Entah mengapa selalu lagu Adhitya Sofyan mengingatkanku tentang sebuah benua di seberang lautan, Australia. Aku harus mendengarkannya kembali untuk mengingat aroma “petrichor”, wangi bumi setelah hujan, yang anehnya selalu membuatku bahagia.

If I could bottled smell of the wetland after the rain

Jika aku bisa menyimpan harumnya tanah setelah hujan. Ada beberapa hal yang akan terbawa tersimpan dalam botol itu.

1. Masa menuntut ilmu

Monash University Caulfield Campus via https://teanabroad.org

Belum sadar rasanya jika diulang kembali di 3 tahun saat aku harus menyelesaikan suatu pendidikan yang tadinya aku rasa tidak mungkin. Bukannya mudah jika tanpa skripsi, aku termasuk anak yang masuk ke sekolah negeri biasa yang bahkan tidak tahu bagaimana membuat narasi (essay) di semester pertamaku. Di mana baru pertama kalinya beban akan besarnya tanggung jawab akan menyelesaikan sebuah pendidikan dan rasa beruntung telah mendapatkannya aku rasakan.

Metode kemandirian sangat ditekankan, dan semua benar-benar tergantung pada diri kita sendiri. Kelulusan adalah diri kita sendiri yang menentukan. Masih teringat banyak tangisan saat kebingungan dengan tugas yang diberikan, laptop yang rusak dan kehilangan data, fail di salah satu tugas, kekhawatiran tidak bisa mengerjakan ujian, begadang sampai dini hari di perpustakaan selama masa ujian, menghadapi tugas kelompok dengan berbagai macam karakter anggota.

Aku yakin kita semua pernah tahu rasanya.

"If I could bottled the smell of the wet land after the rain
I'd make it a perfume and send it to your house"

Advertisement

Soal ujian berupa jawaban panjang; pendapat dan cara kita masing-masing di challenge untuk menyelesaikan soal tersebut, jadi soal sebanyak 8 saja akan memakan waktu 2-3 jam dan 11 lembar kertas dan masih terkadang belum cukup untuk berusaha menjelaskan semua yang aku ingat.

2. Makna keluarga

Makan malam bersama keluarga via http://www.berlinwelcomes.com

Masalah sekecil tidak enak badan bisa membuat panik diri sendiri, karena merasa sendiri. Homesick adalah sebuah penyakit nyata yang ada saat jauh dari rumah.

"Then the wind blows the scent
And that little star will there to guide me"

Saat berkumpul kembali menjadi momen yang aku ingin nikmati lebih lama. Kesibukan sendiri-sendiri di ruang keluarga rumah sendiri terasa sangat berharga setelah jarak dan waktu pernah mengujinya. Membuatku ingin menyimpan memori lebih banyak lagi, sebelum melanjutkan cerita-cerita baru. Membuatku sendiri bertanya, kenapa dulu sangat ingin cepat menjadi dewasa?

Aku pikir aku baik-baik saja karena kekhawatiran itu di simpan dan tidak terlihat. Sampai aku tahu jika aku bisa mengalami “panic attack”. Serangan panik yang bisa datang tiba-tiba, perasaan tidak bisa bernapas, pusing dan hampir pingsan.

3. Kehidupan

"If one in a million stars suddenly will hit satellite
I'll pick up some pieces, they'll be on your way"
 

Aku diajarkan tentang perbedaan budaya, dan merasa Indonesia adalah yang terkaya. Sistem sudah sangat tertata membuat negara-negara maju dapat mengandalkan pemerintah dan kecukupan negara yang ada membuat kehidupan di sana dimudahkan untuk memilih sesuatu yang sudah tersedia. Pekerjaan tetap, penelitian, universitas, pemerintahan, tunjangan, serikat pekerja, transportasi, pendidikan, pinjaman sampai masalah perceraian sudah diatur, dan bahkan pembukaan café dan restaurant sangatlah ketat di kelola.

Kerinduan akan mas-mas tukang bakso atau penjual gerobak sate (street food) sangatlah terasa, begitupun dengan jualan ala-ala mahasiswa yang berbentuk online shop kecil-kecilan tak banyak di sana. Masih tergolong negara berkembang sebenarnya bisa menjadi keuntungan kita.

