Ketika kata “putus” itu terucap dari bibir pasangan yang sudah tak lagi merasa nyaman dalam sebuah hubungan, banyak diantara kalian yang merasa iba dan kasihan kepada si wanita. Seolah dia lebih menderita daripada pria saat hubungan yang sudah dirajut lama berhenti tanpa ada kepastian. Memang wanita lebih menunjukkan rasa sakit hati yang dia rasa, tapi tolong mengertilah bahwa aku juga merana kala kita berpisah.

Perlukah aku mengekspresikan pedihnya sakit hatiku di depanmu? Perlukah aku menunjukkan air mataku yang menetes kala aku mengenangmu agar kamu tau bahwa aku juga merasakan perihnya putus cinta?

Memang pada awalnya aku terlihat biasa. Namun kamu juga harus tau bahwa aku pun merasa berat melepas semua kenangan kita

Bisa jadi kala kamu melihatku, kamu berpikir bahwa aku tegar saat menerima akhir hubungan kita. Kala ada teman-temanmu yang menyapa, mereka mungkin mengira bahwa aku lelaki tak punya hati yang berusaha secepat mungkin mencari penggantimu tak lama setelah kita berpisah. Tidak! kalian salah, semua itu hanya kedok sok kuat yang kutunjukkan agar aku terlihat fokus menatap masa depan.

Padahal kenyataannya tak seperti itu. Sama seperti hatimu yang pedih kala kata putus itu terucap, hatiku juga merasakan hal yang sama. Dalam pikiranku, berat rasanya melepas semua kenangan tentang kita. Sedari dulu kita sudah bersama hingga punya kebiasan yang membuatku makin cinta. Melepasnya jelas tak semudah membalikkan telapak tangan.

Dalam gayaku yang terlihat tampak cengengesan saat bertemu denganmu, sebenarnya masih ada sedikit pedih yang terasa kala aku menatap matamu

Keliatan senyum via galoremag.com

Advertisement

Mungkin saat kita tak sengaja kita bertemu di suatu tempat, kamu melihatku mudah tertawa dan terlihat begitu tenang. Dalam hati, bisa jadi kamu berpikir bahwa aku adalah tipe lelaki pada umumnya yang setelah putus lantas merasa bebas berbuat sesuka hatinya.

Yang perlu kamu tau, sejatinya tawaku adalah cara menutupi pedihnya sakit hati. Setiap kali kita bertemu, menatap matamu selalu membuatku mengingat tentang saat kita bersama. Mau tak mau pasti aku merasakan rindu yang berujung pada pedih di hati. Maaf kalau sikap dan tawaku saat bertemu malah membuatmu berpikir bahwa aku lelaki tak tau diri. Aku hanya tak ingin kamu melihat sisiku yang satu ini.

Aku hanya tak mau menunjukkan pedihnya perasaanku di depanmu. Aku tidak mau dikasihani hanya karena menyimpan rasa

Dalam hati, aku juga ingin berkata jujur kepadamu bahwa aku masih menyimpan rasa. Aku pun ingin berbicara jujur bahwa sejatinya juga merasa sakit hati kala hubungan ini harus diakhiri. Hanya saja aku tak tega untuk berbicara kepadamu soal perasaanku. Aku punya alasan tersendiri mengapa aku tak menunjukkan kepadamu bahwa sampai saat ini aku masih mencintaimu.

Sebagai pria, aku tak ingin kamu merasa iba kepadaku. Pun demikian dengan perasaan tak tega, aku tak ingin kamu punya perasaan tak tega sehingga mempengaruhi perasaanmu kepadaku. Aku tak ingin bahwa meski kita nanti masih punya kemungkinan untuk kembali, semua itu didasari oleh rasa iba dan gak tega.

Aku juga tak mau kamu merasa terganggu dengan kabar bahwa aku masih merindukanmu. Aku ingin kamu fokus meniti jalan hidupmu sendiri

Berlagak biasa via wayaengopi.blogspot.com

Pun demikian dengan fakta bahwa kamu mungkin terganggu saat mendengar berita aku masih merindukanmu. Aku hanya tak mau setelah kamu tau kenyataan bahwa sebenarnya aku masih merindumu, pandanganmu kepadaku jadi berubah. Entah antara kamu jadi makin tak menganggapku atau justru jadi merasa bersalah atas perasaanku.

Aku tak mau itu. Aku ingin kamu fokus memikirkan masa depanmu sendiri dan meniti jalan hidupmu. Aku diam dan cenderung bercanda karena aku tak mau kamu terganggu. Kuharap kamu mampu fokus kepada pilihan hidup yang kamu pilih sendiri.

Meski sejatinya, aku juga menangis di sudut rindu. Sampai saat ini, aku tak mampu menghapus kenangan saat kita berdua tertawa bahagia

Kenangan via www.genmuda.com

Memang sih aku bertingkah biasa saja di depanmu. Aku juga bertingkah dengan penuh tawa kala kita tak sengaja bertatap muka entah dimana. Hanya saja, kamu tak tau bahwa sejatinya aku juga meneteskan air mata rindu. Aku pun turut menangis di sudut rindu setiap kali mengingat kenangan berdua.

Sebenarnya aku juga tau bahwa hal itu tak perlu. Aku dan kamu sudah memutuskan untuk berpisah. Mengangisimu tak akan merubah segalanya. Hanya saja, entah kenapa aku masih saja meringukan momen berdua kita. Pada akhirnya, aku kalah dengan kenangan. Saat kita bersama selalu saja melintas dan membawa serta rindu untuk datang menjengukku.

Dari sini aku akan selalu berdoa yang terbaik bagimu. Toh kalau jodoh, kita pasti akan berakhir bersama, dan kalau tidak ya mau tak mau aku harus terima

Biar Tuhan yang mengatur via patriziamat.tumblr.com

Kamu tak perlu risau. Aku memang masih merindumu. Tapi aku tak akan mengganggumu lagi. Aku percaya pada suratan takdir. Apapun salahku dan apapun salahmu dulu, semua itu adalah masa lalu. Aku sudah tak peduli lagi dengan semua itu. Daripada berpikir masa lalu, aku lebih memilih untuk mendoakan yang terbaik bagimu.

Aku percaya, kalau jodoh tak akan kemana. Misalkan kita memang jodoh, Tuhan dan alam semesta akan berusaha untuk menyatukan kita. Demikian juga jika kita memang tak berjodoh. Meski aku menunjukkan air mata dan pedih patah hati yang kurasa, tetap saja kita tak mungkin berakhir berdua. Di akhir kisah, semoga Tuhan selalu memberi yang terbaik untuk masa depan kita 🙂