Kita kerap kelabakan dalam membedakan perasaan ingin mengasihi dengan ambisi ingin memiliki. Keduanya sama-sama mengandung cinta dalam kadar dan wujud yang juga hampir serupa. Seolah-olah ada yang kurang ketika sedang menjalani rasa yang sama. Kita merasa ada hal-hal yang tak dapat terjangkau dan ingin rasa meraihnya. Alhasil, rasa ingin memiliki justru menguasai demi asa ingin meraih yang-belum-terjangkau. Inilah jebakan semu yang acapkali membuat kita sampai pada cinta yang sungguh berlebihan.

Ambisi yang kemudian ingin menguasai hanya menjadikan partner tak ubahnya sebuah materi, benda semata yang dapat dimiliki begitu saja. Padahal partnermu saat ini adalah sebuah kehidupan yang memiliki pilihan. Dia memiliki hak untuk tidak kamu miliki. Sebaliknya, dia memiliki banyak anugerah yang paling hakiki, yakni cinta untuk dibagi. Beruntunglah kamu mendapatkannya hingga saat ini. Lalu untuk apa kamu terlalu sibuk ingin memiliki?

Tanda sayang tidak perlu berlebihan. Kamu tetap bisa mengerti tanpa mengekang. Asalkan kalian hidup dalam cinta yang menjunjung kesederhanaan.

Kesederhaan adalah sebuah kemewahan via www.danielakphotography.com

Sungguh, ketika sebuah hubungan menjadi ajang pengekangan dengan dalih sikap posesif yang berlebihan, maka pasti sudah bahwa hubungan tersebut masuk dalam jebakan romantisme tanpa makna. Ditambah lagi munculnya pembelaan semu bahwa tindakan posesif adalah wujud sayang untuk mengerti yang terdalam. Padahal, kedalaman sebuah hubungan dapat dicapai tanpa ada sikap saling melarang dan mengekang. Salah satu cara yang cukup sederhana adalah menjalin cinta yang menjunjung tinggi nilai kesederhanaan.

Ini bukan hanya soal materi. Sederhana di sinilah adalah sebuah pengakuan dari masing-masing pihak bahwa kepercayaan adalah kunci dari segalanya. Sederhana bukan? Tak perlu banyak aturan dan syarat-syarat mengekang. Percayalah, ketika saling percaya, maka kedalaman hubungan akan lebih dari sekadar keinginan untuk saling memiliki. Masing-masing akan saling mengerti dan mencintai tanpa harus diawasi.

Memang perlu mengetahui aktivitasnya sehari-hari, supaya kamu bisa memberi dukungan yang mengena di hati. Tapi tak perlu menerapkan aturan wajib lapor. Ingat, kamu bukan polisi.

Advertisement

Cukuplah dengan obrolan ringan via favim.com

Ya memang perlu untuk tetap mengerti aktivitas sehari-hari meski tidak ada kesepatan saling mengawasi. Namun, kesepakatan seperti ini dibentuk untuk memberikan dukungan yang tepat, bukannya sebagai bahan untuk menjadi polisi cinta. Bayangkan saja, hubunganmu tak ubahnya seperti komandan dan anak buahnya; satu melapor yang lain. Akan lebih baik, jika kamu dapat lebih cerdas memposisikan diri. Berilah dukungan yang tepat dan seimbang sesuai dengan aktivitas yang sedang dilakukannya. Sederhana, bukan?

Jangan paksa dia untuk masuk ke duniamu terlalu dalam. Akan lebih indah jika kalian tetap akrab di balik perbedaan.

Sendiri-Sendiri Bukan Berarti Tak Peduli via thefilmexperience.net

Lagipula buat apa juga kamu memaksa dia untuk masuk ke duniamu begitu dalam. Hanya karena kamu posesif? Bijaklah sedikit. Setiap orang memiliki dunia yang berbeda. Walaupun menyenangkan ketika memiliki banyak kesamaan bersama pacar, namun perlulah disadari juga bahwa perbedaan adalah poin penting yang tak dapat diabaikan. Sebenarnya, ketika sebuah hubungan dapat mengelola perbedaan dengan bijak, maka kebahagiaan dan keseruan akan dapat dengan mudahnya didapat. Sedangkan, terlalu banyak kesamaan akan berpotensi untuk membuat hubungan menjadi cepat membosankan. Begitu-begitu saja. Oleh karena itu, alangkah baiknya kamu mulai mengelola perbedaan agar hubunganmu lebih berwarna. Bukannya masing-masing pihak memaksa untuk masuk ke dunianya lebih dalam.

