan ke otak. Karena itulah, muncul sensasi seperti digerayangi semut.

Kesemutan bisa terjadi kalau kita duduk terlalu lama. Indonesia yang kulturnya gemar duduk bersila pasti sering mengalaminya

Advertisement

Duduk terlalu lama menyebabkan kesemutan via japanl0v3r.blogspot.co.id

Kesemutan bisa terjadi saat kita bersila terlalu lama, berlutut terlalu lama, bahkan berdiri terlalu lama. Bagi orang Indonesia, kesemutan pasti dialami sehari-hari. Hal ini nggak lepas dari kultur kita yang memang suka duduk bersila. Mulai dari ngopi di lesehan, duduk saat kenduri, sampai acara-acara pengajian yang kebanyakan sederhana saja dengan menggelar tikar. Nggak heran kita jadi sering kesemutan. Selain kita, mungkin orang Jepang yang kental tradisi minum tehnya juga sering menggalami yang sama.

Selain itu, kesemutan bisa terjadi karena banyak hal. Salah satunya adalah stres dan nggak cocok dengan suhu udara sekitar

Stres juga bisa bikin kesemutan via www.glamour.com

Secara umum, kesemutan terjadi akibat tekanan pada syaraf. Tapi pada kondisi khusus, kesemutan bisa juga terjadi karena hal lainnya. Seperti cidera syaraf, gigitan serangga, pembuluh darah yang membesar, tumor, dan infeksi. Umumnya, kesemutan juga terjadi sementara. Alias kalau kamu goyang-goyangkan kakimu sebentar, rasanya akan menghilang. Namun dalam kasus khusus, kesemutan bisa berlangsung lama dan inilah yang harus diwaspadai.

Parestesia ada tiga tahapnya: saat tubuh menerima tekanan berat, mati rasa, dan kesemutan. Yang terakhir paling sulit, makin digerakan makin menggelitik

Tahap-tahap kesemutan via www.youtube.com

Tahap pertama disebut dengan kompresi menggelitik, yaitu ketika tubuh menerima tekanan berat. Tahap ini biasanya terjadi selama empat menit. Di tahap ini kaki atau bagian tubuh terkait mulai terasa pegal. Sekitar 10 menit selanjutnya, adalah tahap mati rasa. Di tahap ini tekanan pada syaraf dan pembuluh darah masih berlangsung, dan bagian tubuh yang bersangkutan mulai terasa kebas. Dicubit-cubit pun tak akan terasa apa-apa.

Nah barulah tahap terakhir ini yang kita sebut dengan kesemutan. Yaitu ketika tekanan dilepas dan syaraf mulai kembali bekerja mengirim informasi. Di tahap ini, meluruskan kaki saja bikin kamu meringis-ringis.

Meski sepele, kesemutan jangan dianggap remeh lho. Karena bisa saja itu tanda kamu mengidap penyakit yang lebih berbahaya

Kesemutan bisa jadi tanda diabetes via hellosehat.com

Kesemutan memang sepele dan bisa dialami siapa saja. Namun bila kesemutan berlangsung sering dan dalam waktu yang lama, itu bisa menjadi tanda ada masalah lainnya di tubuhmu. Kesemutan yang berlangsung terus-menerus bisa jadi gejala penyakit berat seperti stroke, diabetes, gangguan hati, gangguan ginjal, hingga kanker.

Kalau kesemutan berlangsung kronis dan disertai dengan kelemahan otot, nyeri, dan gatal, itu bisa menjadi tanda penyakit syaraf yang berbahaya. Selain itu kesemutan yang nggak biasa juga bisa jadi tanda penyakit yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh, seperti: Guillain-Barre syndrome, lupus, arthritis rematoid, Raynauds syndrome, dan Charcot-Marie-Tooth syndrome. Jadi harus benar-benar waspada.

Meski sepele, kesemutan ini lumayan menjengkelkan lho. Biar kamu nggak gampang kesemutan, usahakan untuk rutin bergerak. Olahraga adalah syarat mutlak. Dan bila kamu bekerja di depan komputer sepanjang hari, sering-seringlah berdiri, berjalan, dan gerakan-gerakan lainnya untuk merenggangkan otot dan syaraf.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya