Pernah nggak sih kalian melontarkan kalimat mencengangkan terhadap kawan kalian yang (mungkin) jomblo? atau sebaliknya kalian yang tercengang dengan pertanyaan tentang jomblonisasi? Jomblo adalah sebutan bagi orang yang tidak mempunyai ikatan hubungan dengan lawan jenis eitsss..jangan salah persepsi dulu, jomblo itu tak selalu karena nggak laku dari segi pandang kita pribadi, kita nggak boleh hanya memandang 1 dari beberapa kemungkinan tentang "Jomblo".

Kenapa? Karena banyak sekali pembelaan-pembelaan yang biasanya di lakukan atau diucapkan para jomblo yang notabene merupakan alasan kenapa mereka menjomblo. Sebuah alasan untuk jomblo kadang terlihat dewasa dan sebaliknya, mereka yang dewasa nampak lebih lihai dalam menjawab pertanyaan berbau bully karena memang alasan mereka menjomblo itu berbobot, mereka punya komitmen sendiri mengenai hal itu. Ada beberapa dari mereka yang kebingungan ketika ditanya status, ada yang menjawab dengan refleks yang lucu dan bahkan ada yang marah-marah nggak jelas haha mau tau alasan para jomblo ketika ditanya status? Ini dia!

1. ‘Kami jomblo terhormat yang ngak mau asal-asalan nyari pasangan. Ya, kami pun setia!’

jomblo terhormat via http://id.lolduck.com

Pembelaan kaum jomblo terkadang terlihat lucu, sadis dan bahkan puitis banget. Ya mungkin karena terlalu lama menjomblo kali, ya.

Jomblo terhormat, jomblo terhormat adalah sebuah sanggahan yang paling menarik di mana para jomblo menjawab sebuah pertanyaan tentang status dengan gaya yang sedikit congkak dan mengelitik hahaha. sanggahan jomblo terhormat biasanya condong ke tipikal orang-orang humoris dimana ia melakukan pembelan dengan candaan namun fakta tetaplah fakta bahwa anggapan orang-orang ia tetaplah jomblo.

Jomblo terhormat itu ada, lho! Ia adalah seseorang yang memilih sendiri karena komitmen bisa saja karena pekerjaan, hobi atau pilihan hidupnya lebih ke cita-cita. Ya, itulah mereka para jomblo terhormat.

2. Kesibukan terhadap skripsi atau pekerjaan pun bisa dijadikan alasan jitu untuk para jomblo. Ya gimana, masa depan adalah yang utama :’)

lagi sibuk sama skripsilah, kerjaanlah, inilah itulah via http://www.beritatrendz.com

Advertisement

Pernah dengar nggak alibi jomblo dengan alasan skripsi, kerjaan, inilah itulah? Pasti ada dong walaupun sebenarnya kita nggak tahu aslinya haha nggak dipungkiri lagi terkadang skripsi atau kerjaan memang menyita waktu yang super duper sibuk di mana tingkat ke-fokusan yang hanya tertuju pada tujuan itu sendiri, namun bisa saja itu hanya alibi.

Skripsi atau kerjaan yang menyita waktu kenyataannya memang membatasi ruang gerak mereka dimana mereka tak ada waktu hanya untuk sekedar PDKT dengan lawan jenis tapi janga di sepelekan terkadang skripsi dan kerjaan bisa menjadi kacau ketika kita sedang PDKT atau lagi dimabuk asmara ada yang lebih memilih meninggalakan skripsi atau kerjaannya ada pula yang melupakan niat PDKTnya dan memilih sendiri alias jomblo

3. Sendiri itu prinsip, jomblo itu nasib. Betul?

single itu prinsip, jomblo itu nasib via https://pexels.com

Single itu prinsip jomblo itu nasib, dari bentuk bahasa ini lebih terlihat ideologi garis keras, ya? Hahaha! Ada lho yang jomblo menahun karena memang apes, tapi ada pula yang jomblo menahun karena nggak mau pacaran entah apapun alasannya yang jelas pengucapan kata single dan jomblo kadang terlihat berbeda kasta ketika itu diartikan karena komitmen atau faktor nasib.

4. Trauma dengan masa lalu dan ingin mencari pasangan yang lebih serius dan berkomitmen tinggi. Pembelaan keren nih!

sakit hati via https://pexels.com

Diduakan? Kena tikung? Trauma? Endingnya jomblo menahun? Coba tengok kanan kiri kalian ada nggak ya yang trauma karena di duakan atau sakit hati yang ending-nya jomblo? Coba di cek dulu siapa tahu teman kalian atau mungkin kamu sendiri yang dilanda trauma percintaan? Aduh, jomblo yang seperti inilah yang perlu kita bantu. Kenapa? Itu masalah hati lho. Trauma bukan berarti keputusan terbaik untuk menjomblo alasannya apa? Sepele kok apapun itu jika dasarnya baik hasilnya pasti baik namun jika dasarnya nggak baik seperti trauma? Apa mungkin hasilnya baik pula? Masuk akal ,kan?

Nah, untuk itu penyakit traumatik karena hal semacam ini harus segera dibuang jauh-jauh deh alias move on dan mulailah selektif untuk memilih pasangan agar tak jatuh di lubang yang sama. Move on memang perlu proses, di dunia ini cuma mie doang yang instan so jangan hanya menunggu dan lari dari kenyataan! Hadapi!

5. Kebahagiaan orang tua lebih penting dibanding status pacaran. Fix, kamu jomblo elegan!

belum cukup umur kali ya? via https://pexels.com

Memprioritskan kebahagiaan orang tua itu wajib!

Bagi oarng-orang seperti ini, status pacaran hanyalah bonus dari segala pencapaian yang selama ini dia raih. Ibaratnya, kalau dapat pacar ya syukur, kalau nggak ya bisa dicari lain waktu dan pada momen yang tepat. Bisa juga, anggapan bahwa pacaran hanya kana menghambat langkah juga dijadikan tolok ukur mereka dalam mementingkan kebahagiaan orang tua di atas segalanya. 

So, nggak ada yang salah 'kan kalau sudah begini?

6. ‘Kalau masih sendiri saja bisa bahagia, kenapa harus memaksakan kehendak yang nggak ada habisnya?’ Kalimat pembelaan yang harus kamu prkatikkan secepatnya!

i’m single & very happy via http://www.societyletters.com

Memutuskan untuk melanjang dulu bukan perkara mudah, sebenarnya. Ketika melihat kanan-kiri sudah memiliki gandengan masing-masing, kita sebagai kaum jomblo merasa risih dan bahkan terasing. Ya, kesan hina pun tak jarang menghampiri karena ejekan-ejekan status jomblo seperti sudah membudaya. Capek? Sudah pasti.

Tapi, mari kembali lagi kepada kodrat manusia yang berhak membahagiakan dirinya sendiri demi masa depan yang lebih baik lagi. Ketika diri sendiri sudah bahagia, makan tak mustahil efek kebaikan tadi akan memperngaruhi lingkungan sekitarnya. Ah, jika sendiri lebih baik, mengapa harus pusing-pusing memikirkan apa kata orang.

Jomblo bukan berarti nggak laku. Ingat itu!