Biasanya pertanyaan seperti ini sering kita dengar ketika sedang mengikuti acara-acara kepimpinan. Di sana, para motivator biasanya mengatakan Lewat orangtua, teman, sekolah, dan lingkungan kita bisa mengenali diri sendiri. Dimana saja, dengan siapa saja bisa membantu kita untuk mengenali diri.

 

1. Bagaimana Jika ditanya Sudahkah Kita Mengenal Diri Kita Sendiri?

Siapakah aku ini?

Siapakah aku ini? via https://www.google.co.id

Namun bagaimana tiba-tiba ditanyakan sudahkah kita mengenal diri kita sendiri? Bagaimana kita harus menjawabnya? Bagaimana caraku mengenali diriku sendiri? Adakah cara bagiku untuk mengenali diri sendiri? Di tengah semakin meningkatnya kemajuan teknologi, akses informasi, gaya hidup, pemikiran manusia yang semakin modern dan terbuka, bisakah kita memberi gambaran orang seperti apakah kita ini? 

Di tengah kemajuan teknologi misalnya, berapa jenis gadget yang kita miliki? Seberapa besar kepemilikan gadget sebenarnya dapat mewakili diri kita. Apakah kita membutuhkan dua hingga tiga handphone? Bagaimana kegunaannya? Dapatkah itu mewakili gambaran diri kita?

Berapa jenis aplikasi media sosial kita yang aktif? Tiga? Empat? atau mungkin lebih. Berapa persen kebenaran postingan atau sharing-an kita di media sosial tersebut. Apakah dapat mewakili siapa diri kita yang sebenarnya ataukah bisakah kita menemukan jati diri yang sebenarnya melalui postingan atau sharing-an kita tersebut?

Dari segi teknologi informasi. Begitu ada banyak berita, peristiwa, hot issue yang terjadi di sekitar kita.  Bagaimana pendapat kita? Apakah berbagai pendapat kita benar-benar bisa mengambarkan diri kita? Apakah kita benar pro, netral, kontra, atau bahkan cuek terhadap isu LGBT misalnya.

Dari segi peningkatan gaya hidup. Saat ini ada berbagai jenis kafe, restoran, bar, tempat hiburan, liburan dan sebagainya dengan jumlah tidak terbatas tersedia bahkan semakin berkembang. Kapan dan dimana saja kita bisa menghabiskan waktu luang.  Haruskah kita kesana, memasuki satu persatu tempat-tempat itu? Benarkah dengan nongkrong dan liburan kesana sini, berteman atau bersahabat dengan si si A atau si B kemudian kita bisa menemukan atau dapat menggambarkan diri kita?

 

2. Bisakah kita mengenal kepribadian dan sifat-sifat kita sendiri?

Aku dan aktivitasku

Aku dan aktivitasku via https://www.google.co.id

Jawabannya bisa. Kita tetap bisa mengenal diri kita melalui segala aktivitas modern yang kita jalankan. Hanya saja, pertanyaaan yang paling utama ialah seberapa jujur dirimu hadir sana, di tengah kehidupan modern yang saat ini dijalani?

3. Cara Mengenali Diri Lewat " Me Time"

Hobiku membaca

Hobiku membaca via https://www.google.co.id

Untuk mengetahunya, penulis menawarkan sebuah cara yang disebut dengan “Me Time”. “ Me time” disini tidak harus menghabiskan waktu memanjakan diri dengan segala hal yang membuat diri kita tersenyum bahagia. “ Me Time” ialah saat dimana kita benar-benar sendiri tanpa orang lain. Ada  banyak kegiatan menempatkan kita memang sedang atau berada pada posisi “sedang sendiri”. Contohnya: Di rumah sendiri, di ruang kantor sendiri, di jalan sendiri , di Bus sendiri, olahraga sendiri, di Kerete sendiri dan lain sebagainya.

4. Perhatikan Diri Kita di Saat Kita Sendiri

aku adalah manusia yang dicermin itu

aku adalah manusia yang dicermin itu via https://www.google.co.id

Pertama, perhatikan diri kita di saat kita sedang sendiri. Aktivitas apa yang paling sering kita lakukan saat sendiri? Misalnya, saat sedang berada di rumah. Apakah kita hanya tidur-tiduran saja, atau membaca, menonton, menghayal, berolahraga, atau bahkan kebosanan dan langsung satu persatu menghubungi teman untuk berkumpul ria dan lain sebagainya.

Dari aktvitas tersebut setidaknya kita bisa sedikit mengambil kesimpulan tentang diri kita. Misalnya kita bisa menentukan diri kita pemalas jika kita malas bergerak, hanya ingin tidur atau bersantai saja, mengulur-ulur pekerjaan rumah dan sebagainya. Kita bisa menentukan diri kita rajin atau kreatif dengan banyak kegiatan seperti membaca, mengerjakan pekerjaan apa saja yang berhubungan dengan tugas rumah, menonton, berolahraga. Kita juga bisa menentukan diri kita apakah senang ketenangan atau kebisingan lewat aktivitas tetangga rumah kita dan lain sebagainya. Ada banyak hal, perhatikan baik-baik, kita bisa mengenali diri kita dengan cara itu.

5. Evaluasi Diri Kita

Sudah benarkah aku?

Sudah benarkah aku? via https://www.google.co.id

 Me Time” adalah saat dimana kita sedang sendiri dan berpikir tentang  diri kita melalui berbagai perisitiwa yang sudah kita lewati. Atau dengan kata lain, refleksi diri. Apakah segala tindakan, sikap, komentar tentang segala peristiwa, kejadian yang lalu atau baru saja terjadi adalah benar menurut kebenaran yang kita pahami dan orang lain pahami.  Apakah memang benar adanya. Apa yang kita lakukan jika kelak dihadapkan pada situasi yang sama, mungkin dengan waktu dan orang yang berbeda? Ataukah kita cuek-cuek saja. Berdasarkan hal ini kita juga bisa mengenali diri kita sendiri.

“Me Time’” adalah saat dimana kita jujur terhadap diri kita sendiri. Meskipun berbohong, pada akhirnya kita tidak akan bisa berbohong pada diri kita sendiri. “Me Time” ini juga bisa dilakukan dimana dan kapan saja.  Hendak tidur, sedang berolahraga, sedang santai, istirahat jam makan siang, dan lain sebagainya.

6. Semakin Sering Me Time” Semakin Kenal Kita Diri Sendiri Semakin Positif Hidup Kita

hidup semakin bijaksana

hidup semakin bijaksana via https://www.google.co.id

Semakin kita sering melakukan “Me Time” semakin kenal pula kita dengan diri kita sendiri. Hal ini bisa saja suatu saat berguna bagi diri kita sendiri. Misalnya, di era kemajuan teknologi modern dan informasi saat ini, dengan modal kesadaran mengenal diri sendiri setidaknya kita tidak hanya sekedar ikut, tenggelam atau bahkan terhanyut arus ke-modernan yang berakibat pada kehilangan jadi diri atau kontrol atas diri kita sendiri. misalnya, Kita bisa lebih bijaksana bermedia sosial, melek informasi bahkan semakin percaya diri di lingkungan sosial kita. Akhir kata, penulis ingin bertanya sudahkah kita mengenal diri kita sendiri?