Menjadi seorang penulis adalah menyibak jalan terjal penuh liku kehidupan. Yup, betapa tidak, pekerjaan sebagai penulis tentu berbeda dengan ragam profesi lainnya. Ia dituntut untuk terus melakukan up grade dirinya sendiri. Mewarnainya dengan pelbagai aneka literatur bacaan, membaca fenomena yang tengah terjadi — entah itu sosial, politik, gaya hidup, bahkan tanda alam, dan sejambreng tuntutan lainnya.

Lalu apa enaknya punya pasangan penulis? Lebih enak punya pasangan insiyur alias anak teknik yang kata orang masa depan lebih cerah. Atau master IT yang tentu kelihatan jenius. Eits, tunggu dulu! Tujuh alasan berikut akan mengubah mindset kamu, kenapa kamu takkan pernah menyesal punya kekasih penulis.

1. Kata demi kata yang dirangkainya menjadi sebuah karya, adalah bukti bahwa dia orang yang sabar.

sabar menemani kekasih via http://www.maiseducativa.com

Seorang penulis dituntut punya kesabaran ekstra. Bayangin aja, saat proses menulis ia sudah mesti menjalani separuh kesabaran hidup. Mengumpulkan data, mencari bacaan yang cocok untuk tulisannya, googling kesana kemari, mengencani petugas perpus, akrab dengan koran, majalah, tabloid dan buku bacaan lainnya. Apakah itu cukup? Belum! Ia harus menuntaskannya menjadi satu tulisan. Artikel pendek, mungkin.

Atau malah cerpen, atau novel yang beratus-ratus halamannya. Atau buku, yang mengajarimu tentang banyak hal; menjadi pelipur lara di saat kau merasa kesepian. Sebuah buku yang mengajarkan how to tentang life skill yang jarang kamu dapatkan di bangku sekolah atau kuliah. Betapapun sederhananya sebuah buku, tentu ia dihasilkan dari perenungan yang mendalam.

Tiap penulis pasti tabah menghadapi itu semua. Kredo yang ia pegang juga cukup keren:

Advertisement

Setebal apapun buku yang ditulis, semuanya berawal dari satu halaman. Satu halaman berawal dari satu paragraf. Satu paragraf bermuasal dari satu kalimat, yang berawal dari satu kata. Dan, satu kata berawal dari satu huruf yang dijentikkan.

Busyet…ratusan halaman yang dihasilkan awal mula dari satu huruf. Kurang sabar apa coba?

2. Kegigihan dan keuletan seorang penulis pantang untuk dipandang sebelah mata. Ini mengukuhkannya menjadi sosok yang ekstra sabar.

Ekstra-sabar kan doi? via http://www.virtual-history.com

Waduh, masih double kuadrat sabarnya? Iya! Coba kamu bayangkan, ratusan halaman yang telah terpacak rapi, diedit berulang kali. Ia memastikan tak ada satupun huruf yang salah ketik. Kalau ada data baru, ia berusaha memasukkan lagi. Sabar, sabar banget pokoknya.

Kalau sudah jadi, ia langsung hunting penerbit. Satu pintu penerbit ia ketuk, tak ada jawaban. Cari penerbit lain, jawabnya: Wah naskah anda bagus, tapi tidak cocok dengan visi misi kami. Cari lagi, ketemu jawaban: Jujur, kami sendiri sedang mengalami kegoncangan keuangan, tolong cari yang lain.

See? Tak ada yang lebih tabah selain penulis, bukan?

3. Karena dia tahu bahwa untuk mewujudkan impian terbesarnya, dibutuhkan sebuah kesabaran yang luar biasa.

Kesabaran sejati seperti tetes embun di pagi via https://tionitroblog.wordpress.com

Ketika naskah disetujui oleh penerbit, mau tak mau ia pasti diwajibkan bikin revisi. Proses editing yang mesti sesuai dengan keinginan penerbit. Ini lumrah, wong bagaimanapun juga penerbit gak mau rugi. Minimal sesuai dengan segmentasi pasar yang dimilikinya.

