Rasa dalam hati manusia beraneka ragamnya. Ada suka, kagum, cinta, dan obsesi. Membedakan antara suka, kagum, dan cinta akan lebih mudah. Suka atau kagum adalah rasa yang berdasarkan pada ‘karena’. Sedangkan cinta, seringnya tanpa sebab yang pasti. Ataupun kalau memang ada sebabnya, biasanya kamu nggak tahu apa.

Di sini cinta mirip-mirip dengan obsesi. Karena dalam obsesi, kamu juga seringnya nggak tahu alasan di balik obsesimu. Cinta dan obsesi juga sama-sama membawa gejala sulit tidur, sulit makan, dan apa-apa mengingatkamu padanya. Tapi tentu saja cinta dan obsesi itu beda. Nah, sebelum kamu salah-salah mengartikan rasa yang ada dalam hati, ini dia perbedaan antara cinta dan obsesi

1. Cinta adalah perasaan ingin terus memberi. Obsesi adalah rasa ingin terus memiliki

Obsesi adalah rasa ingin memiliki via ihaveredshoes.deviantart.com

Ada perbedaan mendasar antara cinta dan obsesi. Saat kita mencintai seseorang, kita selalu ingin memberi dan membuat orang yang kamu cintai bahagia. Tapi jika perasaanmu itu hanya berupa rasa ingin memiliki yang sangat kuat sampai kamu rela melakukan apa saja untuk bisa memilikinya, itu adalah obsesi. Cinta memang perlu diperjuangkan. Tapi selalu ada batasnya.

Seperti kata syair-syair pujangga, cinta tak selalu harus memiliki. Cinta bisa terjadi dan terus ada, meski kamu hanya bisa menatapnya diam-diam dari jauh. Berbeda dengan obsesi, perasaanmu padanya semata-mata hanya ingin memiliki. Rasa ingin memiliki itu tidak ada batasnya, sebelum kamu benar-bena mendapatkannya, meski itu dengan cara-cara yang negatif.

2. Cinta adalah saat kita belajar untuk menyayangi orang lain lebih dari diri sendiri. Sedang dalam obsesi apapun yang kamu lakukan hanya demi dirimu sendiri

Advertisement

Dalam obsesi semua dilakukan untuk diri sendiri via www.hipwee.com

Saat kita jatuh cinta, adalah saat kita belajar untuk menyayangi dan mengusahakan yang terbaik untuk orang lain. Karena cinta, kamu selalu ingin berusaha menjadi sosok yang lebih baik setiap harinya. Kamu berusaha sekuat tenaga untuk memantaskan dirimu sehingga layak bersanding dengannya. Tujuanmu hanya satu, membuatnya bahagia, yang berarti membuat dirimu sendiri bahagia juga.

Tapi dalam obsesi, apapun yang kamu lakukan adalah demi dirimu sendiri. Hasrat untuk memiliki itu begitu besarnya, dan kamu pun akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan. Berubah menjadi sosok lain bisa saja kamu lakukan, tapi itu bukan untuk memantaskan diri agar bisa bersanding dengannya, tapi semata-mata untuk bisa membuatnya menjadi milikmu.

3. Cinta adalah menerima — membiarkannya mengasah diri sendiri lalu memeluk hasilnya. Obsesi adalah keinginan untuk membentuknya jadi sosok yang kamu suka

Cinta adalah penerimaan apa adanya via redredapples.wordpress.com

Saat kamu mencintai seseorang, kamu menerima dia apa adanya. Rasa suka yang kamu punya nyaris tidak perlu usaha. Maksudnya, meski dia tampil begitu apa adanya, punya kekurangan yang sering membuatmu sebal, terkadang bersikap begitu menjengkelkan, tapi kamu tetap merasa senang bersamanya. Apa adanya dia kamu terima. Berdua kalian saling berusaha untuk memantaskan diri demi hari-hari di masa depan.

Jika rasa yang kamu punya adalah obsesi, kamu akan memaksa dia untuk menjadi apa yang kamu mau. Kamu mengharuskan dia begini dan begitu. Kamu memaksa untuk menerapkan standarmu kepadanya, dan kamu tidak akan berhenti sampai dia benar-benar menjadi sosok yang kamu inginkan.

