Menemani sahabat yang sedang patah hati memang susah-susah gampang. Hatinya yang sedang terluka menjadi lebih sensitif dari yang seharusnya. Segala sesuatu yang sebenarnya biasa aja, bisa jadi sangat menyebalkan bagi mereka.

Pernah nggak sih kamu merasa serba salah saat temanmu curhat putus cinta? Ingin mengatakan ini itu tapi takut malah membuatnya semakin sedih? Niatnya menghibur, tapi siapa sangka kalimat penghiburanmu justru membuatnya tambah galau. Memang begitu kalau sedang patah hati. Dunia jadi jumpalitan dan serba menyedihkan.

Nah, kalau temanmu curhat lagi patah hati, hindari mengucapkan hal-hal ini ya!

1. “Bagus deh! Aku emang nggak pernah suka sama dia…” Bukannya menghibur, ini malah akan membuat temanmu semakin merasa buruk

Bagus deh kamu nggak sama dia lagi! via id.pinterest.com

Sebenci apapun kamu pada mantan pacarnya sahabatmu, percayalah, ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan hal itu. Bagaimanapun juga, mantan adalah orang yang pernah sangat spesial bagi sahabatmu, bahkan masih sangat spesial sampai hari saat dia nangis-nangis patah hati.

Advertisement

Mengatakan keburukan-keburukannya justru membuat sahabatmu merasa bodoh karena membuka hati untuk orang yang tidak tepat. Patah hati aja udah sangat buruk, kamu nggak perlu membuatnya merasa seperti orang paling bodoh di dunia.

2. “Kalian memang seharusnya nggak pernah pacaran. Kamu pantas dapat yang lebih baik.” Plis, jangan 🙁

‘maksudmu selama ini aku buang-buang waktu pacaran sama dia?’ via www.gurl.com

Berbeda tapi mirip-mirip dengan poin pertama, kalimat “kalian memang seharusnya nggak pernah pacaran” juga haram untuk kamu ucapkan saat sahabatmu patah hati. Kecuali kalau kamu memang berniat membuat sahabatmu merasa bego banget bisa pacaran dengan mantannya yang menurutmu nggak ada bagus-bagusnya.

3. “Kalian ‘kan pacaran belum lama, jadi santai aja.” Lama/nggak lama, tetap aja sakitnya menyiksa

Mau lima tahun atau lima minggu, yang namanya hubungan kandas pasti menyisakan luka yang sama sakitnya. Intinya, setelah ini sahabatmu harus segera melupakan mantannya dan melanjutkan hidup. Jangan menyuruhnya santai aja, karena kamu sendiri kan nggak tahu rasanya.

4. “Tenang aja, kamu masih muda. Hidup masih panjang.”

hidup memang masih panjang, tapi ini sakit lho… via www.smsglitz.com

Mungkin sebenarnya kamu ingin bilang bahwa patah hati adalah hal yang biasa di usia muda. Masih banyak ikan di laut, dan mati satu tumbuh seribu. Niatnya menghibur, tapi coba bayangkan kamu jadi sahabatmu. Saat menjalin hubungan dengan seseorang, kamu pasti punya proyeksi untuk masa depan. Dan sekarang setelah semuanya kandas, sahabatmu harus memulainya dari awal lagi. Hidup bisa jadi masih panjang. Tapi bukan berarti dia mau patah hati berkali-kali dong ya~

5. “Coba kita kepoin Path-nya. Dia galau juga nggak ya?”

stalking mantan adalah kesalahan besar via kelascinta.com

Jangan. Pernah. Menyarankan. Ini.

Pokoknya jangan. Itu benar-benar bisa berujung cilaka. Nge-stalk media sosial mantan adalah racun bagi orang yang baru patah hati. Pertama, dengan melihat timeline media sosial mantannya, sahabatmu akan teringat lagi pada kenangan-kenangan manis mereka berdua. Atau bisa juga teringat detik-detik mereka putus. Apapun, sama saja efeknya. Bikin makin sedih dan galau.

Kedua, siapa tahu mantan sahabatmu juga sedang memposting ungkapan-ungkapan galaunya di media sosial. Lebih buruk lagi kalau sang mantan bikin postingan sindiran. Karena nggak tahan, temanmu lalu menimpali dengan postingan yang nggak kalah galau dan nyindir. Ujung-ujungnya, sahabatmu dan sang mantan jadi perang update-an dengan tagar #NoMention. Nggak habis-habis.