Kalau proses ini sudah dijabani, minimal separuh kesuksesan sudah di tangan. What? Baru separuh? Iya. Penulis kudu nunggu antre terbit. Syukur-syukur ada launching buku yang mengundang perhatian khalayak. Tapi celakanya ini hanya bagi penulis kondang. Kebanyakan ya mesti bergerilya dengan cara masing-masing. Namanya juga super-ekstra sabar!

4. Dia juga orang yang tangguh dan tak pantang menyerah. Dengan sisa-sisa kesabarannya, dia selalu berusaha untuk produktif menelurkan karya baru.

Kesabaran sejati tak pernah ada ujungnya via http://www.visiblebizness.com

Wah, kalau yang ini kuntilanak saja bisa kabur. Bayangin lagi ya, naskah sudah diterima penerbit, sudah naik cetak, dan sudah launching. Tapi masih kurang satu. Apa hayo? Bayaran!

Royalti, fee, honorarium atau apalah-apalah namanya. Seorang penulis, dengan-sisa-kesabaran-yang-masih-dimiliki, mesti menunggu paling tidak 3 bulan, atau 6 bulan, atau terkadang malah 1 tahun.

Tentu saja kondisi seperti ini butuh kerelaan pasangan. Makanya para penulis dituntut untuk produktif. Ia tak hanya berpangku pada 1 naskah. Tapi ia akan memproduksi beberapa, belasan, bahkan ratusan naskah lainnya. Lakon derita di awal akan terbayar tuntas saat menerima royalti dari beberapa penerbit. Akhirnya kamu yang punya pasangan penulis bisa tersenyum deh.

5. Tak ada yang tahu pasti bagaimana masa depan seseorang nantinya. Namun, seorang penulis selalu optimis menatap hari esok.

Hari esok akan selalu ada. via http://www.mbc.net

Yup…penulis adalah sosok yang penuh asa menatap hari esok. Kebayang ‘kan betapa hebat perjuangan dia melahirkan naskah? Lagipula jantung acap berdebar menunggu kiriman royalti. Konon, kata orang, di dunia ini hanya ada dua yang membuat jantung berdegup harap-harap cemas.

Pertama, saat kita berada di barisan terdepan menunggu nyala hijau trafficlight; dan kedua, adalah menunggu kabar semilir bak angin surga dari penerbit.

6. Dia adalah orang yang berkecimpung dalam dunia kreatif. Karena itulah dia tumbuh menjadi seorang problem solver, penuh inisiatif, dan inovatif.

Nyalakan solusi sebagai sumber inspirasi. via http://internethomebusiness.com

Penulis tidak hanya memaparkan masalah, tapi ia termasuk golongan bertanggung jawab. Ia akan selalu mencari solusi terbaik dari tiap masalah yang ada. Penulis adalah sosok yang langsung mencari galon air saat melihat gelas yang diminum kekasihnya separuh isi-separuh kosong, tanpa perlu mempertanyakan lagi mana yang benar.

Bahkan kalau perlu ia nyemplung ke kali, hanya ingin membuktikan bahwa air tetap melimpah ruah. Para penulis selalu mencari solusi, betapapun sederhananya solusi yang ia ungkapkan. Semboyannya jelas, Yakni:

Daripada mengutuk kegelapan lebih baik menyalakan lilin untuk terangi kehidupan.

Keren, kan?

7. Seorang penulis adalah sosok penuh imaji. Bersamanya, kamu akan dibuatnya bahagia dengan dunia yang dia ciptakan sendiri.

Dijamin romantis deh… via http://yeni.az

Yang ini gak perlu dijelaskan lagi. Pokoknya penulis adalah sosok yang sarat imaji. Ia akan menjadi pasangan romantis yang mewarnai kehidupanmu. Ungkap seorang bijak bestari: writer creating own world.

Penulis memang ditakdirkan hidup dengan imaji. Ia mampu menciptakan dunianya sendiri. Ya, dunia yang isinya hanya berdua: penulis dan pasangannya. Lalu yang lain gimana? Ngontrak, jawab lelucon ala Warkop DKI.

Kenapa masih ragu merenda kehidupan dengan penulis?