Tak ada yang bisa menyangkal bahwa beban yang disematkan kepada anak pertama memang berat. Kata orang Jawa, anak pertama itu harus bisa “mbabat alas”. Artinya harus bisa membuka jalan untuk membantu adik-adiknya kelak. Namun beban tersebut mau tak mau dijalani tanpa pernah mengeluh. Karena kami sadar bahwa masa depan keluarga ada di tangan anak pertama, maka tak ada waktu untuk berkeluh kesah.

Demi menjadi pelindung dan tembok kokoh untuk saudara-saudara, anak pertama dituntut untuk pantang menyerah. Kalau kamu adalah anak pertama, mungkin hal-hal ini yang sudah khatam kamu rasakan.

1. Memahami bagaimana sulitnya masa awal keluarga, anak pertama paham makna berjuang. Hatinya sudah terbentuk agar tak mudah karam

Tahu betul perjuangan awal keluarga via www.juliepepin.com

Terlahir sebagai anak pertama membuka mata anak pertama akan betapa sulitnya kehidupan awal keluarga. Waktu itu, kehidupan ayah dan ibu belum semapan sekarang. Ayah masih harus bekerja siang malam guna mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ibu pun juga harus membagi waktunya untuk bekerja dan merawat anak pertamanya ini. Dulu, mereka tak keberatan jika harus makan seadanya.

Namun tak ada keluh yang terucap dari bibir mereka. Anak pertama sudah terbukti ketangguhannya dan membuat para orangtua sadar bahwa kebahagiaan itu nyata. Masa-masa awal yang masih penuh perjuangan ini mengajarkan anak pertama untuk tak mudah menyerah.

2. Sejak kecil diajarkan untuk mau mengalah dari saudara-saudara membentuk mental sekuat baja. Anak pertama bukan orang yang gampang menyerah

Advertisement

Mengalah… via twistedsifter.com

“Ji, ya ngalah dong sama adeknya”
“Tapi buk, ini kan punyaku…”
“Ya tapi kamu kan udah gede,”

Sudah tak terhitung lagi berapa kali anak pertama dinasehati untuk selalu mengalah pada saudara-saudaranya. Mulai dari membagi makanan, mainan hingga baju kesayangan. Jujur saja, mana ada sih anak kecil yang rela membagi barang kesayangannya?

Namun anak pertama diwajibkan untuk membagi bahagia kepada saudaranya. Meski awalnya merasa tak adil, namun lama kelamaan hal ini mengajarkan anak pertama untuk mau berbagi. Perlahan hal ini membuat mental mereka kuat dalam menerima kekalahan dan kehilangan. Didikan orangtua tersebut mengajarkan anak pertama bahwa kehilangan dan berbagi itu perlu, agar mereka selalu berusaha lebih giat demi mencapai angan yang setiap hari semakin tinggi.

3. Pantang bagi anak pertama untuk mengeluh. Bercerita tentang keluh kesah hanya akan menciutkan semangat juang

Memahami betapa sulitnya perjuangan orangtua membuat kami paham akan makna perlunya hati yang kuat. Meski diterpa masalah sedemikian rupa, ayah dan ibu tak pernah mengeluh. Sedari kecil menyaksikan perjuangan mereka yang tak kenal lelah membentuk mental sekuat baja bagi anak pertama. Pantang bagi anak pertama untuk mengeluh saat ada masalah. Daripada mengeluh, lebih baik menambah porsi bekerja agar yang diinginkan tercapai dengan segera. Masih ada kebahagiaan keluarga yang harus diperjuangkan. Bagi anak pertama, mengeluh hanya akan menciutkan semangat juang!

4. Anak pertama memang hobi memerintah. Namun sejatinya ada makna di balik setiap perintah yang diutarakan

Ada maknya di setiap kata yang diutarakan via www.juliepepin.com

Tak ada yang bisa menyangkal jika anak pertama dibilang memiliki hobi memerintah. Karena sedari kecil anak pertama merasa memilki kuasa atas saudara-saudaranya, hobi memerintah anak pertama semakin menjadi-jadi. Namun meski anak pertama memiliki hobi memerintah, di balik itu ia adalah pribadi yang sangat menyayangi keluarga.

Perintah-perintah yang ia berikan kepada adik-adiknya adalah bentuk latihan agar sang adik tak terbuai dengan kemudahan. Sebagai anak yang paham perjuangan orangtua, anak pertama ingin saudara-saudaranya turut mengerti makna berjuang dan tak terlena oleh segala fasilitas kemudahan yang dimiliki sekarang.

5. Ia adalah tembok kokoh sandaran bagi adik-adiknya. Tempat dimana saudara-saudaranya bercerita tentang masalah yang mereka punya

Punya bahu kokoh untuk adiknya bersandar via www.juliepepin.com

Layaknya tembok kokoh yang siap melindungi dari angin dan hujan, anak pertama memiliki bahu yang kokoh dan punggung lebar yang siap melindungi saudara-saudaranya. Ia paham betul bahwa sudah jadi tanggung jawab anak pertama untuk berdiri di baris depan mengayomi adik-adiknya. Ia tak boleh goyah sebagai sandaran tempat adik-adiknya bercerita tentang segala masalah mereka. Ia harus jadi tembok yang tak hanya melindungi, namun juga menghangatkan. Yang bisa memberi solusi saat adik-adiknya kebingungan. Menjadi sosok yang mampu diandalkan.

Kalau boleh bicara jujur, anak pertama tentu paham betapa tak mudahnya menjadi sosok yang menghangatkan. Perjuangannya berat dan dipenuhi batuan yang menghadang. Tentu ada pula masa dimana anak pertama juga menangis. Saat ia merasa tak tahu harus bagaimana lagi menjadi andalan bagi keluarga. Saat ia merasa beban berat yang disematkan padanya mulai menggerogoti kekokohan dirinya. Namun tangis dan keluh itu tak pernah ia umbar. Karena biar bagaimanapun, menjadi tembok kokoh bagi keluarga adalah sebuah kebanggaan bagi anak pertama.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me