Dua hari belakangan, hampir semua media mengangkat fenomena pengemis tajir bernama Irfan yang pada saat digrebek ternyata punya dua ponsel mewah. Viralnya fenomena pengemis kaya bukan kali pertama ini, sebelumnya masyarakat kita sudah familiar pula dengan kasus serupa. Kamu mungkin belum lupa dengan hebohnya kisah kakek Winnie The Pooh, Walang bin Kilon, Sa Aran dan lainnya. Kini muncul lagi sosok Irfan, pemuda seusia kita yang  tertangkap tangan petugas sosial.

Hampir semua pemberitaan yang ada menyudutkan sosok Irfan, menyalahkan pilihan hidupnya untuk menjadi pengemis di Jakarta. Semuanya mengangkat betapa mewahnya hidup Irfan hanya karena punya dua ponsel bermerek yang dikenal cukup mewah. Kisah hidup yang melatarbelakangi pilihan hidupnya justru hanya dibahas sekilas dalam pemberitaan sosok Irfan. Mau tidak mau kita pun hanya berfokus pada dua kata saja yaitu “pengemis” dan “kemewahan” lalu secara tidak sadar kita merasa iri karena Irfan sangat mudah mendapatkan uang sementara kita harus bekerja keras. Benarkah hidup Irfan semewah yang kita bayangkan? Dan pantaskan kita iri dengan caranya memperoleh uang?

Irfan hanya tinggal di kontrakan seharga 200 ribu rupiah per bulan di kawasan Pesing, Cengkareng

Wah banyak juga uangnya? via tribunnews.com

Dilansir dari Kompas.com, Muhammad Irfan yang berusia 28 tahun ini ternyata berasal dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Ia juga seorang penyandang disabilitas yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2010. Ia tinggal sendirian dengan menyewa kontrakan di Pesing Cengkareng, di mana biayanya hanya 200 ribu per bulan. Bayangkan, seperti apa fasilitas yang bisa didapatkan Irfan dengan harga kontrakan semurah itu di daerah ibu kota? Paham ‘kan semahal apa biaya tempat tinggal di Jakarta? Jadi hidup sehari-hari Irfan sama sekali tidak mewah.

Mendapatkan pekerjaan bukan hal mudah bagi Irfan yang selama ini pernah menjadi korban bully gara-gara fisiknya yang tak sempurna

Disabilitas via tribunnews.com

Advertisement

Awal ke Jakarta, Irfan mengambil uang neneknya sejumlah 500 ribu rupiah. Ia juga kabur dari yayasan tempat ia menimba ilmu. Alasannya, ia seringkali di-bully oleh teman-temannya lantaran kondisi fisiknya yang tidak sempurna. Pindah ke Jakarta, tentu kondisinya tak jauh beda. Tiba di Citraland Grogol, dia mungkin belum punya bayangan akan melakukan apa. Fakta bahwa Jakarta (dan mungkin juga di tempat lainnya) belum ramah penyandang disabilitas untuk urusan pekerjaan memang ada benarnya juga. Tidak setiap tempat kerja legowo menerima penyandang disabilitas sebagai pekerjanya.

Tekad bulat Irfan untuk mengemis di Jakarta bukan tanpa alasan, dia tak punya pilihan ketika ingat ibunya yang tinggal sendirian

Demi Emak via merdekat.com

Alasan Irfan untuk akhirnya memutuskan menjadi pengemis adalah karena ingin membantu ibunya yang tinggal sendiri di kampung. Meski teman-temannya tidak tahu kalau dia menjadi pengemis, Irfan tidak menyembunyikan profesinya yang sebenarnya pada keluarga. Ia jujur kalau selama ini ia menjalani aktivitas sebagai pengemis di Jakarta. Saat pertama kali pulang kampung pada tahun 2011, ia berhasil membawa uang sejumlah 3 juta rupiah untuk keluarganya.

Irfan memperoleh penghasilan 200 ribu rupiah per hari, tapi ia tidak rakus. Ia mengaku selama ini hanya mengemis 3 kali saja setiap pekannya

Tidak setiap hari via tribunnews.com

Jika memang Irfan adalah orang yang tamak, bisa saja ia mengemis tiap hari agar uangnya masih banyak. Tapi  Irfan mengaku tidak melakukannya. Yang paling penting untuknya adalah memiliki uang yang cukup untuk dikirim ke keluarganya. Sebelumnya, ia selalu pulang tiap bulan demi mengirim uang, namun dua bulan terakhir dia sudah memanfaatkan layanan internet banking. Irfan juga hanya punya tabungan senilai  2,9 juta di rekeningnya.

