Sebuah hubungan cinta yang ideal seharusnya melibatkan 2 orang dengan takaran perasaan yang sama. Namun dalam kenyataannya, cinta tidak bekerja seperti seorang hakim yang adil. Kadang ada satu orang yang memiliki perasaan lebih dalam pada pasangannya, sementara sang pasangan hanya mencintainya dengan kadar biasa saja.

Apakah kamu termasuk orang yang mencintai lebih dalam di hubungan yang sedang dijalani? Perasaan-perasaan ini pulakah yang kamu rasakan?

1. Kamu Merasa Bisa Memberikan Apapun yang Kamu Miliki Demi Kebutuhan Pasangan

Kamu bisa memberikan apapun yang kamu miliki via www.axioo.com

Memenuhi kebutuhannya adalah tujuan utamamu mendampinginya. Melihat dia nyaman dan tercukupi jadi kebahagiaan tersendiri untukmu. Kamu akan memberikan apapun yang kamu miliki, dengan ikhlas, demi membuatnya merasa genap.

Mulai dari waktu, bantuan tenaga, telinga yang selalu mau mendengar, hingga jadi pemberi saran saat dibutuhkan: dalamnya perasaanmu membuat segala pengorbanan itu terasa masuk akal. Kamu tidak keberatan mencurahkan segala yang kamu miliki dalam diri demi membantunya menghadapi kesulitan.

2. Kamu Akan Berusaha Keras Memahami Jalan Pikiran dan Perilakunya, yang Kadang Berseberangan Dengan Gayamu

Advertisement

Kamu berusaha memahami kegemarannya via youngmegan.wordpress.com

Kamu adalah gadis yang sama sekali buta soal permainan online seperti DotA. Tapi pacarmu adalah penggila DotA militan. Dia bisa terjaga sepanjang malam hanya demi menuntaskan permainan. Pembicaraannya pun berkisar seputar trade, rare item, support, dan berbagai istilah lain yang tidak kamu pahami.

Namun, perasaan yang dalam membuatmu dengan senang hati mendengarkan ceritanya. Bahkan sedikit-sedikit kamu juga berusaha mengenal istilah-istilah DotA. Meski tidak masuk akal bagimu saat seseorang rela begadang semalaman hanya untuk memelototi layar komputer, tapi selama dia bahagia maka kamu akan berusaha mengerti.

Perasaanmu yang lebih dalam membuat kamu rela berusaha ekstra untuk “masuk” ke dalam otak dan gaya hidupnya. Meski sulit, kamu akan terus mencoba. Sampai bisa.

3. Kamu Jadi Pihak yang Lebih Sering Mencemaskannya

Kamu jadi pihak yang yang lebih sering cemas via www.ananalogaffair.com

Ketika kamu tak ada kabar seharian, pasanganmu akan tenang-tenang saja. Dia akan berpikir bahwa barangkali kamu sibuk bekerja atau ada urusan dengan teman. Namun ketenangan macam itu tidak berlaku untukmu. Kamu yang mencintai lebih dalam akan lebih sering mencemaskan pasangan.

Ditengah kesibukanmu akan terbersit kekhawatiran sederhana, misal: “Apakah dia sudah makan?”, “Apakah dia tidak bangun kesiangan?”, “Bagaimana persiapan ujiannya tanpa kehadiranmu untuk membantunya?”

Terkadang hatimu mencelos saat menyadari bahwa pasangan yang kamu cintai itu tidak mengkhawatirkanmu sesering yang kamu lakukan. Ketika dia menganggap kamu bisa menjalani hari sendiri tanpa perlu didampingi. Namun kamu hanya akan memilih diam, sembari berusaha untuk jadi pendamping yang lebih baik lagi.

4. Kamu Rela Menyesuaikan Diri, Sementara Dia Kadang Enggan Mengerti

Dia enggan memahamimu via s641.photobucket.com

Ada masa kamu harus masuk ke sisi kehidupannya yang belum pernah kamu ketahui sebelumnya. Semisal, ibunya datang dan kamu harus menemaninya jalan-jalan. Atau ketika secara mendadak harus makan malam dengan sepupu-sepupunya yang belum pernah dia perkenalkan.

Menghadapi momen penyesuaian diri macam itu, kamu akan berusaha keras untuk membawa diri sebaik mungkin. Kamu ingin masuk ke lingkungannya dengan transmisi halus agar bisa diterima oleh orang-orang terdekatnya dengan tangan terbuka.

Namun keadaannya berbeda 180 derajat ketika datang giliran pasanganmu yang harus menyesuaikan diri. Dia tampak ogah-ogahan, bahkan tidak jarang menghindar. Lebih dari sekali kamu akan merasa kecewa, karena melihat pasanganmu yang terlihat enggan berusaha.

