Karena yang awalnya jadi kewajiban, bisa dikembangkan menjadi hal yang lebih dari sekadar kewajiban.

Di zaman yang serba milenium memang belum menandakan bahwa pesebaran teknologi menjadi merata. Kurikulum 2013 yang sempat menjadi viral dan digadang mampu memperbaiki kurikulum-kurikulum sebelumnya ternyata masih memiliki beberapa kekurangan dalam penerapannya. Mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/K) masih memiliki beberapa kendala dalam penerapan kurikulum 2013. Belum lagi penambahan atribut teknologi dalam setiap kemajuan kurikulum membuat beberapa instansi sekolah kelabakan menyesuaikan, terutama sekolah dasar. Kebanyakan dari mereka cenderung memanfaatkan pengetahuan terbatas dari pada harus mengexplorasi lebih mendalam.

Sebagai sampel adalah pembuatan media pembelajaran di UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Ngunut, Tulungagung. Guru-guru SD yang tergabung dalam 8 gugus mengakui bahwa kurangnya minat pembuatan media pembelajaran terutama menggunakan aplikasi komputer. Padahal salah satu kategori yang dapat dilakukan dalam meningkatkan kompetensi profesional guru adalah dengan menggabungkan teknologi dalam pembuatan media pembelajaran untuk mengajar. Apalagi masalah utama yang membuat guru menghindari membuat media pembelajaran adalah kurangnya pengetahuan dan ketrampilan guru dalam mengoperasikan komputer. Guru lebih cenderung mengandalkan Microsoft Power Point sebagai software utama pembuatan media ajar dikarenakan software itulah yang sudah dari dulu mereka kuasai.

 

1. TIM PKM-M SWISHMAX UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Tim PKM-M Universitas Negeri Malang via http://nandaseptania.blogspot.com

Berangkat dari beberapa problem yang sudah ada, Tim PKM-M saya dari Universitas Negeri Malang mengadakan sebuah program pengabdian masyarakat yang bernama “Pelatihan Aplikasi SwishMax untuk Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru SD di Kecamatan Ngunut, Tulungagung”. Program ini merupakan implementasi atas bentuk kepedulian Tim PKM-M untuk lebih membawa Indonesia menjadi tempat belajar yang lebih baik.

2. Proses Pelatihan Perwakilan 8 Gugus dari Kecamatan Ngunut, Tulungagung

Kegiatan ini diawali dengan tahap pelatihan kepada 16 guru yang menjadi perwakilan dari setiap gugus yang ada di Kecamatan Ngunut, Tulungagung selama 2 kali pertemuan. Pelatihan ini memuat tentang dasar-dasar aplikasi swishmax dan komponen-komponenya. Setelah itu kegiatan terus berlanjut ke workshop selama 2 kali pertemuan. Dalam kegiatan Workshop, guru dibimbing untuk membuat suatu media pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum 2013 sesuai peminatan mata pelajaran mereka, sehingga keluaran dari workshop ini adalah media pembelajaran untuk Sekolah Dasar (SD). Kegiatan kemudian ditutup dengan tahap pendampingan ke masing-masing gugus yang ada di Kecamatan Ngunut, Tulungagung dan berakhir di SD N 6 Ngunut untuk penutupan oleh UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Ngunut, Tulungagung.

3. Foto Bersama 16 Peserta Perwakilan 8 Gugus dari Kecamatan Ngunut, Tulungagung

Foto 16 perwakilan via http://nandaseptania.blogspot.com

Advertisement

Foto bersama 16 peserta perwakilan 8 gugus dari Kecamatan Ngunut, Tulungagung saat terakhir workshop di SDN 6 Ngunut, Tulungagung.

4. Prosesi Penutupan Oleh UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Ngunut, Tulungagung

Prosesi penutupan oleh UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Ngunut, Tulungagung pada saat sesi ditutup.

5. Foto Bersama Peserta Pelatihan dari 8 Gugus di Ngunut

Foto Bersama Peserta Pelatihan dari 8 Gugus di Ngunut saat selesai pelatihan dengan semua peserta dari 8 gugus.