Pengemis kok punya rekening dan internet banking????

Lah, memangnya kenapa? Bangsa ini dibilang susah maju kalau gagap teknologi, giliran seorang pengemis sudah sadar teknologi masak juga dituduh yang macam-macam?

Harta kekayaan Irfan adalah 10 juta!!………. tapi jika dikumpulkan selama 6 tahun mengemis

Nggak sekaya itu via tribunnews.com

Harta berharga Irfan:
1. iPhone 5S: 5 juta rupiah (kredit akhir 2014 seminggu 150 ribu rupiah)
2. Samsung Galaxy Note 3:  2 juta rupiah (beli dari teman yang jual butuh)
3. Uang tunai: Rp  1.050.000,00
4. Jam tangan Alexandre Christie: 1 juta rupiah (kredit 50 ribu rupiah per minggu, 20 kali bayar)
Total hanya sekitar 10 juta rupiah

Harta berharga Irfan lainnya yang ada di kampung hanyalah 5 ekor kambing saja. Itu setelah dia enam tahun mengemis. Jadi penghasilannya bisa dibilang lazim untuk seseorang yang mencari sesuap nasi hanya dari meminta-minta. Sedikit? Ya itu konsekuensi jika kamu tidak bekerja. Entah bagaimana pola persebaran kabar burung dari orang yang tidak bertanggungjawab melahirkan kesimpulan bahwa penghasilan Irfan lebih besar dari penghasilan karyawan atau pegawai rata-rata. Waduh, jangan sampai rumor sesat ini malah berhasil menginspirasi para pengangguran untuk menjadikan profesi (apa bisa disebut profesi?) pengemis sebagai tujuan karir masa depan.

Usai kena razia, Irfan kini menyesal dan bahkan malu karena teman-temannya tahu dia mengemis. Semoga sih nggak bikin semangat hidupnya terkikis ya

Semangat Fan! via tribunnews.com

Irfan dirazia oleh petugas Pelayanan, Pengawasan, dan Pengendalian Sosial (P3S) Suku Dinas Sosial (Dinsos) Jakarta Pusat saat ia sedang mengemis di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat pada Selasa (22/11/2016). Ia ditangkap setelah ada masyarakat yang mengadukannya melalui aplikasi Qlue, sebuah aplikasi untuk melaporkan keluhan warga yang merupakan hasil kerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Usai kasus itu menjadi viral di media massa dan media sosial, Irfan sangat menyesal dan bahkan malu, terutama pada teman-temannya. Kita bisa membayangkan bagaimana teman-teman Irfan makin memandang rendah dirinya.

Mungkin kamu menganggap pengemis itu orang yang malas dan putus asa, di sisi lain kamu juga nggak rela orang seperti itu lebih kaya dari kamu. Apakah Irfan begitu?

Kamu iri ya sama pengemis yang kayak gini? via youtube.com

“Menurutku pengemis itu orang yang malas sih. ‘Kan masih ada banyak pekerjaan lain yang bisa mereka usahakan.” (Azka)
“Aku nggak rela aja sih kalau mereka jadi kaya. Aku saja tiap hari kerja keras banting tulang nggak bisa kaya-kaya.” (Nawang Larasati)
“Walaupun mereka penyandang disabilitas, ada kok pasti pekerjaan lainnya. Nggak semua anggota tubuhnya cacat ‘kan?” (Rivaldi)

Pendapat tiga kawan kita ini mungkin juga sudah mewakili pendapatmu. Mengemis memang bukan pilihan cara hidup yang benar, apalagi jika masih ada hal lain yang masih bisa diusahakan. Pengemis atau pengamen memang beban untuk masyarakat dan baiknya diberantas, tapi pilihan cara pemberantasan yang kita ambil itulah yang menunjukan kualitas sebuah negara dalam memelihara dan membina bangsanya. Membantu lebih baik daripada menyingkirkan dengan paksa. Apalagi ramai-ramai mengutuki mereka hanya gara-gara termakan provokasi kacangan.

Sekarang Irfan sudah dibina di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1, Kedoya, Jakarta Barat dan rencananya akan didorong untuk menjadi pebisnis karena memiliki potensi itu. Setelah keluar dari Dinas Sosial, ia akan kembali ke kampung dan tidak akan lagi balik ke Jakarta. Salah satu impian Irfan sebenarnya adalah ingin membuka bisnis toko baju. Kita doakan saja semoga impiannya terwujud.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya