“Pagi ini, aku terbangun dengan hati yang berdebar. Di jari manisku, sebuah cincin sederhana melingkar. Ah, ini bukan hanya sekadar perhiasan. Bukan hanya benda yang bisa dibeli lagi setelah mengumpulkan uang jika ia hilang. Lebih dari benda mati, cincin ini adalah doa: semoga kasih sayang pemiliknya tak akan pernah ada ujungnya. Aku pun sempat terkesiap ketika sadar bahwa cincin ini pun adalah tanda; tanda bahwa sebentar lagi, aku akan melepas hidupku yang lama, dan kehidupan bersamamu akan menjadi penggantinya.

Halo, Sayang, apa kabarmu hari ini? Apakah sama berdebarnya seperti yang kurasakan belakangan ini?

apakah kamu juga berdebar? via rebloggy.com

Hari ini kita tidak diizinkan untuk bertemu, kata orangtua kita harus dipingit sebagai tanda patuh pada tradisi. Aku juga sudah memutuskan untuk mematikan ponselku seharian ini, sebagai gantinya suratkulah yang akan menjadi pengantar pesan yang juga sepaket dengan rindu. Aku ingin sejenak kita berhenti menghamba pada teknologi, aku ingin mencecap bahagianya ketika membuka dan membaca surat balasanmu nanti.

Semalam kita saling bertukar kabar dan cerita hingga larut. Aku tahu, kamu sekarang masih lelap di bawah selimut bercorak klub bola kesayanganmu – yang kuhadiahkan pada hari lahirmu yang lalu. Iya, aku selalu hafal jam tidurmu karena kamu selalu menghadiahi ucapan selamat pagi sebagai penanda bahwa kamu sudah membuka mata.

Ketika nanti kamu sudah membuka mata dan membaca suratku, aku ingin tahu apa yang kamu rasakan tentang esok hari, tentang kita.

Advertisement

Bahagiakah dirimu karena besok kita akan menjadi satu jiwa? Dan cukup banggakah dirimu memperistri seorang gadis yang begitu sederhana?

Mari sejenak kita tekuni bersama saat awal pertemuan kita. Saat itu, tak ada pikiran bahwa kita akan menjalin masa tua bersama.

pertama kali kita bersua dan terpana via www.eonline.com

Kamu masih lugu, kita masih malu-malu, untuk sekedar mengobrol lebih jauh atau meminta nomor ponselpun lidah ini beku.

Pertemuan pertama kita terjadi di gedung kampus. Iya, kita sama-sama menjadi mahasiswa di universitas yang sama. Walaupun tidak satu jurusan, namun kelas kita sering berseberangan. Aku melihatmu di pagi hari, saat kelas jam 7 belum dimulai.

Saat itu, akupun sendirian, sedang terpisah dari gerombolan. Aku hendak berjalan ke dalam kelas, saat lewat di depanmu, ku ucapkan  kata “Permisi” karena takut tidak sopan melewatimu yang nampak asyik menekuni cangkir kopi. Kamu mendongakkan kepala, matamu dan mataku bertemu. Ada gelombang tak terlihat yang saling menautkan mata kita – mungkin hati kita juga, hingga kita agak lama termangu, waktu terasa membeku. Akhirnya kamupun membalas ucapanku dengan senyum manis yang mengembang di wajahmu, tanda sederhana bahwa aku boleh melewatimu menuju kelas kuliahku.

Pertemuan pertama kita selalu terekam jelas di dalam lingkar kepalaku. Beberapa hari setelahnya pun kita makin kerap saling curi-curi pandang dalam diam, alih-alih menanyakan nama, lidah ini tetap masih kelu untuk sekadar melontarkan kata halo yang sederhana. Sampai akhirnya teman sekelasku yang merupakan teman sepermainanmu mengenalkan kita, iya dia menjadi jembatan penghubung kita. Esok, saat kita menjadi ratu dan raja sehari, kita harus mengucapkan beribu terimakasih padanya yang telah berjasa.

Kita mulai merajut cerita, pahit manis kita lalui bersama. Walau tak jarang berselisih, kita memang tak sanggup untuk berpisah dalam jangka lama.

kita mulai merajut cinta via psikologid.com

Kesayanganku, ingatkah kamu ketika masa-masa awal kita menjalin hubungan? Senyummu merupakan candu yang membuatku ingin selalu bersua denganmu setiap harinya. Kamu pun begitu, sudah tak malu-malu untuk mengecup kening dan melontarkan pujian yang meronakan pipiku.

Tahun demi tahun kita lalui bersama, tiada hari tanpa senyum manis maupun genggaman tangan. Namun, di dunia ini memang tidak ada yang sempurna, begitu pula hubungan kita. Hubungan yang terajut lama ini juga tak luput dari segala perselisihan dan pertengkaran. Kita sering beradu argumen karena kesalahpahaman.