4. Cinta tidak perlu pernyataan, karena cinta lebih dari sekadar kata-kata. Tapi obsesi memerlukan penetapan. Status yang pasti harus kamu dapatkan sebagai tanda kamu memang memilikinya

Cinta tak perlu pernyataan via familias.com

Karena cinta tak harus memiliki, cinta juga tidak membutuhkan pernyataan sejelas proklamasi kemerdekaan. Banyak cinta yang hanya dipendam dalam hati, dan banyak juga dua orang yang bersama saling mengasihi dan menyayangi meski tidak pernah ada pernyataan cinta di antara keduanya. Cinta lebih dari sekadar kata-kata.

Sementara dalam obsesi, pernyataan yang tegas dan jelas perlu kamu dapatkan. Dia harus mengatakan ‘aku cinta kamu selamanya’ dan membuktikan pernyataannya dengan perbuatan-perbuatan yang jelas terlihat. Jika itu belum terjadi, kamu selalu merasa belum aman dan tidak tenang. Obsesi selalu membutuhkan pernyataan tegas bahwa kamu memang memilikinya.

5. Memang tidak ada yang mau patah hati dan sakit hati. Tapi jika ketakutanmu akan ditinggalkan begitu kuat dan rela melakukan apapun agar dia tidak pergi, mungkin kamu hanya terobsesi

Apapun dilakukan agar dia tak pergi via keluarga.com

Orang bilang ketika kita jatuh cinta, kita harus siap juga untuk patah hati. Memang tidak ada orang yang mau patah hati, tapi memang begitulah adanya. Terkadang rasa cinta yang kita berikan tidak berbalik sebanding dengan apa yang kita dapatkan. Apa yang mati-matian kita pertahankan, ternyata memang lebih baik untuk dilepaskan. Cinta tidak pernah egois. Meski terkadang menyakitkan, tapi ada batas-batas yang jelas apakah hubungan bisa diteruskan atau tidak.

Sementara obsesi, ketakutan akan ditinggalkan itu begitu nyata… Rasa insecure itu begitu hebat kamu rasakan, karena kamu tidak bisa membayangkan bagaimana jika akhirnya dia meninggalkanmu. Dan untuk membuatnya tetap tinggal, kamu akan melakukan segala cara. Kamu tidak mau tahu apa isi perasaannya, yang jelas dia harus tetap bersamamu

6. Cinta memberikan kebebasan, karena cinta juga butuh ruang untuk berkembang. Tapi jika kamu hanya terobsesi, bersikap posesif dan membatasi segala kegiatannya akan kamu lakukan

Cinta juga butuh jarak. Jika cintamu benar-benar nyata, kamu akan memberinya ruang untuk berkembang. Tentu karena kamu dan dia punya rencana di masa depan. Dan kamu tahu bahwa dunianya tidka hanya terpusat kepadamu saja. Kamu memberinya kebebasan, dan kalian sama-sama berkembang untuk menjadi yang lebih baik.

Dalam obsesi, kamu memaksakan dirimu untuk jadi pusat dunianya. Kamu sering bersikap posesif dan membatasi segala aktivitasnya. Kamu juga sering merasa curiga dia mengkhianatimu di belakang. Semua itu karena rasa tak tenang dalam pikiranmu karena takut ditinggalkan.

7. Yang paling utama, jika perasaanmu hanya obsesi saja, saat dia sudah menjadi milikmu, rasa itu juga akan menghilang dengan sendirinya. Karena obsesimu telah terpuaskan

Rasa obsesi akan menghilang dengan sendirinya via segiempat.com

Karena obsesi adalah hasrat ingin memiliki semata, saat kamu berhasil mendapatkannya, perasaan dalam dirimu juga akan perlahan-lahan menghilang. Obsesi dalam dirimu sudah terpenuhi, sehingga apa yang sudah kamu miliki tidak menarik lagi. Ibaratnya, saat kamu begitu ingin makan di sebuah restoran X. Kamu berusaha sekuat tenaga, mengumpulkan uang karena konon katanya mahal, meluangkan waktu di sela-sela jadwal yang padat, dan ketika akhirnya kamu berhasil makan di sana, kamu hanya akan merasa ‘Oh begini.’. Begitu pula dengan obsesi. Rasa yang menggebu itu akan hilang jika dia yang kamu inginkan sudah menjadi milikmu.

Sekilas cinta dan obsesi memang sulit dibedakan. Apalagi kalau kamu sedang dilanda asmara. Seringnya kita kesulitan memilah apakah perasaan kita cinta yang sesungguhnya atau rasa penasaran semata. Sebelum semuanya terlambat, ada baiknya kamu belajar untuk memahami perasaanmu sendiri agar tidak tersesat di ruang yang salah.