Senyum mengembang di setiap pagi, ketika kulihat ada pesan pendek darimu. Entah kenapa akhir-akhir ini, kau berhasil menjadi moodboster di setiap pagiku. Entah kenapa ada semangat yang timbul setiap kali aku membaca pesan yang kau tujukan untukku. Walau itu bukan berisi barisan kata nan indah, walau itu bukan berisi serangkaian syair yang mungkin tertata rapi dengan sajak di belakangnya.
Iya, kamu. Kamu yang kukenal baru-baru ini lewat jarak.

 

1. Hadirmu yang seakan terencana.

Hadirmu yang aku tak mengerti entah berasal dari mana, awalnya yang kutahu ini semua mungkin bagian dari skenario hidup yang harus dijalani. Skenario yang kita tidak tahu apa isinya. Kita dihadapkan dengan peran yang harus tampil maksimal namun kau tak tahu apa isi dari skrenario itu. Kita adalah aktor terhebat yang kutahu karena mampu memerankan ini semua tanpa membaca, melihat, ataupun mempelajarinya.

Sapaan di awal-awal perbincangan, yang dalam waktu terakhir ini, menjadi rutinitas bagi kita mungkin mampu menyihirku untuk tersenyum sendiri layaknya orang remaja ABG ketika pertama kali mengenal cinta. Ah, kurasa aku bukan jatuh cinta namun sepertinya aku mulai jatuh hati.

2. Sapaan "kamu" yang kini berubah jadi "abang".

Sebutan kamu yang kugunakan di awal-awal perbincangan, kini dengan mantap kuganti dengan "Abang" karena kurasa sebutan itu lebih nyaman didengar daripada aku harus memanggilmu dengan sebutan "Kamu", yang bagiku terdengar lebih formal dan seakan memberi batas bagiku setiap kali aku ingin bercerita atau mendengarmu bercerita. Walau kadang-kadang kau tidak terima jika kupanggil dengan sebutan itu, katamu kau terlalu tua jika harus dipanggil begitu

Namun aku akan tertawa geli jika mendengar sebutan yang kau gunakan setiap kali kau memanggilku. Oh, Neptunus bisakah kau mengeja namaku dengan benar? Atau setidaknya jangan membolak-balik namaku?

3. Aku mulai tertarik untuk belajar tentang pribadimu.

Aku mulai terpikat dengan tutur kata yang kau gunakan dan kagum dengan caramu memandang dunia. Bahkan kurasa aku mulai menyukai caramu setiap kali kau memberi saran di setiap cerita yang kubagikan untukmu. 

Mungkin perbedaan usia yang juga ada, membuatmu terlihat lebih dewasa dariku. Aku terasa tersihir setiap kali kau membagikan kata-kata nasehat, setiap kali kau berkata-kata tentang pengalaman hidup yang mungkin sudah lebih banyak kau alami dibanding aku yang gadis yang masih berusia 20 tahun ini.

 

4. Tak hanya sekedar butuh, aku juga sudah siap.

are you ready?

are you ready? via https://www.google.co.id

Untuk orang baru setelah perpisahan yang masih terasa begitu menyakitkan dan masih jelas membekas di hati, bukan perkara mudah untuk bisa membuka hati lagi. Tak hanya butuh waktu yang lama dan niat yang kuat untuk kembali berjuang ke arena yang baru dengan orang baru, yang mungkin tidaklah sama dengan dia yang pernah singgah.

Ibarat seorang pecandu narkoba, aku hanya butuh sabu dalam waktu yang lama. Kemudian aku akan sembuh dengan caraku sendiri. Rasa sakit yang kemarin masih jelas terasa. Hanya saja, aku sudah menganggapnya sebagai hadiah kecil dari perjuanganku yang telah lalu.

5. Apakah kita memiliki hati yang sama?

Aku mungkin memang pernah lelah karena bertahan pada orang yang salah. Tapi aku tidak menyerah. Hidup bagiku saat ini bukan lagi harus bersama dia yang pernah kupercayai memiliki rasa yang sama denganku. Saat ini, aku hanya butuh membenahi diri untuk lebih baik lagi. Memperbaiki semua kesalahan yang mungkin jadi penyebab dia yang dulu ada sekarang pergi. Saat ini aku berdoa untuk aku yang jauh lebih baik.

Jika kali ini aku diberi kesempatan lagi membuka hati dengan kamu yang baru, aku hanya berharap kesalahan yang dulu pernah terjadi tidak akan terulang kembali. Akan kudekap kau erat-erat seperti selama ini aku melindungi hatiku sendiri, agar kau juga akan jadi penguat dalam doa-doa untuk dalam cerita yang baru denganmu.

Jika kemarin aku berkata akan mencinta jika aku sudah siap, bukan saat aku butuh, kurasa saat ini aku bukan hanya sekedar butuh tapi juga siap.
 

 

Kepadamu yang kini sedang kupikirkan, apakah isi hatimu juga sama? Kuharap begitu.