Sebelumnya, ijinkan aku untuk meminta maaf atas segala salah yang telah kuperbuat. Maaf jika selama ini aku tak sempat meluangkan waktu untuk bersamamu. Sibuk dengan pekerjaanku yang selama ini menyita waktu. Bertemu dengan-mu pun serasa hanya sebatas angin lalu.

Aneh rasanya ketika aku mencoba untuk menulis surat ini padamu. Lama kusadari meski kita tinggal dalam satu atap, namun seperti ada jarak dan benteng yang tak terlihat. Membuat kita jarang sekali mengobrol santai, dan mencurahkan isi hati masing-masing. Namun tahukah engkau Ayah, bahwa sebenarnya aku rindu?

Aku adalah anakmu yang paling beruntung. Sebelum kelahiran adik-adik ke dunia, kita punya waktu untuk menghabiskan hari berdua

Rindu kau dulu via inspiringimages.blogspot.com

Sebagai anak pertama, aku sadar bahwa akulah yang paling banyak menghabiskan waktu bersamamu. Pernah kau mengajakku ke kota untuk sebuah urusan. Jarak rumah yang 5 jam perjalanan memaksa kita untuk menginap.

Di waktu malam tiba, engkau mengajakku keluar, menikmati indahnya suasana “Kota Besar” . Berhenti makan di warung lesehan pinggir jalan, dan dengan PD-nya menjelajah banyak toko tanpa keluar dengan menenteng barang belanjaan satupun. Aku ingat, ketika kita akhirnya sampai di depan restoran burger yang terkenal dengan ikon badutnya, tak kusangka engkau mengajakku masuk. Perasaanku waktu itu gembira bukan main – meski kita hanya keluar dengan sepucuk es krim vanilla.

Advertisement

Aku juga ingat ketika masih kecil, kita bertiga sering bepergian menggunakan sepeda motormu yang – mungkin pada masa itu adalah sepeda motor paling keren yang pernah ada – pelesir ke pantai, ke rumah nenek, pokoknya kemanapun kita pergi, selalu mengendarai sepeda motor itu. Hanya kita bertiga, engkau, aku, dan juga Ibu. Ah! Kenangan bersama motor butut itu tak akan pernah kulupa. Sayang, sekarang benda antik itu sudah tak tahu dimana rimbanya.

Seiring aku beranjak remaja, ego sebagai pria sering memunculkan kerikil di antara kita. Aku kerap memberontak, tapi bukan berarti ku tak cinta

Berdebat tentang berbagai masalah via www.onlineparentingcoach.com

Tak jarang kita berselisih pendapat tentang banyak hal, selalu ingin bicara tanpa ada yang mau mendengarkan. Berdebat, tanpa ada yang mau mengalah. Kita berdua sama-sama merasa paling benar, dan ketika “titik didih” itu tiba, sering aku melenggang pergi dari medan tempur. Dan saat itu pula-lah kau selalu mengeluarkan jurus terkhir-mu.

“Kalau sedang dinasehatin orangtua itu didengerin, jangan malah ngeloyor pergi”

Terenyuh rasanya hati ini jika mendengarmu berbicara seperti itu. Ayah, bukan maksudku tak punya rasa hormat kepadamu, maupun tak menghiraukan pendapatmu. Aku hanya tak ingin perdebatan-perdebatan kecil kita menjadi ketegangan yang malah justru menimbulkan amarah.

Bukan cuma sekali aku mempertanyakan rasa cintamu padaku. Kenapa kau selalu tenang, tidak seekpresif Ibu?

Seakan tak peduli via www.thefashionisto.com

Ayah memang tak pernah seekspresif Ibu.  Waktu itu, aku yang belum genap berusia dua belas, harus pergi jauh dari rumah dalam rangka menuntut ilmu. Waktu itu, Ibu dengan bebasnya memelukku, mencium pipi kanan-kiriku, sembari sesekali menitikkan airmata, namun yang kulihat Ayah hanya diam terpaku, hanya sesekali mengusap rambut dan bahu-ku.

“Mungkin sebenarnya Ayah  juga ingin melakukan seperti yang Ibu lakukan. Tapi mungkin Ayah hanya ingin menjaga emosi”

Namun di balik segala sesuatu yang kita alami, aku sungguh sadar bahwa Ayah bertindak seperti itu karena Ayah peduli

Aku tahu kau peduli via blog.retex.com.br

Engkau adalah seorang Ayah yang unik. Unik karena ternyata Ayah lebih cerewet dari Ibu. Ayah yang paling ribut jika sudah berbicara mengenai kebersihan rumah. Ayah pula yang paling “risih” jika ada sesuatu yang tak pada tempatnya. Tak jarang pula hal-hal kecil itu menyeret kita pada perdebatan-perdebatan yang semestinya tak perlu kita lakukan.

Tapi Ayah, dibalik itu semua aku sangat sadar bahwa  Ayah sesungguhnya amat sayang kepada kami- kepada aku dan adik-adik. Engkau secara tak langsung mengajarkan kami agar bisa mandiri. Memberitahu kami apa-apa yang mungkin tak bisa kami dapatkan di bangku sekolah maupun kuliah.

Anak lelakimu ini memang belum bisa membahagiakan dan membuatmu bangga. Tapi Pak, aku tak pernah alpa menyebutmu dalam setiap doa

Kusebut namamu dalam tiap doaku via www.lawrencewilson.com

Maafkan aku Ayah, aku tak bisa menjadi seorang anak yang baik, yang bisa menuruti semua inginmu. Bahkan di usiaku yang sudah seperempat abad ini, aku belum bisa menghadirkan kebahagiaan ke dalam hidupmu. Aku belum bisa membuatmu bangga.

Namun percayalah Ayah, bukan berarti aku tak berusaha, bukan berarti aku tak cinta, bukan berarti aku tak hormat. Yang bisa ku-lakukan kini hanyalah menyebut namamu dalam setiap doa, memohon kepada-Nya agar Dia senantiasa menjagamu seperti saat kau menjaga-ku disaat aku masih kecil.

Dari Putra-mu yang rindu,,,