Menjadi seorang istri itu nggak cukup dengan modal cinta dan baik hati aja. Pun butuh lebih dari sekadar bisa masak dan pakai pensil alis. Untuk jadi seorang istri, butuh banyak bekal tambahan dan pemakluman yang tak main-main kadarnya.

Menjadi istri juga tak cukup hanya selalu minta diperhatikan saja oleh suami. Kalau selama pacaran cewek yang selalu minta diperhatikan dan dimengerti, kehidupan pernikahan tak akan semudah yang dibayangkan seperti itu. Sebaliknya, saling mengerti dan menghargai posisi masing-masing adalah salah satu kunci keberhasilan dalam pernikahan. Selama kamu belum bisa cuek sama hal-hal yang sebenarnya tak penting dalam hubungan, maka mungkin rencana untuk mempersuntingmu masih akan lama.

1. Kamu mungkin nggak akan bisa jadi istri yang sempurna. Tapi demi dia, kamu tidak pernah berhenti berusaha

Upayamu memperbaiki diri tak pernah berhenti via dylandsara.com

Jika kelak menikah, kamu tentu tidak seketika menjadi istri yang baik dan sempurna. Kamu akan mengalami susahnya beradaptasi, karena selama ini hanya terbiasa mengurus diri sendiri. Tetapi setelah menjadi istri, ada suami yang harus kamu perhatikan dengan baik. Mulai dari membuatkan sarapan, merapikan kemejanya sebelum berangkat kerja, sampai sesederhana menyambutnya dengan senyum manis saat ia pulang kerja.

Semua memang butuh proses yang tidak singkat dan tidak mudah. Tapi demi seseorang yang kamu impikan jadi pasangan halalmu, kamu harus bersedia berubah perlahan-lahan. Kamu memang tak akan pernah menjadi sempurna. Namun setidaknya usahamu untuk menuju arah sana tak pernah berhenti.

Advertisement

Toh proses memperbaiki diri memang tak seharusnya berhenti.

2. Kalian mungkin tak bisa selalu bersama setiap harinya. Namun pendampingan tak boleh terhenti hanya karena jarak

selalu jadi pendamping via nouba.com.au

Ada yang berpendapat kalau nanti setelah menikah kamu dan suami nggak akan terpisahkan lagi. Dimana ada suamimu, disitulah kamu berdiri di sampingnya. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Ada waktu kamu dan pasanganmu terpaksa berjauhan, karena tuntutan pekerjaan salah satunya. Atau ada juga pasangan yang memilih untuk sementara menjalani LDR, karena alasan-alasan tertentu.

Namun sekalipun dipisahkan jarak ratusan atau bahkan ribuan kilometer, kamu dituntut tetap memiliki kesabaran dan cinta yang semestinya. Tak ada pendampingan yang berhenti, meski kamu dan dia tak bisa selalu mendampingi.

3. Sesekali kamu masih menggelayut manja di lengannya. Tapi ketangguhan dalam dirimu tak pernah pudar

Ketangguhan tak pernah pudar via eschmidtphotography.com

Setiap sama-sama pulang kerja, dan setelah menuju ke rumah yang sama, kamu jadi punya hobi baru. Memeluknya sebentar, lalu menggelayut manja di lengannya. Entah kenapa, kamu selalu menemukan kenyamanan di antara lengannya yang kokoh. Ditemani dua gelas teh hangat, kalian saling berbagi cerita hari itu. Sambil mendengarkan dia bercerita, kamu sesekali menatap wajahnya lama, lalu diam-diam bersyukur bisa melakukan kemanjaan ini padanya.

Namun meski begitu, kamu tak pernah kehilangan kemandirian sebagai seorang wanita. Kamu tahu kapan harus mampu menyelesaikan sesuatu sendirian, tanpa harus ada dia yang mendampingi. Kamu tak pernah keberatan harus berbelanja bulanan sendiri ketika dia terpaksa tak bisa menemani. Menikah seharusnya tak menjadikanmu pribadi yang manja pada pasangan, namun sebaliknya kamu dituntut punya ketangguhan yang luar biasa.

4. Setelah menikah, mungkin dia tak lagi seromantis dulu. Namun bagimu cinta akan tetap sama kadarnya seperti saat pertama bertemu

walau dia nggak seromantis dulu via nouba.com.au

Setelah beberapa saat menikah, mungkin suamimu tidak akan seromantis seperti semasa pacaran dulu. Dia makin sibuk dengan pekerjaannya dan tidak lagi bisa berbuat manis dan romantis yang biasa membuatmu merasa jatuh hati lagi.

Suamimu boleh tak lagi romantis, tapi kamu tidak boleh lupa dengan apa yang membuatmu jatuh cinta semasa pacaran dan memutuskan untuk menikah dengannya. Sekalipun sifatnya berubah, tetaplah percaya bahwa dia mencintaimu dengan kadar yang sama. Kamu pun diharapkan untuk bersabar dan menyayangi dia seperti yang sudah-sudah. Jangan sedih atau malah berpikiran yang tidak-tidak.

5. Ketika masa tersulit datang, kamu bersedia ikut berjuang bersamanya. Kalian harus menjadi dua orang yang saling menggenapkan

Berjuang bersama via eschmidtphotography.com

Badai dalam hubungan tak pernah bisa dihindari. Ada sekali waktu, kamu dan dia saling berteriak mempertahankan argumen masing-masing. Ada masa kamu kembali mempertanyakan keputusanmu untuk menikah dengannya. Bagaimana bisa kamu menikah dengan orang sekeras kepala ini?

Tapi justru itulah yang membuatmu tak bisa lepas darinya. Ketika kamu khatam dengan segala kekurangannya dan tetap jatuh cinta, justru kamu berada pada level cinta yang paling tinggi. Yang pasangan ingusan tak akan pernah miliki.

Itulah mengapa, saat masa sulit datang, kamu tak pernah berpikiran untuk pergi. Kamu tak pernah keberatan untuk berdarah-darah bersama.

6. Rumah tanggamu akan mengalami masa pasang surutnya. Ketika masalah datang kamu bersedia mengalah dan membuat keadaan kembali tenang

Selalu ada masa pasang surut via www.indiaearl.com

Namanya juga berumah tangga pasti selalu saja ada masalah. Pertengkaran-pertengkaran kecil mungkin akan kamu rasakan setelah hidup berdua dengan pasanganmu esok. Perbedaan pendapat mungkin terasa sulit untuk dihindari.

Ketika sedang bertengkar, ingatlah untuk tetap menghormati pasanganmu dan berdebat dengan kepala dingin. Tak apa mengalah sesekali dan minta maaf duluan. Bukan untuk menurunkan harga diri, tapi sebagai tanda kamu adalah istri yang dewasa dan mampu menenangkan kembali suasana.

Ketika telah sama-sama tenang, ajaklah pasanganmu bicara dan buat kesepakatan agar kesalahan yang jadi sumber masalah tidak lagi terulang kesekian kalinya.

7. Dan hanya di pelukannya kamu bersedia berbagi cerita dan keluh kesah. Kamu pun siap menyediakan rengkuh saat lelahnya datang

jangan cuma mau dimengerti kamu juga wajib mengerti via elizabethwellsphoto.com

Pada akhirnya, kalian adalah rumah bagi masing-masing. Cuma pelukannya yang paling nyaman bagimu, hal yang sama juga berlaku bagimu. Bahwa hanya pelukanmu yang dia cari saat lelahnya datang. Dan kini kamu tahu harus melangkah kemana, setiap kali kekalutan dalam pikiran datang.

Karena setelah menikah, perjalanan hidupmu malah baru akan dimulai setelahnya. Jangan hanya pikir enaknya saja. Justru setelah ini, kamu harus berjuang lebih keras lagi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya