Virgiawan Listanto atau pria yang akrab disapa “Iwan Fals”, lahir di Jakarta, 3 September 1961. Terlepas dari asam manis kehidupan Om Iwan yang harus berurusan dengan pihak keamanan, kesederhanaan dan ketekunannya menggeluti dunia musik patut diacungi jempol. Umurnya memang tak muda lagi, tapi buah karya bermusiknya sungguh masih menjadi konsumsi terfavorit seluruh penduduk negeri, tak terkecuali pemuda & pemudi ibu pertiwi. Bait demi bait lirik penuh makna yang tertuang dalam ratusan lagu miliknya, mampu melahirkan musik bergizi tinggi. Lagu-lagu Om Iwan merupakan bentuk dari potret nyata kehidupan sosial di Indonesia dan dianggap sangat mewakili isi hati masyarakat kecil yang tidak dapat bersuara. Berikut 10 lagu milik Om Iwan yang sukses menggetarkan hati seisi bumi ibu pertiwi: 

 

1. Siang Seberang Istana

Kotak semir mungil dan sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata yang sudah terbiasa

Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah di atas tubuh yang resah
Ribuan jerit di depan hidungmu (matamu)
Namun yang ku tahu tak terasa mengganggu

Terenyuh, kata tepat yang mewakili perasaan, ketika menghayati bait demi bait lirik "Siang Sebrang Istana" (tahun rilis 1984). Terbayang wajah anak kecil malang sedari pagi hingga siang, berjuang banting tulang untuk mencari penghidupan. Berjalan mengikuti kemana arah angin berhembus, sambil menenteng kotak semir mungil dan dekil, mirip tubuhnya. Sedangkan hari semakin siang, matahari semakin panas, si kecil yang rapuh dan lusuh tak sanggup lagi berjalan. Langkah kaki semakin berat terasa, tenggorokannya kering, perutnya kosong sedari pagi menahan lapar. Si kecil terkapar di jalan sana, di sana, di seberang istana. Nampaknya pemandangan itu sudah biasa menjadi konsumsi mata penjaga-penjaga istana. Begitupula dengan sang pemilik singgasana, mengalihkan pandangan, acuhkan rintihan. Sungguh merana tiada tara.

2. Sore Tugu Pancoran

Anak kecil jualan koran

Anak kecil jualan koran via http://images.detik.com

Setiap kita pasti memiliki sebuah mimpi, cita-cita, keinginan, dan harapan yang tentu ingin kita raih. Begitu juga dengan Budi, seorang anak kecil yang terkisah dalam lagu Om Iwan "Sore Tugu Pancoran" (tahun rilis : 1985). Demi meraih cita-citanya, Budi kecil harus rela mengorbankan waktu, pikiran, dan tenaga. Keadaan Budi tidak seberuntung anak-anak sebayanya yang masih sempat untuk bermain dan tertawa. Sadar akan kurangnya kemampuan ekonomi orang tua, Budi memeras keringat dengan berjualan koran sepulang sekolah. Berjalan dari siang hingga menjelang maghrib, mengitari tugu pancoran, meski panas terik atau hujan mengguyur sekalipun, Budi tetap pasang badan mengais rezeki.

Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran
Menjelang maghrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal

 

3. Surat Buat Wakil Rakyat

Lagu ini dirilis pada tahun 1985, menjelang pemilu. Lagu ini sempat dicekal oleh pemerintah, karena dianggap dapat merusak stabilitas negara dengan liriknya yang mengandung kritik keras untuk wakil rakyat. Berikut penggalan liriknya:

Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman-teman dekat
Apalagi sanak famili

Saudara dipilih bukan dilotere
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam juara he eh juara hahaha

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu "setuju"

Pada kenyataannya lagu ini memang sangat amat mewakili jeritan hati rakyat. Mendapati wakil rakyat tertidur saat sidang, mengetahui kebohongan mereka asik bertamasya ria lewat dalil study banding, bahkan bukan rahasia lagi kalau gedung DPR diisi dengan dinasti family, membuktikan lagu ini memang refleksi dari realita yang ada. Sedangkan di luar sana, rakyat kecil berharap perubahan. Menitipkan nasib dan hidupnya di tangan mereka yang tidak amanah. Sungguh miris tak ada habisnya.

4. Bento

Bisnisku menjagal jagal apa saja
Yang penting aku senang aku menang
Persetan orang susah karena aku
Yang penting asyik sekali lagi

Khotbah soal moral omong keadilan
Sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu lobi dan upeti
Woow jagonya

Maling kelas teri bandit kelas coro
Itu kantong sampah
Siapa yang mau berguru datang padaku
Sebut tiga kali namaku Bento Bento Bento

Bento (tahun rilis 1989). Banyak sekali penafsiran dari judul lagu ini. Bahkan Om Iwan sempat mendapat sedikit masalah karena ada rumor bahwa Bento diambil dari nama anak presiden kita terdahulu. Tapi menurut Om Iwan sendiri, Bento diambil dari nama anak ayam yang dia pelihara hingga besar. Pokoknya terlepas dari penafsiran judul, lagu ini hits banget dipasaran. Menceritakan tentang seorang penguasa bermuka dua yang haus akan pundi-pundi harta. Tidak peduli apa dan siapa yang dihadapinya, segala cara dilakukan demi mendapatkan keinginannya.

5. Oemar Bakri

Lagu Oemar Bakri dirilis pada tahun 1981. Lagu ini terinspirasi dari sesosok pahlawan tanpa tanda jasa (guru) yang jujur, tekun, dan tulus mengabdi. Oemar Bakri mendedikasikan dirinya untuk mendidik generasi penerus bangsa yang bukan tidak mungkin suatu saat akan menjadi seorang menteri atau bahkan menjadi manusia sejenius Habibie. Namun sayangnya, pengabdian itu tidak terapresiasi maksimal oleh pemerintah. Pasalnya gaji guru pada tahun itu sungguh memperhatinkan, tidak sebanding dengan pengorbanan dan pengabdian. Oleh sebab itu, guru menjadi perhatian bagi Om Iwan. Saat ini mungkin belum merata hingga ke pelosok daerah terpencil, namun pemerintah perlahan-lahan menaikan derajat guru ke tempat yang seharusnya.

 

Oemar Bakri… Oemar Bakri pegawai negeri

Oemar Bakri… Oemar Bakri 40 tahun mengabdi

Jadi guru jujur berbakti memang makan hati

Oemar Bakri… Oemar Bakri banyak ciptakan menteri

Oemar Bakri… Profesor dokter insinyur pun jadi

Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

 

6. Sarjana Muda

Sarjana muda dirilis pada tahun 1981. Lagu ini dianggap sangat mewakili keresahan sarjana-sarjana pencari kerja. Betapa tidak, mari kita simak penggalan liriknya:

Berjalan seorang pria muda
Dengan jaket lusuh dipundaknya
Disela bibir tampak mengering
Terselip sebatang rumput liar
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung semakin terlihat
Dengan langkah gontai tak terarah
Keringat bercampur debu jalanan

Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Mengandalkan ijazahmu

Semakin ubahnya zaman, semakin sulitnya lowongan dan pentingnya sertifikasi pendidikan, tiga hal yang tak terpisahkan. Kian banyak pemuda-pemudi mendapatkan gelar sarjana, tapi hal tersebut bukan sebuah jaminan mendapatkan pekerjaan. Seperti pria muda yang terkisah dalam lagu ini. Berjalan menyusuri kota, demi menemukan sebuah lowongan kerja. Bermodalkan ijazah sarjana dan doa orang tua. Memikul gelisah yang tak terjamah oleh pemerintah. Melalang buana mengerahkan usaha, namun tak kunjung temui cahaya. Sang pria muda hanya kembali membawa pulang rasa tidak enak kepada sang ibu yang banyak berharap.  

7. Tikus-tikus Kantor

Tikus kantor

Tikus kantor via http://4.bp.blogspot.com

Tikus-tikus kantor dirilis pada tahun 1993. Selain mendatangkan kerugian bagi manusia, tikus selalu mencari makan di tempat-tempat yang kotor. Begitulah mengapa, akhirnya mengapa tikus identik dengan koruptor. Melalui lagu tikus-tikus kantor ini, Om Iwan menyentil koruptor-koruptor yang beroperasi di kantor. Tikus kantor biasanya bermuka dua. Ibarat selembar uang kertas, beda tampilan depan, beda tampilan belakang. 

Kisah usang tikus-tikus kantor
Yang suka berenang di sungai yang kotor
Kisah usang tikus-tikus berdasi
Yang suka ingkar janji lalu sembunyi
Di balik meja teman sekerja
Di dalam lemari dari baja

Kucing datang cepat ganti muka
Segera menjelma bagai tak tercela
Masa bodoh hilang harga diri
Asal tak terbukti ah tentu sikat lagi

 

8. Bongkar

Kerusuhan 98

Kerusuhan 98 via http://kabarterpilih.top

Menuai banyak kecaman, lagu bongkar ditulis ulang dengan lirik yang tersaji menjadi lebih puitis, seperti di bawah ini: 

Sabar sabar sabar dan tunggu
Itu jawaban yang kami terima
Ternyata kita harus ke jalan
Robohkan setan yang berdiri mengangkang

Penindasan serta kesewenang-wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan

Lagu ini disodorkan oleh Om Iwan kala dirinya merasakan kekecewaan teramat dalam kepada pemerintah, karena konsernya yang dicekal dan batal tampil di beberapa daerah dengan alasan yang tidak jelas. Semulanya, lirik dalam lagu ini begitu frontal mengkritisi kepemerintahan pada era itu. Namun pada akhirnya, lagu ini disusun ulang dan disajikan dengan lebih puitis. Maknanya masih tentang kesombongan, keserakahan, dan kesewenang-wenangan para penguasa. Lagu ini menjadi soundtrack untuk film Kantata Takwa. Sebuah film yang disutradarai oleh Eros Djarot dan Gotot Prakosa, pengerjaan film ini sendiri dimulai pada tahun 1990. Namun pada akhirnya, film ini baru bisa dirilis pada tahun 2008 karena keadaan politik yang tidak menentu.

9. Manusia Setengah Dewa

Manusia setengah dewa

Manusia setengah dewa via http://4.bp.blogspot.com

Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Suara yang keluar dari dalam goa
Goa yang penuh lumut kebosanan

Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa

Manusia setengah dewa adalah suara dan pengharapan rakyat-rakyat kepada presiden yang baru. Tepat sebelum pemilu 2004 berlangsung, lagu ini dirilis. Suara kebosanan atas permainan-permainan licik pemangku kekuasaan, suara kejenuhan dengan hukum yang dapat dibeli dengan uang, harapan agar keadilan ditegakkan, harapan agar harga-harga kebutuhan pokok diturunkan, semua tertuang dalam lagu ini. Betapa lagu ini sangat mewakili hati dan pikiran rakyat.

10. Ibu

 

Ribuan kilo
Jalan yang kau tempuh
Lewati rintang
Untuk aku anakmu

Ibuku sayang
Masih terus berjalan
Walau tapak kaki
Penuh darah penuh nanah

Seperti udara
Kasih yang engkau berikan
Tak mampu kumembalas
Ibu... ibu...

Ingin ku dekat
Dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur
Bagai masa kecil dulu

Lalu doa doa
Baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas
Ibu... ibu...

Betapa tergetar hati seisi bumi pertiwi, bahkan Om Iwan sendiri sebagai pencipta lagu tak kuasa menahan runtuhan air mata kala menuangkan isi hatinya ke dalam bait-bait lirik. Perjuangan seorang ibu yang tiada akhirnya, mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan anak-anaknya, tidak bisa terbayarkan oleh seberapapun banyaknya uang. Ibu berkorban dengan kaki telanjang demi sebungkus nasi, penyambung hidup sang anak. Ibu adalah satu-satunya manusia yang rela lapar asal anaknya tetap segar. Sungguh lagu ini menyentuh relung hati, menumbuhkan kembali rasa terima kasih kepada ibu yang cintanya tak pernah berhenti.