5. Dia Akan Jadi Prioritasmu, Tapi Kamu Belum Tentu Jadi Prioritas Baginya

Kamu tidak jadi prioritas baginya via www.newlifeimage.com

Kamu rela saat harus mengambil rute memutar selepas pulang kantor demi bisa makan malam bersama. Di tengah jadwalmu yang padat, kamu akan menyempatkan diri menemaninya mencari buah tangan untuk keluarganya di kampung halaman (karena kamu tahu dia malas masuk pasar sendirian dan tidak bisa menawar).

Terlepas dari tanggung jawab dan beban kerja di kepalamu, pasanganmu akan tetap jadi prioritas. Kalau perlu kamu rela, deh, membelah diri agar semua kewajiban bisa dijalani. Sayangnya, hal serupa tidak kamu dapatkan dari pasangan. Baginya, kamu bukanlah seseorang yang layak diprioritaskan.

Ketika kamu sudah susah payah meluangkan waktu agar bisa bertemu, dia dengan ringan membatalkan pertemuan kalian karena alasan kemalasan. Jika sudah begini, kamu pun jadi bertanya-tanya:

Memangnya aku sebegitu nggak pentingnya ya buat dia?”

6. Saat Ada Kesalahpahaman, Kamu Jadi Pihak yang Lebih Sering Mengalah

Kamu lebih sering mengalah pada pasangan via www.kiasubride.com

Saat hubunganmu dilanda masalah, kamu lebih sering meminta maaf dan mengalah. Rasa sayang yang lebih dalam membuatmu enggan berkonflik dengan orang yang sangat kamu cintai ini. Walau terkadang kesalahan tidak sepenuhnya ada di pihakmu, tapi kamu tidak keberatan mengaku salah dan membuka komunikasi kembali lebih dulu.

Sementara pasanganmu bisa dengan keras kepala mempertahankan pendiriannya, kamu akan jadi pihak yang berusaha mendapatkan hatinya kembali. Bukan sekali-dua kali kamu didiamkan berhari-hari karena sebuah kesalahan kecil. Padahal saat pasanganmu yang melakukan kesalahan, kamu akan dengan ringan melupakan dan memaafkannya tanpa diminta.

Rasa sayang yang dalam ditambah rasa takut kehilangan akan membuatmu jadi pemaaf handal, yang terkadang juga bodoh.

7. Kamu Menganggap Dia Adalah Masa Depanmu, Padahal Dia Hanya Melihatmu Sebagai Episode Kehidupannya

Dia tidak menganggapmu sebagai masa depannya via www.kitchenerphotography.co.uk

Rasa sayang yang kamu rasakan akan membuatmu menempatkannya sebagai bagian masa depan. Di benakmu sudah terbayang bagaimana hidup akan kalian jalani bersama. Impian macam apa yang akan kalian wujudkan berdua. Tapi sayang, pasanganmu tidak punya visi yang serupa.

Dia hanya menganggapmu sebagai bagian dari salah satu episode kehidupan, yang suatu saat akan berakhir. Ketika kamu membicarakan rencana masa depan dengan excited, dia hanya akan menanggapinya dengan datar. Saat kamu memandang hubungan kalian bisa bertahan selamanya, pasanganmu seakan sudah yakin bahwa hubungan ini akan menemui titik akhirnya.

8. Karena Takut Kehilangan Dia, Kamu Menurunkan Standar yang Sudah Kamu Tetapkan Sendiri

Kamu takut kehilangan dia via 500px.com

Pasanganmu adalah orang yang sangat berarti dalam hidupmu. Bahkan, bisa dibilang dialah poros yang membuat kehidupanmu berputar. Membayangkan rasa kehilangan saat harus melepaskannya sangatlah tak tertahankan.

Rasa takut kehilangan ini secara tidak sadar menurunkan tingkat ekspektasimu sendiri. Jika sebelumnya kamu merasa harus diperlakukan dengan sangat baik oleh pasangan, maka kini kamu terima-terima saja saat tidak diprioritaskan. Selama ini kamu sangat benci pada pria perokok, tapi khusus untuk pasanganmu kamu akan membuat pengecualian.

Demi dia, kamu rela menurunkan standar yang selama ini sudah kamu buat sendiri. Ketika jadi pihak yang lebih dalam mencintai, kamu kadang lupa menepati janji pada diri sendiri.

9. Perlahan, Kamu Memunculkan Pemakluman-Pemakluman yang Berusaha Kamu Percayai

Kamu memunculkan pemakluman yang berusaha kamu percayai via www.theuppermost.com

Sebenarnya kamu sadar bahwa hal yang kamu lakukan tidaklah tepat. Secara tidak langsung kamu sedang mempercundangi diri demi mempertahankan orang yang kamu kasihi dengan sepenuh hati. Namun lagi-lagi, cinta yang sangat dalam membuatmu tidak mau lekas pergi.

Saat pasanganmu melakukan sesuatu yang menyakitkan, kamu akan menghibur diri dengan memunculkan berbagai pemakluman. Semacam,

“Dia gak bermaksud gitu kok.”

“Ini ujian aja untuk menguji ketulusanku.”

“Aku kuat, kok. Gak pa-pa,”

Pemakluman-pemakluman ini secara tidak sadar kamu ciptakan demi mengobati kekecewaanmu. Perlahan, kamu mulai mempercayai pemakluman-pemakluman tersebut. Jika ini terus berlanjut, kamu bisa hidup dalam hubungan penuh ilusi yang kamu ciptakan sendiri.

10. Kamu Memilih Untuk Membatasi Diri Sendiri Agar Tidak Terlalu Bahagia, Supaya Tidak Sangat Sakit Nantinya

Kamu tidak ingin jadi terlalu bahagia via janisratnieks.blogspot.com

Setelah menyadari bahwa kamulah yang lebih mencintai pasangan, kamu mulai memasang benteng pertahanan bagi hatimu sendiri. Kamu tahu bahwa suatu hari kamu pasti sakit hati, karena itu saat ini lebih baik kamu menjaga diri agar tidak terlalu bahagia.

Ketika ada momen menyenangkan yang menghangatkan hatimu, kamu menggaungkan pada diri sendiri bahwa momen ini pasti akan terganti dengan kesedihan lain. Kamu berusaha meyakinkan diri untuk tetap bertahan, sebab paling tidak kini hatimu terpakai.

Quote dari Murakami ini selalu terngiang di kepalamu setiap pasangan melakukan hal yang manis:

“I think this time when you loved me will pass away, and another blue will replace it.”

11. Rasa Cinta yang Berat Sebelah Membuatmu Mulai Tidak Mencintai Diri Sendiri

Kamu kehilangan rasa cinta pada diri sendiri via pedalfar.tumblr.com

Saat orang yang kita kasihi tidak membalas kasih yang kita berikan secara sepadan, kita mulai mempertanyakan kualitas kita sebagai pasangan. Apakah memang kita tidak layak untuk dicintai dengan dalam, atau kita hanya jatuh cinta pada orang yang salah?

Pertanyaan tentang kualitas diri yang digaungkan secara berulang-ulang perlahan membuatmu kehilangan rasa cinta pada diri sendiri. Bahkan tidak jarang benci. Kamu merasa tidak cukup baik untuk dicintai, tidak layak untuk dikasihi. Buktinya, pasangan yang sudah kamu banjiri perhatian saja tidak bisa jatuh hati.

Rasa ini bisa jadi sangat menyiksa. Kamu akan merasa tidak punya kelebihan yang mampu membuat orang lain mengasihimu. Tidak peduli betapa keras kamu berusaha, kamu akan selalu jadi orang yang punya cinta besar dan tidak pernah dibalas dengan sepadan.

12. Jadi Pihak yang Mencintai Lebih Dalam Membuatmu Sadar, Perasaan Tidak Bisa Dipaksakan

Tidak ada perasaan yang bisa dipaksakan via mysticallabyrinth.blogspot.com

Perasaan bukanlah pertandingan tinju yang melibatkan pukulan yang harus dibalas dengan pukulan lain. Cinta juga bukan jual beli, yang harus selalu membawa keuntungan bagimu. Rasa sayang dan perhatian tidak bisa diatur dan dipaksakan kemunculannya.

Pernah jadi pihak yang mencintai lebih dalam membuatmu sadar betul bahwa tidak ada perasaan yang bisa dipaksakan. Walau terkesan menyakitkan, tapi pasanganmu memang punya hak untuk tidak mencintaimu sedalam kamu menyayanginya. Kamu tidak berhak minta dikasihani, dia pun tidak layak disalahkan.

13. Pengalaman Jadi Pihak yang Mencintai Lebih Dalam Membentukmu Jadi Pribadi yang Tulus

Kamu kini jadi orang yang lebih tulus via lessonsfrommovies.net

Barangkali kamu bertahan dengan pasangan yang sama, atau memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya. Apapun keputusanmu atas hubungan yang sedang dijalani, pernah jadi orang yang lebih mencintai akan menggemblengmu jadi orang yang lebih tulus setelahnya.

Kamu akan mengerti bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa pretensi. Ketika fokusmu hanya memberikan yang terbaik, tanpa pernah minta balik dihargai. Pemahaman ini tidak akan datang jika kamu tidak pernah jadi pihak yang lebih mencintai. Bagaimanapun tidak enaknya, ternyata ada sesuatu yang bisa kamu syukuri.

Perjalanan cinta memang tidak selalu manis. Pernah jadi orang yang mencintai lebih dalam adalah salah satu episode cinta yang tergolong tidak menyenangkan. Namun, kamu tetap bisa kok mengambil hikmah dari hal yang tidak mengenakkan tersebut.

Semoga kehidupan cintamu makin hangat dan menggenapkan, ya!