Kisah ini tidak bisa aku tinggalkan begitu saja. Tetapi aku juga tidak bisa meneruskannya. Kamu, selalu ada bersama hari-hariku yang membosankan. Kamu, mengajari aku bagaimana menjadi diri sendiri. Kamu, yang selalu memberikan bingkisan indah dalam hidupku. Tetapi, kenapa secepat itu kamu pergi? Apa aku tidak pantas untuk bersamamu lebih lama? Apa Tuhan tidak mengizinkan aku menjagamu? Apa karena aku lemah? Ah, entahlah.

Mungkin Tuhan sedang tidur dan mengabaikan doaku untuk terus bisa bersamamu.

 

1. Saat kita bersama, itu saat terindah dalam hidupku!

“Tidak akan aku lupakan saat kita tertawa, berbagi cerita dan menikmati cinta. Karena saat itu adalah saat terindah dalam hidupku.”

Kebersamaan itu seperti sebuah mimpi yang jadi kenyataan bagiku. Terasa amat indah dan tidak bisa disamakan dengan apapun. Kebersamaan yang sudah berakhir, namun sangat indah dimataku. Rasanya tidak akan bisa terlupa meski berjuta tahun menghilang. Karena kamu, sudah terlalu berarti untuk aku hilangkan begitu saja.

Dan saat bersamamu, berbagi cerita dan menikmati hari dengan tawa. Membuat aku merasa itu adalah saat terindah. Kamu yang mengajarkan aku untuk menikmati semuanya, dan kamu yang membuat semua ini menjadi sangat indah. Saat dimana kita selalu bersama.

2. Perpisahan itu membuatku lebih dari setia!

“Kamu yang pergi dan tidak kembali. Mengajarkan aku arti kesetiaan menunggu.”

Tidak pernah ada bayangan yang lewat di benakku tentang perpisahan kita. Aku tidak sekalipun memimpikan itu. Bahkan saat aku tahu jika kita berpisah, aku masih tidak mempercayainya. Bagiku, kamu lebih dari seorang pelindung. Kamu tidak sempurna tetapi kamu bisa membuatku sempurna. Kamu juga tidak baik sepenuhnya, tetapi kamu bisa membawa aku kepada kebaikan.

Perubahan itu, membawa aku kepada rasa yang tidak aku pahami. Dan kepergianmu adalah jawaban dari perubahan itu. Terimakasih telah menjadikan aku wanita sempurna dalam hubungan singkat yang kamu berikan.

3. Mustahil untuk kembali, karena semuanya berbeda!

“Bukan tentang aku dan kamu yang saling mencinta. Tetapi tentang kita semua yang berbeda dan tidak mungkin untuk bersama.”

Hati kita memang berharap untuk bersama. Tetapi ada tabir penghalang yang tidak mudah untuk dihancurkan. Penghalang itu menghancurkan semua harapan kita. Tetapi tetaplah menjadi bagian dari jiwaku. Dunia kita berbeda, hati kita tetaplah sama.

Tidak ada penggantimu dalam jiwaku. Perpisahan itu tidak berhak menghilangkanmu dari ingatanku. Dan kamu, tetap akan bersemayam dalam jiwaku. Dalam ingatan yang tidak akan aku hilangkan. Meski hati ini mengharap kembali, tetapi pada kenyataannya dunia ini tidak mengizinkannya. Mustahil kebersamaan itu akan terulang kembali.

“Karena kamu sangat berharga untuk aku hempaskan.”

4. Waktu itu sudah hilang dan sirna!

“Jangan menyesali yang terjadi. Karena tidak akan bisa mengembalikan semuanya yang sudah hilang dan sirna.”

Dalam waktu aku berandai untuk berusaha menjadi jiwa terbaikmu saat itu. tetapi bukan aku tidak mau, aku hanya tidak bisa. Aku tidak mampu melawan perbedaan itu. dan aku sangat lemah bertahan dalam jiwa yang sangat berbeda dengan jiwaku sendiri. Waktu itu sudah berlalu. Tidak akan kembali dan memberikan kesempatan yang sama.

Dalam pengandaikan aku mencoba untuk tidak menyesalinya. Karena penyesalan itu tidak akan merubah apapun. Tidak akan mengembalikan waktu yang hilang, dan tidak akan mendatangkan kesempatan yang pernah sirna. Cukup dengan menerima, maka jiwaku lebih bisa tegar. Karena waktu yang hilang itu membuat kamu tetap dalam jiwa.

5. Ketegaranku membuat kamu ada dalam jiwa!

“Perpisahan dalam perbedaan, membuat aku belajar setia dan tegar. Ketegaran itu membuat kamu ada dalam jiwa.”

Siapa yang menginginkan perpisahan dalam hidup ini. Aku sendiri sangat membenci perpisahan dan kepergianmu. Kita memang berbeda, dan perbedaan itu yang menjadikan kita tidak bisa bersama. Namun perpisahan dan perbedaan itu membuat aku belajar untuk tetap setia kepadamu. Hingga nanti, kamu masihlah pria yang aku cinta.

Simpanlah mimpi kita untuk bersama. Karena semua waktu yang hilang tidak akan kembali sama. Kesempatan itu sudah sirna, dan biarkan akhir ini menjadikan kamu penghuni tetap dalam jiwaku.

“Untukmu, yang tetap dalam jiwa. Terimakasih atas perbedaan yang memberikan aku ketegaran.”