Bukan bermaksud melarang kalian menonton acara-acara berikut, melainkan hanya mengajak lebih peka dan tajam berpikir untuk menerima konten yang disajikan. Idealnya perusahaan televisi adalah institusi sosial, namun faktanya mereka lebih getol ambil peran sebagai institusi bisnis. Alih-alih dimanusiakan dan dididik, kita selaku penonton selalu diposisikan sebagai alat untuk cari untung. Ibarat ikan yang dijaring dari laut untuk dijual ke tengkulak, kita adalah penonton yang dijaring untuk nantinya dijual ke para pengiklan yang berjubel antri tampil di layar kaca tiap 10-15 menit itu. Alhasil, senantiasa ada celah-celah kenikmatan yang kita dapat dari sajian televisi yang dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis tanpa benar kita sadari. Efeknya kepada penonton? Jangan ditanya, hampir segala permasalahan sosial bisa ditelusuri dari isi televisi.

Tentu yang dimasukan di daftar ini bukan lagi sinetron atau reality show kacangan yang sudah jelas bobrok dan membobrokan. Yang ingin kita ulas justru adalah acara televisi yang selayang pirsa terkesan positif dan membangun, namun sebenarnya tetap menyimpan banyak cela yang perlu diperbaiki dan dikritisi. Ya hanya itu kan yang bisa kita lakukan? Sejak kita tak punya lagi ruang dan kesempatan untuk mempengaruhi isi televisi, yang bisa kita upayakan hanyalah melindungi diri sendiri dengan bersikap lebih selektif dan kritis dalam menerima apa yang kotak ajaib itu suguhkan.

1. Mulai dari yang paling banyak cacatnya, On The Spot

On The Spot via cyberspaceandtime.com

Bisa dikatakan bahwa On The Spot adalah salah satu produk acara televisi paling malas di Indonesia, atau mungkin dunia? Isinya hanya kumpulan video Youtube yang sebenarnya semuanya bisa kita akses sendiri secara mudah dan cuma-cuma. Bayangkan, begitu iritnya biaya dan energi yang dikeluarkan oleh stasiun televisi kaya raya itu untuk memproduksi acara ini. Selain tumpul secara kreativitas, informasi yang diberikan pun kemudian sekadar bersifat trivial dan permukaan saja. Mau bisa tahu apa jika masing-masing peristiwa atau fenomena (dari misalnya, ”7 Fenomena Alam yang Muncul Setelah Awkarin Mengunggah Satu Foto Barunya di Instagram”) hanya dijelaskan kurang dari 1 menit.

Masalah yang lebih besar dan konkret adalah ijin. On The Spot ialah acara yang berbasis pada tayangan di Youtube. Di luar perkara legal-ilegal, seharusnya adalah etika sederhana untuk setidaknya mencantumkan identitas pemilik video sebenarnya. Bukan masalah ekonomi, tapi pengakuan atau apresiasi selayaknya. Youtube hanya kanal berisi kumpulan video yang bisa ditonton dan dibagikan secara gratis. On The Spot memposisikan Youtube sebagai pemilik sebenarnya, sehingga cukup melabelkan “Courtesy of Youtube” yang tak bisa dilacak secara langsung seperti tautan dalam artikel berbentuk teks. Apa yang dilakukan On The Spot seperti menjual barang-barang milik orang lain untuk keuntungannya sendiri.

2. Indonesia Lawyer Club, debat politik atau drama teater?

Advertisement

Indonesia Lawyer Club via klikkabar.com

Ini adalah tayangan favorit bagi mereka yang menyukai politik elit, mulai dari pengusaha kelas kakap sampai bapak-bapak penjual pecel lele. Mungkin acara ini konsep awalnya bagus, yakni meningkatkan kesadaran politik bagi masyarakat. Masalahnya, Indonesia Lawyer Club kemudian tidak berjalan sebagai acara yang berusaha memberikan pemahaman lebih baik tentang kondisi negara, tapi cuma drama politik. Bukan mencari solusi, tapi berburu kambing hitam. Selaiknya drama, selalu muncul konflik. Bedanya, ending-nya tidak pernah jelas. Sosok Karni Ilyas di sana pun hadir bagai dalang yang mengatur alur konflik dengan pertanyaan-pertanyaan provokatif untuk membuat acara lebih menarik. Apalagi jika topiknya terkait perseteruan beberapa pihak yang diadu seperti pada Pemilu 2014 lalu atau Pilgub Jakarta ini. Lalu kenapa mereka bisa menghadirkan politisi-politisi atau pelaku hukum terkemuka? Yah, mereka kan butuh panggung juga. Anggap saja ajang pameran politisi.

