“Masak, macak, manak.”

Di Jawa istilah tersebut sering ditempelkan pada para perempuan sebagai gambaran tentang bagaimana tugas mereka sehari-harinya. Memasakkan makanan untuk suami dan anak-anaknya, macak atau bersolek untuk suaminya, dan manak atau beranak untuk meneruskan keturunan keluarga. Hanya tiga tugas itu yang dimiliki perempuan? Jika iya, si perempuan ini sebenarnya asisten rumah tangga/sekretaris pribadi atau pasangan hidup ya?

Atas nama tugas yang kemudian dikaitkan dengan kodrat, perempuan diminta tinggal di rumah untuk mengurus semua urusan rumah tangga dan merawat suami serta anaknya. Keinginannya untuk bekerja terkadang harus ditinggalkan atas nama kodrat.

Duh, Bang, kalau aku kamu nikahi nanti, cukup jadikan aku istri ya. Bukan asisten rumah tangga atau sekretaris pribadi~

1. Bang, aku sih maunya kita bisa membedakan. Membedakan kodrat dan anggapan yang dibuat-buat

Melahirkan juga pilihan, bukan kodrat via youtube.com

Advertisement

Kodrat perempuan adalah untuk mengalami menstruasi, selebihnya adalah pilihan. Bahkan perempuan boleh memilih untuk hamil dan melahirkan atau tidak. Jika mereka memilih untuk tidak melakukan itu, ya boleh saja. Apalagi urusan menyapu dan mencuci piring. Itu jelas bukan kodrat! Pekerjaan rumah tangga seharusnya bisa dibagi sekeluarga dan dikerjakan bersama-sama.

2. Kita menikah untuk saling mencinta, bukan menghamba. Boleh ‘kan Bang kalau itu pendapatku?

Jangan jadikan aku pembantu via wallpaperscraft.com

Usai menikah laki-laki sering kali lupa apa alasan mereka menikah. Cinta hanya bertahan dalam hitungan bulan saja, lalu selanjutnya hubungan berubah menjadi relasi tuan dan hambanya. Siapa harus patuh pada siapa dan siapa yang harus menurut jelas terlihat. Nama agama pun dibawa-bawa agar tindakan sewenang-wenang ini bisa disahkan begitu saja.

3. Kalaupun aku harus melepaskan pekerjaan, bisakah itu hanya untuk sementara?

Dian Sastro aja kembali ke dunia film via youtube.com

Perempuan yang menikah kemudian hamil dan melahirkan biasanya menjadi alasan utama untuk berhenti bekerja. Mengurus si kecil di rumah kemudian menjadi tugas utamanya. Apakah tidak bisa jika perempuan hanya berhenti sementara saja atau cuti dalam bekerja kemudian membesarkan sang anak bersama-sama?

4. Aku tak mau hanya bertugas di dapur, sumur, dan kasur

Aku tak harus menyuapimu juga kan? via popsugar.com

Kita semua punya skill yang berbeda dan tak semua perempuan ahli memasak dan mengurus rumah tangga. Jika harus menjadi “pembantu”, apa perempuan yang memiliki kemampuan untuk menulis lagu harus menyerah pada pisau dan bumbu-bumbu? Dan apakah perempuan memang hanya bertugas memuaskan suaminya saja di dapur, sumur, dan kasurnya?

5. Aku enggan bangun sebelum matahari terbit dan tidur setelah matamu terbenam

Aku tidur setelah kau tertidur via dramafever.com

Sebagai sebuah rumah tangga yang berlayar pada tujuan yang sama, kita harus saling bekerja sama. Bukan menitikberatkan pada pembagian tugas saja, tapi juga pada bagaimana kita saling membantu menyelesaikan tugas itu. Agar perempuan tak terus dieksploitasi dan digugurkan mimpi-mimpinya hanya demi pernikahan yang (katanya akan) harmonis.

6. Hubungan kita adalah suami istri, bukan tuan dan budaknya

Suami mendikte istrinya via expertbeacon.com

Suami dan istri memiliki kekuatan cinta yang tidak akan mendikte sebuah perintah, tapi bagaimana membuat perintah dan melaksanakannya bersama-sama. Jika sudah menjadi tuan dan budak, maka artinya hanya ada satu pihak yang berkuasa dan lainnya hanya menurut saja, seperti itukah cinta? Pantaskah jika cinta memiliki arti menguasai yang lainnya?

7. Kaulah pemimpin di keluarga kita dan akupun sama

Istripun seorang pemimpin via beritadaerah.co.id

Perempuan melakukan semuanya tapi tak dianggap sebagai pemimpin. Laki-lakilah yang tetap menjadi pemimpin di manapun dan kapanpun, apalagi di dalam keluarga. Padahal perempuan yang mengetahui semua hal yang berkaitan dengan urusan rumah, juga tentang anak-anaknya. Sayang, pendapatnya jarang didengar dan hanya diminta untuk menganggukan kepala saja.

8. Daripada menjadikan aku asistenmu, lebih baik kita saling menyatu

Biarkan kita menyatu via kepoinseleb.com

Bukankah lebih manis jika kita saling mencintai, memberi arti, dan menghargai kualitas diri? Kau mengejar mimpimu dan akupun tak meninggalkan mimpi-mimpimu. Kita buat mimpi-mimpi kita menguatkan layar perahu rumah tangga kita dan saling membantu mewujudkan mimpi kita bersama-sama. Tidakkah itu lebih indah?

Tak semua laki-laki menjadikan istrinya sebagai “pembantu” dan tak semua perempuan yang menjadi “pembantu” itu benar-benar tersiksa dan tidak bahagia. Adapula perempuan yang memang memiliki passion untuk menjadi perempuan rumahan, tapi adapula yang tidak. Ini adalah tentang mimpi-mimpi perempuan yang seringkali harus dihapus dari kehidupannya, tentang mereka yang tak mau menjadi “pembantu” tapi harus rela menjalani perannya.