Aku adalah wanita berusia diatas 20 tahun, sudah cukup usiaku untuk memulai kehidupan baru sebagai seorang istri. Seperti yang dikutip dari Alodokter.com, ilmu kedokteran tidak pernah menentukan usia ideal untuk menikah serta jarak umur dengan pasangannya, namun yang pernah diteliti adalah usia kehamilan yang sebaiknya terjadi sebelum usia 35 tahun dan setelah usia 20 tahun. Jika dilihat berdasarkan UU perkawinan, aku sudah beberapa tahun melewati batas minimal usia menikah. Tapi apa usia menikah dan usia kehamilan menjadi tolak ukur untukku cepat menikah?

Aku bukan wanita yang mengirim sinyal cinta pada pasangan untuk segera melamar, karena menjadi pasangan yang langgengpun sudah cukup membahagiakan untukku. Ternyata hubungan sebagai pasangan itupun berlanjut selama bertahun-tahun, sampai pada akhirnya aku dikejutkan dengan pertanyaan, “Mau sampai kapan pacaran tanpa ada ikatan resmi? Keburu bosan” pertanyaan itu sejenak menggangguku, namun lambat laun lupa juga. Ketidaksiapan untuk menikah dan tidak adanya pikiran untuk cepat menikah membuatku melempar jauh pertanyaan yang bisa menggangguku.

Saat orang lain bertanya kapan menikah? Aku berlaga seperti jomblo yang masih mencari pasangan hidup, padahal aku memilki dia, pria matang yang aku percaya bertanggung jawab. Saat orang lainnya menanyakan hal yang sama, aku berlaga lugu dan beralasan lulus kuliah dulu, padahal setelah luluspun aku masih saja menunda lamarannya untuk meminangku.

Di saat orang lain berharap bebas dari kata jomblo kemudian menikah. Kenapa aku harus terus menunda lamarannya?

Aku mencoba untuk mencari tahu alasan diri dan alasan orang lain yang mungkin merasakan hal yang sama sepertiku. Aku dan mereka yang memiliki pasangan namun menunda untuk menikah, mungkin mempertimbangkan hal ini:

 

1. Sudah punya pasangan yang matang dan sempurna, tapi aku masih mengejar cita di bangku kuliah

masih kuliah

masih kuliah via http://www.google.com

“Masih kuliah, kalau nikah nanti tugas terbengkalai dan skripsi terabaikan. Apalagi kalau sudah ada anak? Wah, makin nggak kebagi waktunya!"

Hal itu sempat terpikirkan olehku, namun tanpa menutup mata, aku melihat sebagian orang kenalanku sudah menikah bahkan menggendong anak ke kampus untuk bimbingan skripsi, ditemani suami tentunya. Ah melihatnya, aku memang sempat tergoda minta dilamar. Hehehe.

2. Fresh graduate, lho. Cari pengalaman kerja dulu sajalah!

kerja dulu

kerja dulu via http://www.google.com

“Fresh graduated nih, kerja dulu, bahagiain ayah ibu dulu. Nikah nanti saja kalau sudah puas kerja”

Tidak salah memang jika seorang wanita berkarier bahkan lanjut S2 dan S3, tapi jangan sampai melewati batas usia kehamilan demi menjaga baik cabang bayimu nanti. Lagipula menikah bukan berarti kamu tidak bisa bekerja dan lanjut kuliah bukan? Itulah yang ditekankan oleh pria yang ingin segera menjadikanmu seorang istri dan seorang ibu bagi buat hati kalian nanti.

3. Pernikahan itu 'penghambat mimpi'

penghambat mimpi

penghambat mimpi via http://www.google.com

“Aku mau coba ikut SM3T atau kerja di daerah yang jauh dari tempat asal, nih. Yah, sayang salah satu syaratnya belum menikah. Apa aku minta dia nunggu 1 tahun lagi? Ditunda gitu nikahnya?”

Ide bagus! Minta dia untuk menunggu. Kalau jodoh pasti tidak akan ke mana, kok.

Hmm, tunggu dulu, seorang teman memberikan pendapatnya. Keputusanmu untuk menikah insyaallah keputusan yang tepat, jika lamaran datang dari dia yang ingin kamu nikahi suatu saat nanti, inilah waktu yang tepat untuk kamu menerimanya karena bisa saja dengan ini Allah memberi petunjuk bahwa SM3T bukan jalanmu dan Allah sudah mempersiapkan jalan lain yang bisa kamu ambil meski berstatus sebagai seorang istri.

4. Nggak munafik, kalau pasangan belum siap secara finansial, kenapa harus cepat-cepat menikah?

gaji pas-pasan

gaji pas-pasan via http://www.google.com

Menikah itu mudah tanpa mempersulit diri.

Qs Annur (24):32 ayat terakhir menyebutkan “jika mereka (yang akan menikah) miskin maka Allah akan mengkayakan mereka dengan karunianya”.

Rasa khawatir akan kemiskinan sering mengganggu, tapi ingatlah tidak ada satu priapun yang akan membiarkan wanitanya hidup susah dan Allah akan membagi rejeki-Nya untuk dua orang yang memutuskan niat baik yaitu menikah. 

5. Sabar; menikah itu mahal

resepsi itu mahal

resepsi itu mahal via http://www.google.com

Eh, atau salah, ya? Menikah tidaklah mahal, yang mahal itu gengsinya.

Jangan ikut gengsi, ikutlah sunah nabi. Kita pasti memiliki impian pesta pernikahan yang indah, namun jangan mempersulit diri jika tidak mampu mewujudkannya, karena syarat menikah dalam islam itu sederhana (baca syarat dan rukun nikah dalam islam hukum-islam.net)

6. Masa pacaran itu asyik, kalau sudah menikah nanti rumit :(

terlalu asik pacaran

terlalu asik pacaran via http://www.google.com

Seperti yang sudah diketahui banyak orang, tidak ada kata pacaran dalam Islam. Namun tidak sedikit orang termasuk aku yang menjalani hubungan seperti itu. Ada kata bergambar yang menyatakan bahwa

“Yang pacaran semoga cepat putus”

Berbeda jika kata tersebut begini bunyinya

“Semoga yang pacaran cepat putus, terus nikah deh”

Kata terakhir membuatku ikut tergerak untuk segera meresmikan hubungan yang halal, yaitu menikah. Yang masih asyik pacaran? Bukankah sudah waktunya meminta keseriusan pasanganmu untuk datang menemui orangtuamu lalu melamarmu?

7. Menikah itu butuh kesiapan mental yang benar-benar matang

nikah itu butuh mental yang kuat

nikah itu butuh mental yang kuat via http://www.google.com

Kesiapan mental untuk memutuskan menikah memang tidak bisa dipandang dari usia, kuliah atau sudah lulus, pengangguran atau sudah bekerja. Kadang ketidaksiapan menikah juga karena keinginan untuk memilih hidup bebas tanpa harus kesana kemari minta ijin suami, mau pergi harus ngatur waktu karena ada anak dsb. Tapi bukankah kita sudah mengenal pasangan kita cukup baik? Seperti apa watak dan kebiasannya? Bagaimana berkomunikasi dan menghadapi orang sepertinya? Bukankah kalian saling percaya satu sama lain? Jika ya, itu semua termasuk kategori

“Kamu sudah siap menikah.”

 

Dalam mempertimbangkan suatu hal, aku selalu melihat dari dua sisi. Saat aku condong ke kanan bukan berarti aku mengabaikan sisi kiriku. Sama halnya seperti poin pertimbangan di atas. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan dan kemantapan diri untukmu para wanita dan khususnya untuk diriku sendiri.