Meskipun di sana adalah tempat yang multicultural; banyak pendatang datang dari seluruh penjuru dunia, tetapi masalah tentang diskriminasi sudah terasa lebih di atur karena adanya peraturan. Betapa baiknya toleransi dan penerimaan kita di Indonesia?

Yang jelas, mereka sangatlah menghargai waktu. Bukan hanya waktu adalah uang, tapi jika sesorang telah memberikan waktunya untuk kita, kita sudah diberikan sesuatu yang berharga dari hidup mereka, yang tidak akan bisa digantikan. Aku tidak bisa memberikan 5 menit dari hidupku untukmu, bukan?

4. Cinta

In the far land across , you’re standing across the sea ..

If only I could find my way to the ocean

Dia yang menjagaku sampai setelah gelar itu aku terima. Dia yang memberiku ketenangan saat aku tidak yakin dengan apa yang aku kerjakan, dia yang marah jika aku terlalu mengambil banyak pekerjaan, dia yang memelukku saat aku menangis sampai yang bersedia ku telpon akan kekesalanku pada hal remeh temeh, dia dan bunganya pada setiap bulan, bukan, bukan hanya bunga, tapi juga perhatian dan kasih sayang.

Dia yang bukan mencintaiku apa adanya, tapi mencintai aku karena menghargai usahaku untuk menjadi yang terbaik dari diriku sendiri.

Melepaskan seseorang telah menjadi rumah di hari-hariku berjuang menjadi titik nolku lagi untuk tahu apa artinya berjuang sendiri.

Mungkin kita yang belum pantas mendampingi satu sama lain setelah hari itu.

Apakah kamu percaya selalu ada yang menjagamu? Aku percaya itu, saat Tuhan mengirimkan dia untukku. Dan semua malaikat bersayap yang tak terlihat ataupun yang nyata di berbagai masa di hidupku.

Melbourne adalah sebuah neverland untuk aku dan dia. Karena sebuah dunia parallel yang mungkin masih berjalan di mana kami masih bersama.

Dia yang mengajarkan menerima kenyataan dan kita harus tetap berjalan kepada tujuan hidup kita masing-masing.

Dan aku yang akan sangat bahagia, jika dia pada akhirnya dia bisa menemukan cinta lagi.

5. Sahabat dan cerita

Snowman at Mt Baw Baw via https://www.instagram.com

Mereka yang selalu bersamaku saat mengukir cerita bersama. Mereka yang aku yakini akan bersamaku di saat apapun di masa depan nanti, mengerti meskipun kami akan berubah, dan  menjadi panduan satu sama lain saat kita jatuh atau membutuhkan uluran tangan.

Sekecil kegiatan bertemu di perpustakaan, makan bersama, saling bertanya tentang tugas, atau sampai peristiwa berkesan seperti tersesat bersama, dan mendaki gunung menjadi pegangan kita untuk berbagi. Landasan jika aku bisa mengandalkan mereka, dan begitu pula sebaliknya.

Aku yang selalu bisa tidur di kamar mereka jika aku perlu suasana baru untuk tugas dan belajar, atau sekedar memasak dan menonton Game of Thrones.

Kamar yang selalu bisa diketuk, ketika aku menangis karena diberhentikan Supervisor, gagal interview, dan mendapat nilai jelek atau sebaliknya, saat aku ingin mereka mencoba masakan baruku, mengucapkan selamat ulang tahun dan membawakan obat jika mereka sakit.

"If only I could find my way to the ocean
I'm already there with you
If somewhere down the line we will never get to meet
I'll always wait for you after the rain"

Kami yang akan bersama mendaki puncak-puncak baru yang lebih terjal, menggapai mimpi-mimpi yang semakin tinggi menjulang. Mereka yang akan membuat masalah saat ini menjadi terkesan semudah apa yang kami lalui beberapa waktu di masa sekolah yang lalu.

Aku yang takut ketinggian akhirnya berdiri di Grampians, karena rasa percaya itu akan membawaku, membawamu ke tempat-tempat yang kita tidak pernah bayangkan sebelumnya. Mereka pun, juga malaikat tak bersayapku.

Kita yang tumbuh dan berkembang bersama tanpa menuntut apa-apa. Mereka yang akan menyimpan ceritaku, dan aku yang akan mampu mengingatkan mereka pada lembar-lembar sajak lama agar mereka bisa melangkah di halaman selanjutnya, dan tetap terus bersama.