Aku tidak tahu harus memulainya dari mana, rasanya engkau terlalu sempurna hingga tak bisa ku jabarkan lewat kata-kata. Bagiku, engkau adalah lelaki tangguh yang tak pernah mengeluh. Engkau adalah pekerja keras yang tak mengenal batas. Engkau tak pernah ingkar janji untuk selalu membahagiakan kami. Panas dan hujan bukan penghalang bagimu. Engkau yang selalu mengesampingkan keinginanmu dan mendahulukan keinginan kami. Engkau yang tak pernah membiarkanku kekurangan hal sekecil apapun. Engkau yang mempersiapkan masa depanku sedini mugkin. Ah sungguh engkau adalah makhluk istimewa yang aku punya selain ibu. 

Ayah, putri kecilmu ini sekarang sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Terima kasih untuk semua pelajaran hidup yang sudah engkau ajarkan. Sekarang, Aku tak gamang lagi menatap masa depan. Ayah, lewat tulisan sederhana ini, ada banyak hal tentangmu yang ingin aku pamerkan pada semua orang. Agar mereka tahu, betapa bangganya aku punya “super hero” sepertimu.

 

1. Bagimu, pendidikan adalah hal yang tak boleh di batasi. Meski aku perempuan, engkau selalu memberikan aku kebebasan untuk menempa ilmu hingga jenjang tertinggi.

Aku tahu, engkau memang bukak lelaki berpendidikan tinggi, tapi engkau adalah guru yang paling aku kagumi. Keras dan tegas, adalah caramu mendidik putri-putrimu. Marahmu ketika kami salah, adalah caramu memperingatkan kami agar tak banyak berulah. Doa di setiap sepertiga malam yang engkau bisikkan pada Tuhan, adalah salah satu cara agar study putrimu lancar di perantauan. Satu harapan yang kau sematkan, agar kami menjadi perempuan yang bisa diandalkan. Banyak hal yang harus dikuasai, tak melulu soal dapur, sumur, dan kasur. Wanita era sekarang harus serba bisa dalam segala bidang. Karena, hidup terlalu keras jika hanya mengandalkan kecantikan.

2. Engkau bukan lelaki kaya raya, tapi kesederhanaan yang kau ajarkan selalu penuh makna.

Sejak kecil engkau selalu mengajarkan bahwa segala sesuatu itu butuh perjuangan, dan segala sesuatu yang kita punya hanyalah titipan Tuhan. Meski hidup ditengah kesederhanaan, tak ada hal sekecil apapun yang kau biarkan kekurangan. Semua hal yang aku butuhkan selalu aku dapatkan. Dalam kesederhanaan engkau ajarkan hidup dengan penuh kesahajaan dan kebajikan. Berbagi adalah hal mutlak yang harus dilakoni, karena esensi hidup bukan hanya soal diri sendiri. Bagimu, memperlihatkan apa yang kita punya pada dunia adalah larangan keras yang tak pantas kita lakukan. Dan kesuksesan adalah pencapaian diri yang tak perlu publikasi. Sederhana dan apa adanya, adalah kepribadian yang selalu kau tanamkan. Karena sesuatu yang indah tak harus mewah.

3. Menjadikan kami pribadi yang mandiri, bagimu adalah harga mati.

“Kalian ini anak perempuan sekaligus anak laki-laki. Jadilah perempuan mandiri, agar kelak jika kami tua, kalian bisa mengurus kami tanpa merepotkan suami.” Adalah pesan yang akhir-akhir ini rasanya semakin sering kau ulang . Engkau memang tak pernah mengajariku bergantung pada siapapun. Engkau selalu mengajarkanku bahwa Tuhan adalah pijakan terkuat yang lebih dari apapun.  Bersama ibu, engkau membesarkan kedua putrimu dengan penuh ketulusan. Mandiri adalah harga mati yang ingin kau bentuk pada diri kami.

4. Hingga aku sedewasa ini, kemanjaan layaknya anak kecil masih kerap engkau beri.

kasih sayang seorang ayah

kasih sayang seorang ayah via http://4.bp.blogspot.com

Entah dari kapan orang menilaiku bahwa aku lebih dekat denganmu daripada ibu. Tapi, dengan siapapun aku lebih dekat aku tak peduli, karena takaran sayangku tak pernah terbagi, engkau atau ibu sama saja bagaikan peri. Tak jarang, kita pun berdiskusi layaknya teman. Saling mengejek adalah hal lazim yang kita lakukan. Hingga aku sedewasa ini, aku masih suka pura-pura tertidur di depan tv saat malam. Lalu kau akan menggendongku dan memindahkanku ke kamar. Jika kau tak ada, maka aku akan berulang-ulang menanyakan pada ibu tentang keberadaanmu. Bagiku, rumah selalu terasa sepi tanpa ada engkau di antara kami. Engkau benar-benar iman yang luar biasa. Tanganmu tak pernah kaku menyuapi aku makan saat aku jatuh sakit. Berebut acara TV adalah hal yang tak pernah terlewatkan.

5. Engkau adalah orang yang tak pernah malu saat harus menangis di depanku, karena bagimu itu adalah ungkapan sayang yang harus aku tahu.

Meski kadang kau begitu keras dan kaku, tapi engkau juga bisa menangis layaknya ibu. Ketika aku sakit, engkau akan bersedih dan sayu. Bahkan, terkadang air matamu harus menentes di hadapanku. Berharap hal buruk tak menimpaku. Membujukku makan, menyuapi, mengipasi, dan membantuku minum obat adalah hal yang tak pernah absen engkau lakukan.  Bagiku, kau sungguh pria idaman yang akan selalu menjadi kekasih hati.

6. Kau merancang masa depan kami sedemikian rupa, memberikan kami kesempatan lebih banyak dari yang kau punya.

persiapan masa depan

persiapan masa depan via http://assets-a2.kompasiana.com

“Aku boleh bodoh, tapi anakku tidak, aku boleh susah, tapi anakku tidak. Anakku harus hidup layak dan menjadi orang yang berguna.” Bagimu, itu adalah prinsip yang tak boleh dilanggar. Engkau mengabaikan perkataan orang yang ragu dengan caramu membebaskan kami untuk melenggang di perguruan tinggi. “Anak perempuan tak perlu sekolah tinggi, karena tugasnya hanya mengurus rumah.” Untukmu, justru itulah yang menuntut perempuan harus berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, dan cerdas. Sebab mengurus rumah itu perlu keahlian dan wawasan, dan mencetak generasi emas itu perlu ibu yang cerdas.