Bersama denganmu tiga tahun terakhir ini, membuatku banyak belajar. Belajar mengerti apa itu kasih yang tulus. Namun kini, ketika semua yang kamu lakukan jelas jelas sudah membuatku harus mundur dan menjauh, aku lagi-lagi belajar darimu. Ya, belajar untuk tidak lagi mempercayai seseorang sepenuh hati dan jiwa. Pada proses yang panjang aku belajar mengerti bahwa hidup harus terus berjalan.

1. Mengenalmu tanpa sengaja

Senyum mengembang jika setiap kali kuingat pertama kali mengenalmu. Perkenalan yang sungguh tidak disengaja. Bahkan kamu menyebutnya seperti tabrakan yang tidak dibuat-buat. Iya, aku selalu tertawa setiap kali bersamamu. Apalagi di awal-awal hubungan kita. Entah mengapa begitu banyak hal yang kamu buat, yang selalu mampu menyihirku untuk mengukir senyum.

Apa kamu ingat pertama kali kamu mengajakku untuk duduk berdua kala itu? Di taman tengah kota tempat tinggalmu. Walau setelah itu, kita diteriaki oleh seorang satpam penjaga taman karena dia berpikir kita sedang berbuat apa-apa di sana. Kamu menarikku, berlari kencang meninggalkan satpam itu. Setelah jauh berlari, aku berhenti karena lelah.

Kamu berkata, "Kenapa kita harus lari? Kita kan tidak berbuat apa-apa? Kenapa kita harus takut kalaupun satpam itu mendatangi kita?’’ Lalu kamu tiba-tiba tertawa berbahak sambil memukul kepalamu sendiri sembari berkata, "Kamu bener juga, Noe.’’

2. Sebutan itu yang dulu tidak kusukai namun kini perlahan kurindukan.

Advertisement

Halo, bebebku! via http://j.people.com.cn

Entah dari mana kamu menemukan panggilan itu untukku, yang dari pertama kali tidak pernah kusukai. Bahkan sering aku tak menghiraukan panggilanmu jika kamu memanggilku dengan sebutan itu. Namun sejalan dengan berjalannya waktu, aku mulai menyukai panggilan itu. Aku mulai memberitahu teman-temanku jika kamu memberiku sebuah panggilan yang belakangan ini menurutku menjadi unik.

3. Hingga pada saat aku menemani saat kamu jatuh.

Aku lupa berapa kali kamu gagal dalam mengikuti sebuah tes masuk jadi salah satu abdi negara sebagai mana obsesi besar dalam hidupmu. Mungkin tiga atau empat kali kau tetap gagal. Namun aku selalu dengan sabar berada di sampingmu untuk memberi semangat berupa kata yang mungkin bukanlah jawaban dari semua kekecewaanmu.

Namun tak pernah aku lelah untuk selalu berkata “Percayalah, Sayang. Ada sesuatu yang jauh lebih indah dari ini semua. Hanya saja, Tuhan mungkin masih ingin melihat seberapa sabar kamu akan berjuang.’’ Karena itu adalah janjiku padamu sesuai permintaanmu, ‘’Tetaplah di sampingku walau apapun keadaannya nanti,’’ itu katamu dulu.

4. Pada akhirnya kamu mulai berbeda.

Kamu dulu selalu ada untukku walau sekedar memberi kabar via telepon atau pesan lewat SMS. Kini kamu tak ada lagi. Hingga sampai saat aku tahu bahwa kamu telah berhasil menjadi abdi negara ini, aku menangis bahagia. Karena pada akhirnya, cita-cita yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan juga. Sayang, aku juga sedih. Kenapa berita sebahagia itu justru kudapat dari orang lain, bukan darimu?

Dari situ, aku mulai berpikir apakah kamu perlahan sudah melupakanku? Apakah peranku dalam hidupmu sudah tak kamu butuhkan lagi? Ah… Namun lagi-lagi rasa percayaku masih jauh lebih besar daripada rasa cemas yang ada di hatiku. Dan kupastikan, lagi-lagi aku percaya padamu walau sampai selama tujuh bulan kamu tak pernah memberiku kabar lagi.

5. Setelah hilangnya komunikasi itu, kamu datang lagi.

Tiba-tiba kamu datang via http://www.skanaa.com

Seperti dirimu yang kukenal sebelumnya, kamu selalu datang dengan berbagai kejutan. Pagi itu, aku terbangun karena dering telepon yang sengaja kutaruh di dekat kepalaku setiap kali tidur, dengan harapan kamu akan meneleponku. Pagi itu, sepertinya harapanku terkabulkan. Kamu meneleponku dan berkata bahwa kamu sangat merindukanku.

‘’Oh, sayang. Apakah kamu tahu bahwa aku juga sangat merindukanmu?’’ kataku dalam hati namun tak kuucapkan kepadamu.
‘’Cepatlah mandi. Aku sedang di jalan menuju tempatmu,’’ ucapan itu sontak membangkitkan semangat mandi pagi di hari liburku meningkat 100%.

Tanpa menunggu lama, setelah kusampai di tempat yang kita janjikan, kita bertemu dan kembali bercanda. Untuk kali itu, kamu lagi-lagi memintaku untuk tetap menemanimu. Untuk tetap bersabar karena keadaan yang saat ini sudah berbeda. Sudah tidak banyak waktu untuk kita bisa bersama-sama seperti dulu. Seperti tahun-tahun pertama hubungan kita.

6. Lalu kamu beriku kejutan yang sungguh tak kuharapkan.

sakit hati via http://www.pogled.ba

Aku tak mengerti akan jalan pikiranmu saat ini. Sungguh aku tidak pernah membayangkan atau bahkan terlintas jika pada akhirnya semua yang kukhawatirkan selama ini, kecemasan yang kata orang sungguh berlebihan yang kupunya, bagaimana mungkin semua itu bisa kamu lakukan? Sungguh itu bukan kamu yang kukenal dulu.

Ketika aku selalu berpikir kamu tidak pernah aktif di media sosial karena kesibukanmu yang sedang menjalani pendidikan sebagai calon abdi negara ternyata salah, ternyata kamu dengan sengaja telah memblokir akun milikku untuk tidak bisa mengakses semua hal yang kamu lakukan lagi. Pada akhirnya, aku tahu bahwa kamu sudah memiliki wanita baru yang kata orang-orang telah jadi pilihanmu.

Apakah kamu pernah berpikir betapa hancurnya hatiku mendengar semua itu? Ah… Sungguh sulit untukku bisa menggambarkan itu semua!

7. Aku mungkin tidak bisa melupakan. Namun untuk berhenti memikirkanmu, aku bisa!

Bisa berhenti memikirkanmu via http://tutorchen.qiniudn.com

Aku kembali berdiri sendiri. Kembali melangkah walau tak ada kalimat penyemangat darimu lagi. Kembali mengangkat kepalaku untuk menengadah ke atas dan ke sekelilingku. Masih ada keluarga dan sahabat-sahabat yang begitu sangat mencintaiku, melebihi cintaku dulu. Jika kini aku kehilangan sesuatu yang baik, Tuhan sudah menyiapkan dia yang jauh lebih baik darimu untuk menjadi lelakiku.

Aku tidak melupakanmu, tidak juga membenci. Bahkan kini aku berterimakasih karena kamu telah mengajariku belajar bahwa tidak semua hal yang aku mau bisa kumiliki selamanya. Bahwa yang terbaik menurutku, belum tentu yang terbaik untuk Tuhan bagiku.

Untukmu yang telah menggores luka,
Semoga kamu dijauhkan dari rasa sakit seperti yang kurasa ini.