Halo, Hipwee! Apa kabar? Penulis sudah lama tidak menulis, dan tulisan lama sudah kena hapus semua. Sekarang sudah kembali! (heboh sendiri nggak ada respon) Tadi siang nih waktu penulis mau masuk ke salah satu ruangan perpustakaan, ada ribut-ribut di pintu. Eh, tepatnya di depan komputer presensi. Jadi ceritanya, kalau mau masuk ke salah satu fasilitas di perpustakaan di kampus penulis, pengunjung harus mengisi presensi di komputer presensi. Dan karena tadi yang masuk banyak, harus antre. Eh tiba-tiba ada ribut-ribut! Ternyata ada mbak-mbak yang lagi marahin mas-mas yang diduga mau presensi duluan! Huwaaah....

Nah, harusnya antri ya Hipwee... Nggak boleh main serobot begitu! Hehehe. Itu salah satu saja dari empat hal yang mau penulis bahas pada kesempatan ini.

 

1. Budaya Antri

Nah, ini nih budaya yang penting banget kita lestarikan. Mengantri! Jangan malas mengantri, jangan main serobot, tapi antrilah bila harus antri. Setiap orang memang punya keperluan dan keterbatasan masing-masing, tapi jangan lupa antri. Kalau pun memang tidak bisa antri, tolong dipikirkan cara lain yang membuat antri tidak harus kamu lakukan.

Contoh, kalau kamu mau beli tiket kereta, dan nggak bisa ngantri karena nggak punya waktu sebanyak itu, maka belilah tiket kereta secara online.

Atau kalau kayak kasus tadi, ketika ada ribut-ribut, seharusnya masnya nggak boleh langsung menyerobot, tapi harus antri dulu. Kalau dia tidak bisa antri, dia bisa nitip ke orang di depannya #eh (yang terakhir agak nggak benar ya)

2. Budaya Sabar

Sabar nggih, Pak

Sabar nggih, Pak via http://www.writergirl.com

Menurut penulis, sikap mudah menggerutu sekaligus nggak bisa bersikap lembut adalah sifat yang kurang baik. Masalah apapun yang datang harus kita hadapi dengan sabar. Contohnya, kalau kita diserempet sepeda motor, jangan langsung ngomel-ngomel. Hadapi dengan sabar, siapa tahu pengendaranya baru belajar sepeda motor. Atau siapa tau keluarganya sedang sakit jadi dia terburu-buru dan nggak sempat pelan-pelan. Jadi, disabarin aja. Kalau pun memang si pengendara ceroboh nyerempet kita, kita doain aja yang baik-baik.

Kita dapat dua pahala: pahala sabar dan pahala mendoakan kebaikan untuk orang lain.

3. Budaya Berprasangka Baik

Kenapa positive thinking jadi "budaya"? Iya, karena ia merupakan elemen budaya. Teman-teman yang pernah membaca novel-novel Andrea Hirata tentu akan paham maksud penulis, bahwa suatu sifat atau sikap, yang awalnya terjadi pada seseorang dan kita sebut sebagai perangai, bisa dikategorikan sebagai budaya jika dilaksanakan oleh orang banyak. Budaya macam ini bisa eksis dalam hal kesukuan, kondisi demografi, wilayah, dan lain-lain. Oke, mulai meluas.

Intinya, jadikan berpikir positif sebagai budaya, bukan hanya perilaku dan sikap respon. Agama sendiri mengajarkan kalau kita harus berpikir positif, iya, kan?

4. Budaya Hemat

Yuk berhemat

Yuk berhemat via http://indoprogress.com

Yah. ini budaya terakhir yang ingin penulis bahas: budaya berhemat. Di tengah budaya konsumerisme yang besar di tempat ini, kita harus pintar-pintar mengatur uang dan menetapkan kebijakan moneter pada diri kita sendiri. Setidaknya, kita harus berhemat. Apalagi buat kamu yang merantau kuliah ke kota lain atau ke lain pulau, harus bisa menghemat. Sekalipun kita dicukupkan atau dilebihkan. Lebih baik kalau bisa nabung. :)

Ingat kan pepatah, hemat pangkal kaya? Sampai sekarang, pepatah ini tidak salah.

5. Budaya Menghargai Orang Lain

Respek itu indah

Respek itu indah via http://image.naldzgraphics.net

Menghargai orang lain itu perlu. Sangat perlu. Bahkan ada kalimat bijak: "bila ingin dihargai orang lain, maka hargailah orang lain." Hargailah setiap kebaikan meskipun sekecil debu. Karena sebutir debu itulah yang akan mengundang milyaran debu yang pada akhirnya akan menggunung. Hargailah orang lain, tapi jangan membenarkan sesuatu yang salah. Hargailah orang lain tapi jangan menyerah atas kemampuan kamu. Kemampuan untuk menghargai dan menghormati, selalu menjadikan diri kamu setingkat lebih tinggi.

Menghargai orang lain membuat kita menjadi lebih tinggi.