Pernah suatu hari kita bertengkar hebat. Tidak ada ‘kita’ di hari itu, yang ada hanya aku dan kamu dengan ego yang merajai.

Aku dan kamu sibuk dengan pikiran masing-masing, memikirkan apa yang salah dalam hubungan kita. Kita mengambil jeda dan jarak. Kita memutuskan untuk tak saling bersua untuk beberapa waktu lamanya. Namun, keesokan harinya kita mulai mencari satu sama lain. Seperti biasanya, kita memang tidak sanggup untuk berpisah dalam waktu lama. Kitapun makin saling meyakini bahwa kita memang ditakdirkan untuk bersama, tanpa jeda pun tanpa jarak.

Dan ingatkah kamu pada ekspresi wajahmu saat memberanikan diri menghadap Ayah dan Ibu serta keluarga besarku?

ketika kamu bertemu dengan keluarga besarku via www.brides.com

Satu lagi ingatan manis yang selalu lekat dan ku putar berulang-ulang di dalam lingkar kepala, ingatan di malam kamu datang ke rumah untuk meminangku. Aku ingat betapa kamu terlihat gugup dan salah tingkah, namun kesungguhan nampak lekat dari raut mukamu. Pun ketika kamu berkata kepada ayahku jika kamu ingin meminta anak sulungnya sebagai teman menuamu. Kamu menggenggam pelan jemariku seiring dengan anggukan dari ayah tanda bahwa beliau setuju.

Aku bisa merasakan euforia bahagiamu yang menjalar di ruangan tempat kita duduk bersama. Kamu mengecup lembut keningku – tentu saat ayah dan ibu sudah beranjak ke ruangan lainnya. Kita mulai berandai-andai tentang masa depan. Memikirkan tanggal yang tepat serta konsep pernikahan.

Hari-hari setelahnya kita lewatkan bersama untuk berburu gedung pesta, kita juga kerap mencari info tentang baju pengantin yang istimewa dengan harga yang tetap terjangkau kantong kita. Tak lupa kita bahu membahu menuliskan nama teman dan kerabat di kartu undangan yang akan kita sebar.

Bahkan, rasa gembira kita di malam itu tak pernah alpa mengisi hari-hari kita ke depannya. Kita melanjutkan lamunan sampai sedemikian jauhnya. Ada berapa jumlah anak kita nanti, siapa namanya, atau berapa anjing yang akan kita adopsi demi membuat rumah mungil kita makin ramai. Kita bahkan sering menghabiskan waktu untuk bertualang ke semua toko peralatan rumah tangga yang ada di kota. Untuk sekedar cuci mata, atau membeli satu dua perlengkapan.

Iya, aku dan kamu sama-sama tidak sabar untuk saling bertautan tangan menapaki babak baru dalam hidup kita. Pernikahan.

Besok kita akan menjadi satu jiwa, menuntaskan masa kita di dunia bersama-sama, sudah siapkah dirimu menjadi belahan jiwa sekaligus kepala keluarga?

kita akan menautkan jemari via becuo.com

Dalam hitungan kurang dari sehari, kita akan mengucapkan janji suci di hadapan ratusan pasang mata serta Sang Maha Pencipta. Kita akan menjadi raja dan ratu sehari dengan tak lupa mengucap janji sehidup semati. Sahabat serta kerabat akan menjadi saksi kita untuk bertukar cincin dan saling menautkan jemari. Iya, kita akan menjadi satu kesatuan utuh mulai esok pagi.

Di hari-hari berikutnya, kita akan terbangun di tempat tidur yang sama. Kamu akan menjadi orang pertama yang parasnya akan kutatap lekat saat pertama kali membuka mata. Begitupun saat kita berangkat dan pulang kantor bersama, kita akan saling mengecup pipi sebagai tanda berpisah dan berjumpa. Di sisa hari, kita akan menghabiskan waktu dengan berpelukan dan bercengkerama.

Sungguh, aku tidak sabar untuk segera menyandang nama belakangmu dan jadi bagian dari dirimu.

Kelak kita akan membesarkan benih cinta bersama, darahmu dan darahku akan bersatu membentuk makhluk lucu yang akan mewarnai hari-hari kita dengan tangis dan rengek manja. Aku akan berperan menjadi seorang ibu yang mengayomi dan kamu akan menjadi seorang ayah yang menjadi panutan. Aku sungguh telah siap memasuki dunia baruku bersamamu, calon suamiku.

Dariku,

Wanita yang siap menjadi teman menuamu serta kelak menjadi ibu dari anak-anakmu.