Adat pernikahan Palembang adalah suatu pranata yang dilaksanakan berdasarkan budaya dan aturan di Palembang. Melihat adat pernikahan Palembang, jelas terlihat bahwa busana dan ritual adatnya mewariskan keagungan serta kejayaan raja-raja dinasti Sriwijaya yang mengalami keemasan berpengaruh di Semananjung Melayu berabad silam. 

Paduan budaya yang membuat prosesi pernikahan khas Palembang menjadi unik dan menarik adalah perpaduan budaya Cina, Arab, dan juga Hindu yang memperkaya adat istiadat dan busananya.

Untuk memperkaya pemahaman dan persiapan pernikahan, berikut ini uraian tata cara dan pranata yang berkaitan dengan perkawinan Palembang.

 

1. Milih Calon

Memilih calon

Memilih calon via http://idepernikahan.com

Calon dapat diajukan oleh si anak yang akan dinikahkan, dapat juga diajukan oleh orang tuanya. Bila dicalonkan oleh orang tua, maka mereka akan menginventariskan dulu siapa-siapa yang akan dicalonkan, anak siapa, dan keturunan dari keluarga siapa.

2. Madik

Madik Berasal dari kata bahasa Jawa Kawi yang berarti  mendekat atau pendekatan. Madik adalah suatu proses penyelidikan atas seorang gadis yang dilakukan oleh utusan pihak keluarga pria.Tujuannya untuk perkenalan, mengetahui asal usul serta silsilah keluarga masing-masing, serta melihat apakah gadis tersebut belum ada yang meminang.

3. Menyengguk

Menyengguk atau sengguk berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya memasang “pagar” agar gadis yang dituju tidak diganggu oleh sengguk (sebangsa musang, sebagai kiasan tidak diganggu perjaka lain). Menyengguk dilakukan apabila proses Madik berhasil dengan baik, untuk menunjukkan keseriusan, keluarga besar pria mengirimkan utusan resmi kepada keluarga si gadis.

Utusan tersebut membawa tenong atau sangkek terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat atau segi empat berbungkus kain batik bersulam emas berisi makanan. Dapat juga berupa telor, terigu, mentega, dan sebagainya sesuai keadaan keluarga si gadis.

4. Ngebet

Bila proses sengguk telah mencapai sasaran, maka kembali keluarga dari pihak pria berkunjung dengan membawa tenong sebanyak 3 buah. Masing-masing berisi terigu, gula pasir, dan telur itik. Pertemuan ini sebagai tanda bahwa kedua belah pihak keluarga telah “nemuke kato” serta sepakat bahwa gadis telah ‘diikat’ oleh pihak pria.

Sebagai tanda ikatan, utusan pria memberikan bingkisan pada pihak wanita berupa kain, bahan busana, ataupun benda berharga berupa sebentuk cincin, kalung, atau gelang tangan.

5. Berasan dan Mutuske Kato

Berasal dari bahasa Melayu yang artinya bermusyawarah, yaitu bermusyawarah untuk menyatukan dua keluarga menjadi satu keluarga besar. Pertemuan antara dua pihak keluarga ini dimaksudkan untuk menentukan apa yang diminta oleh pihak si gadis dan apa yang akan diberikan oleh pihak pria. Pada kesempatan itu, si gadis berkesempatan diperkenalkan kepada pihak keluarga pria. Biasanya suasana berasan ini penuh dengan pantun dan basa basi.

Dilanjutkan dengan Mutuske Kato untuk membuat keputusan terkait dengan ritual dan prosesi pernikahan, termasuk hari pernikahan.

6. Nganterke Belanjo

Nganterke Belanjo

Nganterke Belanjo via http://cdn.klimg.com

Prosesi nganterke belanjo biasanya dilakukan sebulan atau setengah bulan bahkan beberapa hari sebelum acara Munggah. Prosesi ini lebih banyak dilakukan oleh kaum wanita, sedangkan kaum pria hanya mengiringi saja. Uang belanja (duit belanjo) dimasukkan dalam ponjen warna kuning dengan atribut pengiringnya berbentuk manggis.

Hantaran dari pihak calon mempelai pria ini juga dilengkapi dengan nampan-nampan paling sedikit 12 buah berisi aneka keperluan pesta, antara lain berupa terigu, gula, buah-buahan kaleng, hingga kue-kue dan jajanan. Lebih dari itu, diantar pula’enjukan’ atau permintaan yang telah ditetapkan saat mutuske kato, yakni berupa salah satu syarat adat pelaksanaan perkawinan sesuai kesepakatan.

7. Persiapan Menjelang Akad Nikah

Ada beberapa ritual yang biasanya dilakukan terhadap calon pengantin wanita yang biasanya dipercaya berkhasiat untuk kesehatan kecantikan, yaitu betangas. Betangas adalah mandi uap, kemudian Bebedak setelah betangas, dan berpacar (berinai) yang diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan dan juga telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit.

8. Upacara Akad Nikah

Upacara akad nikah

Upacara akad nikah via http://www.demokrat.or.id

Menyatukan sepasang kekasih menjadi suami istri untuk memasuki kehidupan berumahtangga. Upacara ini dilakukan di rumah calon pengantin pria. Seandainya dilakukan di rumah calon pengantin wanita, maka dikatakan ‘kawin numpang’. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan masa, kini upacara akad nikah berlangsung di kediaman mempelai wanita.

Sesuai tradisi bila akad nikah sebelum acara Muggah, maka utusan pihak wanita terlebih dahulu ngantarke keris ke kediaman pihak pria.

9. Munggah

Prosesi ini merupakan puncak rangkaian acara pernikahan adat Palembang. Munggah bermakna agar kedua pengantin menjalani hidup berumah tangga selalu seimbang atau timbang rasa, serasi, dan damai. Pelaksanaan Munggah dilakukan di rumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai, terlebih dahulu dibentuk formasi dari rombongan pria yang akan menuju ke rumah kediaman keluarga pengantin wanita. 

 

 

Dalam upacara pernikahan adat Palembang, peran kaum wanita sangat dominan karena hampir seluruh kegiatan acara diatur dan dilaksanakan oleh mereka. Pihak lelaki hanya menyiapkan “ponjen uang”. Acara yang dilaksanakan oleh pihak lelaki hanyalah acara pernikahan dan acara beratib yaitu acara syukuran di saat seluruh upacara pernikahan sudah diselesaikan.