Indonesia, merupakan negara yang luas dan kental akan keanekaragaman budayanya. Terbentang dari Sabang hingga Merauke dan terbagi menjadi 34 provinsi yang tentu saja setiap daerah memiliki makanan yang khas.

Uniknya, makanan khas daerah-daerah di Indonesia ini tidak hanya enak di lidah, namun juga memiliki makna yang sangat dalam sehingga dapat kita gunakan untuk bekal dalam menjalani kehidupan.

Berikut adalah makna dibalik 6 hidangan lezat asli Indonesia yang mungkin kalian sudah pernah mencicipinya:

 

1. Tumpeng

Tentu saja kita sudah tidak asing dengan istilah tumpeng. Nasi yang dibentuk seperti kerucut dan dikelilingi sayuran dan lauk –pauk yang lezat. Umumnya hidangan ini disajikan pada acara syukuran, misalnya pada saat perayaan ulang tahun.

Meskipun saat ini telah disajikan dengan berbagai macam bentuk, namun bentuk asli dari nasi tumpeng adalah kerucut yang menyerupai gunung. Masyarakat Jawa melambangkan gunung sebagai tempat yang dekat dengan langit dan surga. Maksudnya adalah menempatkan Tuhan pada posisi tertinggi yang menguasai alam dan manusia. Semua yang berasal dari Tuhan dan akan kembali pula ke Tuhan. Bentuk menggunung nasi tumpeng juga dipercaya mengandung harapan agar hidup kita semakin naik dan memperoleh kesejahteraan yang tinggi.

Sebagai pelengkap, biasanya nasi tumpeng dihidangkan dengan sayuran dan lauk. Sayuran yang disajikan umumnya adalah urap, kangkung, bayam, dan kacang panjang. Sementara lauknya ayam ingkung, ikan teri, dan telur rebus.

Urap berasal dari bahasa jawa urip (hidup) yang berarti mampu untuk menafkahi keluarga. Kangkung melambangkan sifat ulet, teguh, dan pantang menyerah, mengingat sayur ini dapat tumbuh di darat maupun di air. Bayam yang berwarna hijau melambangkan kehidupan yang aman dan damai. Kacang panjang yang disajikan tanpa dipotong melambangkan umur panjang.

Untuk lauknya, ayam disajikan utuh yang merupakan lambang ketenangan hati karena sering diartikan sebagai simbol menyembah Tuhan. Ikan teri melambangkan kebersamaan dan kerukunan. Sementara, telur rebus biasanya disajikan bersama kulitnya dan tidak dipotong-potong melambangkan semua tindakan harus terlebih dahulu direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana sehingga membentuk suatu kesempunaan.

Bahkan, cabai yang diletakkan diujung tumpeng bukan hanya hiasan lho! Cabai berwarna merah melambangkan api sebagai sumber penerangan atau teladan.

2. Sate Lilit

Makanan dari Bali ini sudah tak asing ditelinga kita, mungkin sebagian besar dari Kalian pernah mencicipinya. Umumnya sate lilit terbuat dari ikan tuna yang dicacah dan diberi bumbu serta kelapa muda parut. Disebut sate lilit karena daging ikan tuna cacah tersebut dililitkan pada potongan pipih daun kelapa. Hidangan ini sering disajikan pada upacara adat di Bali. Ternyata, istilah lilit ini berasala dari kata kilit atau ikat yang melambangkan pemersatu. Harapannya adalah masyarakat Bali tidak dapat dipecahbelah oleh apapun.

3. Ketupat

Siapa yang lebaran makan ketupat di rumah nenek???

Makanan berbentuk segi empat ini sangat umum sekali dihidangkan saat Ramadhan tiba. Konon, ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Kala itu, beliau memperkenalkan dua jenis perayaan yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat (yang dilaksanakan satu minggu setelah lebaran).

Ternyata, ketupat merupakan singkatan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan). Sehingga, umumnya ketupat disantap setelah prosesi maaf-maafan selesai. Dan ada empat hal yang bisa diresapi yaitu lebaran artinya usai yang mengibaratkan pintu ampunan terbuka lebar, luberan artinya melimpah yang menyimbolkan ajaran untuk bersedekah, leburan artinya melebur yang mengajarkan untuk saling memaafkkan, dan laburan artinya kapur yang melambangkan kesucian lahir dan batin.

4. Dawet

Prosesi dodolan dawet

Prosesi dodolan dawet via https://dinurrahma.files.wordpress.com

Dawet yang akan dibahas kali ini adalah minuman yang terbuat dari gula jawa, santan, dan cendol. Umumnya disajikan dalam keadaan dingin.

Pada pernikahan adat Jawa, dawet tak hanya dihidangkan di atas meja, namun disajikan sebagai rangkaian upacara pernikahan yang dikenal dengan dodol dawet artinya berjualan dawet. Kenapa?? Karena ternyata bentuk cendol yang bulat melambangkan kebulatan kehendak orangtua untuk menjodohkan anak.

Para tamu undangan diperkenankan untuk membeli dawet tersebut tapi tidak menggunakan uang, melainkan menggunakan kreweng (koin yang terbuat dari tanah liat). Apa artinya?? Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia berasal dari bumi.

Ibu calon mempelai wanita bertindak melayani pembeli, sementara sang ayah menerima pembayaran. Hal ini mengajarkan kepada anak mereka yang akan menikah tentang bagaimana mencari nafkah sebagai suami istri , harus saling membantu.

Yang mau nikah, yang mau nikah, yang mau nikah :)

5. Sayur lodeh

Orang Jogjakarta umumnya mengenal sayur yang satu ini. Sayur lodeh umum disajikan sebagai hidangan di rumah.

Pada acara selametan, sayur lodeh dihidangkan karena dilambangkan sebagai tolak bala. Hal ini tidak terlepas dari 12 komponen penyusunnya yaitu labu kuning, kacang panjang, terong, kluwih, daun so, kulit mlinjo, labu siam, pepaya muda, nangka muda, kobis, sayur bayung dan kecambah kedelai.

Ternyata, angka 12, dapat dijumlah sebagai 1+2 menghasilkan angka 3. Angka ini dalam filosofi Jawa berarti upaya meraih kehidupan masyarakat yang dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Sementara, komponen pokok sayur lodeh yaitu labu kuning yang dalam bahasa Jawa disebut waluh memiliki arti wal (lepas) dan luh (air mata). Maksudnya membebaskan manusia dari tetes air mata, peluh atau penderitaan. Santan sayur kelapa hijau biasa digunakan oleh masyarakat tradisional untuk penawar racun. Santan dalam sayur ini juga menjadi simbol penawar racun duniawi. Karena kemewahan dunia justru bisa menjadi racun.

6. Rendang Padang

Rendang Padang

Rendang Padang via http://4.bp.blogspot.com

Duh siapa sih ya yang nggak tau rendang padang?? Makanan khas Minangkabau yang satu ini memang mantap banget rasanya. Bahkan, menurut polling World’s 50 Best Foods yang diadakan situs www.travel.cnn.com tahun 2011, menempatkan rendang sebagai makanan terenak di dunia mengalahkan makanan lain yang jauh lebih populer seperti pizza.

Rendang terbuat dari daging sapi yang dimasak dalam waktu berjam-jam dengan berbagai rempah sebagai bumbunya dan tidak lupa santan.

Ternyata, secara filosofi adat dan budaya Minangkabau, rendang memiliki posisi terhormat. Rendang yang terdiri atas tiga bahan pokok, yaitu daging sapi, sebagai bahan utama, melambangkan niniak mamak (paman) dan bundo kanduang (ibu) yang akan memberi kemakmuran kepada anak dan keponakan, kelapa (karambi) melambangkan kaum cerdik dan pandai, sedangkan cabai (lado) merupakan lambang dari alim ulama yang pedas, tegas untuk mengajarkan agama. Ketiga aspek bahan utama rendang itu diikat oleh bumbu yang melambangkan keseluruhan masyarakat Minangkabau.

Menurut Martion (2014) proses merendang pun memiliki makna yaitu seorang pemuda harus berkontribusi kepada masyarakat secara terus-menerus. Hal ini dianalogikan seperti adukan demi adukan pada saat merendang, mencampurkan santan dan rempah sehingga warnanya berubah menjadi kecoklatan hingga hitam yang bermakna kekuatan dalam memegang prinsip kejujuran dan kebijaksanaan.

 

 

Pasti ada ratusan bahkan ribuan lagi hidangan asli Indonesia yang memiliki makna terkandung di dalamnya. Karena makanan tak hanya soal rasa, tetapi juga makna.

Hmmmmmm . . . jadi laper!

 

 

Sumber:

http://kratonpedia.com/article-detail/2011/8/12/140/Sate.Lilit,.Sebuah.Berkah.Penuh.Makna.html

http://sandiwan.blogspot.co.id/2012/03/tumpeng-dalam-tradisi-jawa-tinjauan.html

http://www.brilio.net/life/ini-makna-sayuran-dan-lauk-yang-sering-disajikan-pada-nasi-tumpeng-1506168.html

http://www.nyunyu.com/main-article/detail/sejarah-makna-dan-filosofi-ketupat-yang-perlu-kamu-tahu#.VmO4HlLdUx5

http://www.portalsejarah.com/menguak-sejarah-masakan-rendang-khas-padang-yang-mendunia.html

https://thebroomzilla.wordpress.com/2013/10/04/prosesi-adat-jawa-siraman-dan-dodol-dawet/

https://wongalus.wordpress.com/2009/05/22/sayur-lodeh-pak-damar-bagian-4/