Pemaksaan hanya akan membuat hubungan hambar. Bukankah kalian ingin mengejar hal-hal besar? Alangkah baiknya jika saling mengerti dan percaya bahwa ke depan hidup kalian akan semakin berbinar.

Biarkan dia terbang bersamamu.. via palavracronica.com

Beberapa dari kita mungkin akan begitu saja melakukan apa yang diminta oleh partner kita. Demi langgeng dan bertahannya sebuah hubungan. Begitulah alasan klasik yang kerap muncul. Namun, bukankah itu justru akan membuat kita hidup dalam keterpaksaan? Dan hidup dalam keterpaksaan akan menghambat senyum ceria di pagi hari. Akibatnya, hubungan akan menjadi hambar karena beberapa hal dilakukan tidak sepenuh hati.

Kita terkadang terlalu sombong dengan mengaku bahwa kitalah yang tahu apa yang terbaik buat pasangan kita, sehingga yang ada hanyalah pemaksaan. Ini sungguh fatal karena kita tidak percaya pada kemampuannya untuk maju dan berkembang. Padahal akan lebih menyenangkan ketika kita dapat lebih optimis padanya. Sehingga energi yang mengalir dapat mendorongnya untuk lebih baik dengan caranya sendiri.

Ingatlah bahwa masa depannya tidak hanya ditentukan olehmu. Jangan halangi dia hanya karena kamu rasa, kamulah yang memiliki hidupnya.

Saling memiliki itu baik, tapi bersama dalam langkah yang berlainan lebih luar biasa via slism.com

Tak usahlah merasa juga bahwa kamulah yang paling memiliki dan bertanggungjawab terhadap masa depannya. Itu adalah sikap yang melelahkan dan juga sama sekali tak membuktikkan cinta sejati. Akan lebih baik jika kamu ikut membantunya untuk menjaga relasi di sekitarnya. Sebab, hal-hal seperti itulah yang akan mengantarkannya ke puncak karier. Dan bukankah sebuah kebahagiaan ketika kamu berhasil membantunya untuk sampai ke puncak keberhasilan? Bayangkan, ketika kamu mengekangnya untuk bertemu teman-temannya karena sikapmu yang posesif, berapa kesempatan yang kamu hilangkan dari dirinya untuk maju satu langkah ke lantai kesuksesan? Apakah itu bentuk cinta sejati?

Percayalah, jika kamu dan dia sepakat dengan rasa yang sama, maka tidaklah perlu membatasi ruang geraknya. Bebaskanlah cintamu demi kisah yang menandai berkesannya masa muda.

Jadilah pasangan yang visioner via wide-wallpapers.net

Cukuplah dengan kesepakatan untuk menjalani rasa yang sama dan saling percaya. Dua hal itu akan membuatmu paham batas-batas tanpa harus saling melarang untuk hidup bebas. Sebabnya, kamu tidak ingin merusak kepercayaan yang diberikan dan mengkhianati kesepatan rasa. Beda halnya dengan pengekangan. Sebaliknya, dengan pengekangan kamu akan selalu ingin melanggar.

Kesempatan menjalin hubungan adalah sebuah momentum untuk berkembang bersama-sama, bukannya ajang saling mengekang. Ingat, kalian masih muda dan masih banyak hal yang perlu dilakukan demi kehidupan yang baik di masa depan. Isilah proses tersebut dengan cinta yang membebaskan agar ketika tua nanti kalian mengingat bahwa ada kesan manis yang tinggal di masa muda.

Kadang kita tak sadar telah menjalani cinta yang posesif. Gejala pertama yang dapat dilihat adalah ketika kamu mulai merasa khawatir secara berlebihan. Di saat itulah kamu membentuk sendiri ketakutanmu. Lalu merambat begitu saja. Sampai pada ketakutan dia akan pergi dari dirimu. Segala yang bersinggungan dengannya akan kamu baca sebagai ancaman yang dapat menjauhkan kalian berdua. Sikap ini muncul karena kamu menaruh cinta yang berlebihan bukan berbagi rasa yang sama. Cobalah lihat kembali bahwa kisah yang demikian tak akan pernah abadi, sebab kamu didorong oleh rasa takut dan khawatir. Padahal cinta yang sejati adalah perasaan yang didorong oleh hati yang damai. (#migmegalau)