Belum kerja namanya kalau belum merantau ke kota-kota besar. Inilah pernyataan yang seringkali masih terpatri di dalam pikiran para orangtua yang pada akhirnya diyakini pula oleh anak-anak mereka. Meski tidak semua berpikiran sama, tapi sebagian besar orang masih meyakini hal tersebut. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya para lulusan SMA atau perguruan tinggi yang lebih memilih mengadu nasib di kota besar seperti Jakarta. Bukannya tanpa alasan, urbanisasi hingga saat ini masih sulit dikurangi karena memang peluang yang ditawarkan kota metropolitan lebih besar daripada kota-kota kecil. Belum lagi gaji dan fasilitas yang ditawarkan, tentu sangat menggiurkan bagi sebagian besar orang yang ingin bekerja, apalagi fresh graduate. Tingginya perpindahan penduduk dari desa ke kota atau dari kota kecil ke kota besar memang sudah sepatutnya merupakan tanggung jawab pemerintah karena hal tersebut terjadi akibat ketidakmerataan pembangunan di Indonesia, terutama di sektor industri dan perdagangan.

Terlepas dari penyebab meningkatnya arus urbanisasi, sepertinya kita juga perlu menaruh perhatian khusus pada gaya hidup anak muda di daerah perkotaan. Sebab, banyak sekali anggapan bahwa secara langsung kita akan terlihat kaya, sukses, dan banyak uang asal mengikuti gaya hidup modern kota metropolitan, padahal justru gaya hidup seperti itulah yang membuat kaya hanyalah sebatas ilusi. Bagaimana bisa? Berikut beberapa alasan yang dapat membantah pernyataan bahwa tinggal di kota berarti kaya. Simak ya supaya bisa terhindar dari hedonisme!

Gaya hidup konsumtif jadi musuh besar para pekerja di perkotaan. Kalau dihitung-hitung, seharusnya bisa ditabung untuk kebutuhan di masa mendatang

Sudah bukan hal yang awam bagi penduduk kota besar khususnya para pekerja untuk mengikuti gaya hidup konsumtif di lingkungannya. Bahkan hal tersebut sepertinya sudah menjadi ‘standard’ hidup orang di daerah metropolitan. Mereka rela membeli kopi seharga 40.000 hingga 50.000, berolahraga di gym yang satu kali datang bisa merogoh kocek puluhan hingga ratusan ribu, menonton bioskop saat akhir minggu plus membeli camilannya, membeli air minum kemasan dengan harga 5.000 hingga 10.000 per botol, atau kebiasaan konsumtif lainnya yang jika dihitung dalam sebulan pengeluaran tersebut bisa dialokasikan ke hal lain yang lebih bermanfaat misalnya menabung untuk cicilan rumah, biaya menikah, dan lain-lain. Mungkin semua kebiasaan konsumtif seperti contoh di atas akan tidak menjadi masalah jika pendapatan jauh lebih besar dari pengeluaran. Tapi kebanyakan pendapatan mereka tidak sepadan dengan pengeluarannya sehingga yang terjadi, mereka dibuat ‘kaget’ dengan saldo mereka di akhir bulan. Boro-boro nabung, untuk biaya sehari-hari termasuk hiburan saja tipis.

Media sosial semakin hari semakin banyak menyorot kehidupan kaum urban, secara tidak langsung tentu akan mempengaruhi pemikiran manusia tentang gaya hidup modern

Kaum urban zaman modern via jalantikus.com

Advertisement

Ketika internet semakin berkembang pesat, tidak hanya orang-orang di kota besar saja yang dapat menikmatinya, tetapi juga penduduk suburban alias daerah-daerah kecil. Kebebasan yang dibawa oleh internet sepertinya turut bertanggung jawab terhadap munculnya pandangan bahwa hedonisme itu keren. Bagaimana tidak jika media sosial saat ini didominasi oleh unggahan-unggahan para sosialita yang mengelu-elukan barang-barang mahal, kehidupan mewah, liburan ke luar negeri, dan lain-lain. Miris ketika masyarakat ‘kecil’ akan menghalalkan segala cara jika ingin meraih kehidupan ‘layak’ seperti orang-orang tersebut. Beberapa waktu lalu publik dihebohkan dengan adanya cewek sosialita yang rela hutang sana-sini demi keliling dunia dan eksis di media sosial! Kalau bukan karena kebudayaan hedonisme orang kota besar telah sukses mengalahkan gengsi, lantas karena apa dong?

Banyak dari kaum muda zaman dahulu yang sudah punya modal untuk berumah tangga meskipun usia mereka masih terbilang muda, kalau sekarang?

Kaum muda zaman dahulu via luthfiaart.blogspot.co.id

Kalau membandingkan kaum muda zaman dulu dan zaman sekarang, rasanya kok beda jauh ya? Ketika belum ada media sosial, kehidupan konsumtif dan hedonisme hanya dimiliki mereka yang benar-benar ‘punya’. Sehingga kemungkinan orang pas-pasan untuk tergiur kebiasaan tersebut sangat kecil. Justru banyak di antara mereka yang di usia mudanya sudah berani menyicil rumah, membeli mobil, dan menabung untuk masa depan. Kaum muda modern zaman sekarang sepertinya lebih memilih liburan ke luar negeri atau membeli barang-barang mahal dibanding menabung untuk masa depan ya?

Nah, kalau sudah mengedepankan gengsi demi eksistensi, apa kabar masa depan kalian? Kalau menurut Hipwee sih tidak masalah bekerja di mana saja dan sebagai apa saja asalkan halal. Maslaahnya sih bagaimana mempergunakan gaji tersebut dengan baik.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya