Ada yang bilang tumbuh dewasa itu menyenangkan. Sebegitu menyenangkan sampai dewasa itu katanya tidak bisa diukur dari umur. Padahal dewasa tidak sesempit keinginan untuk hidup bebas yak? Tetapi tidak bisa dipungkiri memasuki usia 20-an dunia secara tidak langsung, memaksa kita untuk berpindah ke tahap kehidupan tersebut. Kamu yang lahir tahun 90-an pasti sedang merasakan ini.

 

1. Rumah semakin sepi

Home Alone

Home Alone via http://blogger.com

Kamu yang bukan anak tunggal mungkin lebih mampu memahami ini. Masa-masa pulang sekolah bersama, bermain bersama, menonton bersama, makan bersama-sama dengan anggota keluarga yang lengkap menjadi suasana yang mulai langka. Entah sekuat apa sebuah “kesibukan” dunia kerja ataupun kuliah, sampai mampu merenggut kehangatan sebuah ikatan keluarga. Dahulunya kamu masih bertengkar menonton siaran TV, sekarang menjadi bebas tanpa aral merintang sebab satu-persatu anggota keluarga telah meninggalkan rumah untuk kehidupan yang sesungguhnya. Hari pertama seorang penghuni rumah meninggalkan rumah adalah perpisahan terberat yang pasti kamu rasain bersama orang tua kamu. Kesesakan terberat saat kamu ingin menahan kepergian itu, namun kamu sadar tahap kehidupan ini memang harus terjadi. 

2. Merantau itu sakit (nyesek)

Ada yang sedang di kota perantauan? Menuntut ilmu ataupun bekerja?  Kamu yang masih muda dan berada di tahap perkembangan dewasa pasti memiliki keinginan untuk menghabiskan masa muda di berbagai tempat. Kamu berharap akan dipenuhi berbagai pengalaman agar masa mudamu tidak habis dengan sia-sia. Kamu berusaha mendorong dirimu untuk mengeksplor apapun yang di ada depan matamu sampai akhirnya kamu sadar tantangan hidup terkadang mengendorkan niatmu dan akhirnya menyadari rumah adalah tempat ternyaman sepanjang masa.

Tetapi sisi positifnya ketika kamu (si anak perantau) mampu bertahan dan memenangkan tantangan hidup itu berarti kamu udah naik level lagi. Sebenarnya merantau benar-benar mengajar kita untuk hidup mandiri, kuat, tidak banyak mengeluh, dan paling penting menghargai momen-momen berharga dalam hidup. Dimanapun kamu berada sekarang, se(nyesek) apapun perjuanganmu menjalani kehidupan merantau setidaknya kamu sudah memenuhi salah satu prasyarat orang untuk dapat hidup sukses. Asal jangan lupa hubungin orang tua dan balik ke rumah ya… Perubahan hidup yang ini emang nyesek tetapi setidaknya kamu pernah mengalaminya dan punya cerita berharga untuk dibawa pulang ke dalam pelukan hangat mama papa.

3. Tanggung jawab milik sendiri

Responsibility

Responsibility via http://puckermob.com

Dulu saat piring pecah, yang beresin mama. Dulu saat seragam sekolah hilang kita nyarinya ke mama. Dulu saat sepeda rusak larinya ke bapak. Mudah ya? Enak ya? Banget! ini alasan para manusia dewasa pengen balik ke masa kanak-kanak. Masa yang katanya permasalahan terbesarnya hanya sebatas PR Matematika. Terlepas dari itu semua kita tidak mungkin bergantung terus pada orang tua. Memasuki usia 20-an semua permasalahan dunia mulai mengerumuni kita. Bukan semata-mata untuk menyusahkan kita tetapi sebenarnya mengajak kita untuk bisa terus naik kelas.

Awal kita menyadari hidup ini penuh tanggung jawab adalah garis start kita menekuni kedewasaan itu. Berat? Iya! Tetapi itu tidak lebih dari tanggung jawab orang tuamu menjagamu hingga seusia sekarang. Namun seberat apapun itu, perubahan hidup ini memang harus kita dapati. Hidup untuk lebih bertanggung jawab hingga akhirnya Sang Pencipta mempercayakan kita tanggung jawab yang lebih besar lagi, semisal keluarga baru? (Buat kamu yang udah di usia nikah).

4. Pikirin masa depan itu berat

Mau bekerja sebagai apa? Cara sukses gimana? Ngebahagiain orang tua gimana? Lulus kuliah di usia berapa? S2 dulu, nikah dulu? (Iklan banget yah ahaha) dan banyak hal lainnya. Seberat-beratnya pikirin masa depan, lebih berat lagi habisin masa tua tanpa hasil dari kerja keras di masa muda kita. Perubahan yang terjadi di usia 20-an memang mengharuskan kita untuk memperjuangkan sendiri masa muda itu. Seberapa dewasa kita mengorbankan diri demi meraihnya sebesar itu pula yang dapat kita raih.

5. Menjadi dewasa berarti menjadi matang

Process is beautiful

Process is beautiful via http://WordPress.com

Pikiran dewasa itu kayak pohon. Satu doang batangnya tapi tangkainya bercabang-cabang. Banyak hal yang butuh pertimbangan, karena hidup itu bukan hanya sekedar  hura-hura, pacaran, dan menemukan kesenangan sesaat. Banyak hal yang perlu diperjuangkan bukan hanya di dunia tapi untuk hidup kekal di alam baka. Semakin bertambah usia, pengalaman hidup akan terus membawa kita menjadi lebih matang. Hanya perlu kesediaan kita, bersedia menghadapi tantangan hidup atau terus bersembunyi seolah mampu menahan dunia tetap begitu saja.