Persoalan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) memang memicu kontroversi di mana-mana. Banyak orang membicarakan persoalan ini dalam berbagai variasi. Latar belakangnya pun macam-macam. Mulai dari orang biasa hingga menteri negara.

Namun, selain banyak kesalahpahaman mengenai LGBT itu sendiri, tidak bisa dipungkiri jika menjadi LGBT tidak mudah. Banyak hal harus dipertimbangkan oleh seorang LGBT jika ingin mengungkap identitas dirinya yang asli. Sebabnya, tentu saja sebagian masyarakat masih belum paham dan terjebak stereotip negatif mengenai LGBT.

Sebagai seorang yang straight, tentu saja kita harus melihat seorang LGBT sebagai manusia yang sama utuhnya. Mereka hanya berbeda orientasi seksual. Selebihnya sama saja dengan kita: punya mimpi karir yang mapan, uang yang banyak, pasangan hidup yang sesuai, dan lain-lain.

Sayangnya, banyak orang belum paham tentang bagaimana melihat seorang LGBT. Bisa jadi hal itu berujung rasa cemas atau takut ketika sedang berinteraksi dengan mereka. Nah, berikut panduan sederhana yang bisa dilakukan ketika kamu tahu teman di lingkungan sekitar ternyata seorang LGBT.

1. Mereka Manusia Biasa

What is ‘normal’, anyway? via http://tempo.co

Terlepas dari orientasi seksual yang berbeda, seorang LGBT manusia biasa. Sama saja dengan kebanyakan dari kita. Oleh karena itu, perlakukan mereka layaknya kita ingin diperlakukan. Memang benar sebagian LGBT susah atau sering canggung ketika berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, bantulah mereka layaknya kita membantu teman sendiri yang bukan LGBT

2. Don’t Judge

Do Not Judge via http://youtube.com

Penilaian negatif yang bersumber dari stereotip kurang tepat mengenai LGBT merupakan musuh utama yang harus dilawan. Lingkungan sekitar yang masih homofobia biasanya menjadi sumber utama kecemasan seorang LGBT. Belum lagi keluarga dan teman sekitar yang mulai menjauh ketika tahu ada seseorang dalam kelompoknya merupakan LGBT.

Advertisement

Penilaian negatif seperti itu sudah seharusnya direduksi dengan cara memahami mereka dengan baik. Caranya tidak perlu rumit. Jadilah seseorang yang menyenangkan bagi mereka. Terbuka secara sikap dan pikiran, telinga yang siap mendengar apa pun yang terlontar dari mereka tanpa harus banyak asumsi terlebih dulu, merupakan sesuatu yang amat berharga dalam hidup seorang LGBT.

3. Privacy, Please…

Privacy, Please… via http://mirror.com

Menjadi LGBT tentu banyak perbedaan dalam hal mencari pasangan. Urusan demikian sudah sepantasnya tidak perlu menjadi bahan gunjingan. Apalagi sampai menebak-nebak apa seseorang itu up atau bottom dan lain sebagainya. Bayangkan jika urusan ranjang kita sendiri diketahui oleh lingkungan sekitar. Bagaimana rasanya?

Selain itu, jika mereka ternyata membicarakan urusan privasi ke kamu, anggaplah itu sebagai suatu anugerah. Tidak banyak orang di luaran sana yang mendapat kesempatan untuk mendengarkan kisah dan pengalaman dari seorang LGBT. Anggaplah itu sebagai latihan untuk memperkaya pengalaman hidup.

Ketika mereka bercerita, dengarkanlah dengan penuh perhatian dan empati. Bercerita ke seseorang tentang identitas LGBT merupakan hal yang luar biasa sulit. Jangan sia-siakan kepercayaan temanmu itu.

4. Jangan Berubah, Lakukan Rutinitas Seperti Biasa

Hangout with Friends via http://huffingtonpost.com

Banyak LGBT takut jika mereka sudah mengungkapkan identitas dirinya yang asli, orang-orang akan menjauh dan tidak ingin lagi bergaul dengan mereka. Ini merupakan satu tantangan yang bisa dihadapi oleh kamu.

Lakukanlah rutinitas yang sebelumnya biasa dilakukan dengan wajar. Hal itu bisa jadi berarti besar bagi seorang LGBT. Misalnya kamu biasa main badminton setiap weekend dengan mereka, nah aktivitas itu sudah seharusnya tidak berubah ketika teman LGBT-mu sudah mengungkapkan identitasnya.

Jika aktivitas rutin bersamamu tidak berubah, bisa jadi itu satu poin plus di mata mereka. Mungkin yang terlintas dalam benak mereka adalah, “Ih, kamu baik banget. Meski tahu aku LGBT, sikapnya tidak berubah."

5. Meski Begitu, Tidak Semua Perilaku Baik Mereka Merupakan Pernyataan Jatuh Hati

Jangan GR dulu! via http://houseofgeekery.com

Setiap orang memiliki seleranya masing-masing dalam hal mencari pasangan. Begitu juga dengan LGBT. Tidak semua perilaku baik mereka merupakan pernyataan jatuh hati pada kamu. Bisa jadi karena mereka memang nyaman saja berteman dengan kamu. Dengan kata lain, jangan Gede Rasa alias GR dulu kamu disukai oleh mereka. Hehe.

Selain itu, bergaul dengan LGBT person juga tidak mengubah siapa diri kamu sebenarnya kok. Meski banyak orang bilang jangan dekat-dekat dengan orang LGBT karena takut ketularan, buktikan bahwa itu tidak benar. Siapa saja bisa berteman dengan LGBT, lepas ia seorang straight atau bukan.

6. Tawarkan Bantuan: Share Artikel, Mencari Komunitas, Hingga Konsultasi alias Curhat

Saling Support Itu Perlu via https://inquisitr.com

Banyak kecemasan hinggap pada mereka sebagai seorang LGBT. Sudah tentu itu membuat banyak aktivitas mereka kadang-kadang mengalami hambatan. Sebagai seorang teman yang baik dan selalu berbuat positif, tawarkanlah bantuan pada mereka dengan tulus.

Caranya bisa macam-macam. Mulai dari berbagi informasi mengenai LGBT dari berbagai media, mencarikan komunitas dan teman-teman yang cocok, hingga siap sedia memasang kedua telinga dengan baik ketika mereka ingin konsultasi alias curhat.

Perasaan ditolak (rejected) merupakan hal yang amat menyakitkan bagi mereka. Sudah sepantasnya kita sebagai seorang teman (dan juga manusia) melihat mereka sebagai seseorang yang punya kemampuan, keinginan, harapan, dan juga ketakutan-ketakutan tertentu.

Di samping itu, mungkin kamu banyak membaca berita di media kalau LGBT kerap mengalami diskriminasi sosial, baik dalam hal pekerjaan, karir maupun kesempatan mengembangkan diri di lingkungan.

Dengan demikian, langkah-langkah ini bisa jadi awal mula untuk bersahabat dan membangun pengertian yang lebih baik dengan mereka. Tidak ada ruginya berbuat baik pada siapa pun, termasuk pada LGBT yang ada di lingkungan sekitarmu mulai sekarang.