3. Mario Teguh Golden Ways, ya ampun masih suka nonton ini?

Mario Teguh Golden Ways via www.youtube.com

Acara ini kini tengah megap-megap pasca sang empunya terjerat kasus rumah tangga yang sangat viral. Padahal sebenarnya klasik lho fenomena ini, seseorang yang gemar umbar sabda yang baik-baik saja biasanya memang memendam ketidaksempurnaannya di belakang. Oke, cukup ngegosipnya. Yang kali ini mau dibahas adalah acaranya.

Sebagai motivator, Mario Teguh memandu kita untuk melihat segala sesuatunya dari segi positif. Selalu ada harapan di sana dan di sini. Tayangan yang pas untuk kelas menengah yang sepanjang hidupnya hanya mengejar kesuksesan materi dan ambisi hidup kaya raya. Hidup adalah sebuah investasi yang ditanam dengan logika kapitalisme. Retorika atau seni bicara adalah senjata Mario Teguh untuk membuat mereka yang punya krisis kepercayaan diri untuk tidak berkedip atas buaian-buaian semu. Kendati isinya begitu-begitu saja, tapi orang Indonesia yang terbiasa tumbuh sebagai bangsa yang minder merasa butuh mencari jawaban di titah-titah super itu. Padahal yang namanya mau bisa hidup ya pasti harus kerja dan semangat. Itu sudah pasti. Mending mulai mendekatkan diri pada dinamika lingkungan dan kehidupan sosial yang lebih berarti daripada usia habis hanya untuk mendengar celoteh-celoteh semacam ini.

4. Orang Pinggiran, membuat haru dengan eksploitasi kemiskinan

Orang Pinggiran via www.youtube.com

Pakem reality show dengan tema sosial semacam ini pasti mengangkat kisah seseorang yang hidup dalam garis kemiskinan dan mempunyai kekurangan baik secara ekonomi maupun secara fisik. Tempat tinggal yang tidak layak atau pekerjaan dengan penghasilan yang tidak mencukupi menjadi nilai jual objek tayangan ini. Seseorang itu digambarkan mesti banting tulang dengan tertatih-tatih dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang berakhir dengan hanya penghasilan seadanya.

Di awal kemunculan tayangan semacam ini (Jika Aku Menjadi misalnya), penonton berbondong-bondong terseret dalam rasa haru yang sengaja disasar. Kesan nilai moral di acara ini adalah “hidup harus banyak-banyak bersyukur karena masih ada banyak orang yang tidak beruntung”. Mungkin memang benar, namun dramatisasi yang berlebih kemudian membuat Orang Pinggiran seakan hanya memanfaatkan nasib mereka untuk mencari keuntungan. Lagipula apakah benar orang-orang yang disebut sebagai ‘orang pinggiran’ ini layak ditangisi? Dalam artian apakah mereka tidak bahagia dengan apa yang mereka punya? Apakah ukuran kebahagiaan dan penderitaan selalu adalah faktor ekonomi? Otomatis jelas Orang Pinggiran adalah acara yang cuma ditujukan untuk ditonton oleh kita yang hidup di perkotaan dan berkecukupan. Ini justru bisa berakibat termarginalisasinya orang-orang yang hidup di luar perkotaan. Mereka seakan adalah liyan atau orang yang tidak normal. Padahal jika kita menilik kondisi demografis Indonesia, sebenarnya lebih banyak mana jumlah orang perkotaan dengan yang dianggap pinggiran itu?

Masih ada kelanjutannya lho, klik Halaman Selanjutnya!