6. “Percuma kamu galau lama-lama, ayo keluar, ayo makan-makan!” Patah hati butuh waktu lho buat disembuhkan…

semuanya butuh waktu via viiva.com

Galau lama-lama memang nggak ada gunanya. Sahabatmu pasti juga udah tahu soal itu. Bukan cuma kamu, sahabatmu juga ingin segera move on dan menemukan cinta baru. Memangnya siapa yang mau patah hati lama-lama? Tapi yang namanya patah hati nggak semudah mengatasi emosi saat kita nonton drama korea lho. Saat di depan TV, mungkin kita bisa menangis habis-habisan saat ada adegan sedih, dan tertawa-tawa kemudian saat ada adegan yang lucu. Tapi ini realita. Yang dihadapi sahabatmu adalah hidupnya sendiri. Setidaknya, dia butuh waktu untuk beradaptasi pada kekosongan yang ditinggalkan sang mantan *Elaaah…*

6. “Kamu mau aku kenalin sama ini gak? Kalau sama itu gimana?” Yaelah, baru aja putus, belum sembuh lukanya, udah disuruh kenalan sama orang lain

Kamu sabar aja ngedengerin curhatannya. Gak usah dijodohin dulu lah. via drprem.com

Mungkin maksudmu ingin membantu supaya sahabatmu segera move on dan nggak sedih-sedih lagi. Makanya kamu menawarkan diri untuk menjadi mak comblang. Tapi tolong ya. Sahabatmu kan barusan aja patah hati. Kalau aja kelihatan, luka di hatinya masih basah dan harus ditutup plester. Membuka diri untuk orang lain jelas sesuatu yang sulit.

7. “Harusnya kamu bersyukur lho masih dikasih ujian kecil gini. Banyak tuh orang di dunia luar yang keadaannya lebih sulit” ?!?!

Tuh lihat tuh anak-anak Palestina… via www.fuelyourphotography.com

Weeeell, putus cinta mungkin memang nggak seberapa dibandingkan permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak kecil yang nggak bisa sekolah di Palestina. Atau persoalan ketidakadilan yang masih banyak terjadi di Indonesia. Bisa jadi temanmu memang harus bersyukur karena putus cinta sekarang daripada nanti menikah dan gagal. Mungkin benar juga kalau temanmu memang lebay galaunya.

Tapi apapun alasannya, bukan hal bijaksana mengatakan hal itu pada sahabatmu yang patah hati. Mengatakan hal itu bisa terkesan memberitahu bahwa dia nggak tahu diri, meski sebenarnya kamu nggak bermaksud begitu.

Udah lagi sedih ditinggal pacar, dibilang nggak tahu diri lagi. Terus aku harus pura-pura happy gitu?

8. “Sudahlah, mungkin ini yang terbaik bagimu.” Benar sih, tapi biarkan dia mengerti sendiri — jangan diceramahi

semuanya tentang why, why, dan why via stylistuff.com

Kamu selalu percaya bahwa semua hal terjadi karena ada alasannya. Kamu yakin sang mantan bukan orang yang tepat untuk sahabatmu. Mungkin lebih baik bagi mereka untuk berpisah sekarang daripada nanti-nanti dan membuat lukanya semakin dalam. Kamu tahu, barangkali ini yang terbaik untuk sahabatmu. Tapi jangan paksa sahabatmu untuk memahami hal ini.

Berdamai dengan hati dan kenyataan adalah hal yang sulit dilakukan oleh sebagian besar orang. Bukannya dia kurang berjiwa besar, hanya saja semuanya butuh waktu dan proses. Lama kelamaan sahabatmu akan mengerti sendiri. Kamu tidak perlu menceramahi.

Jadi, kalau nggak boleh ngomong 8 hal di atas, kamu harus ngomong apa dong?

“Kamu butuh apa? Apa yang bisa aku bantu? Mau nginep di kamarku?”

Intinya, biarkan dia yang menentukan apa yang harus dia rasa dan inginkan. Tugasmu adalah mendengarkan.

Menghadapi orang patah hati memang serba salah. Tapi tenang, sebenarnya sahabatmu hanya butuh pendengar kok. Nggak perlu mengatakan apa-apa, kamu cukup ada saat dia membutuhkanmu. Itu sudah sangat membantunya 🙂