Hey, September ya?

Cukup setahun lalu mungkin kamu belum bertemu kisah ini, masa ospek, pandangan ini pertama bertemu sosokmu. Ya, perempuan tinggi, berkaca mata dengan ikat rambutmu dibelakang yang datang terlambat. Tidak ada yang istimewa dari penampilanmu saat itu dan tanpa menatap lebih aku hanya melihatmu sekilas. Dari semua itu asa ini berawal, tau kenapa moment itu berulang-ulang terputar di setiap lamun. Mungkin ini hanya kagum sekilas batinku tanpa menghiraukan pikiran berlebih.

 

1. Aku yang hanya mengamati dari lantai atas.

secret admirer

secret admirer via http://cdn.klimg.com

Bulan-bulan pertama kampus, entah sengaja atau tidak. Aku sering melihatmu kembali nongkrong disekitar kampus, ya sosok yang aku kenal digerombolanmu cuman seseorang yang aku pernah kenal jaman TK dahulu.

Hahaha... Tanpa sadar aku mulai mengamatimu gerombolanmu itu, ada perempuan tinggi yang dulu berkaca mata dengan ikat rambutnya yang pernah sekilas aku tatap. Tapi dengan tanpa kaca matamu kali ini, kamu masih menarik untuk tatapan ini.

Ahhh... semakin kesini semakin lebih sering pandangan ini mengamati perempuan itu. Kamu yang sering datang lebih siang, mengamati memarkirkan motormu tanpa sadar tawa kecil ini muncul dengan sendiri. Memandangmu dari lantai atas ketika jam kampusmu selesai, memandang tawamu dari ujung tangga. Aduh... ini kagum berlebih-kah batinku?

Semakin banyak pandangan ini untuk perempuan itu, aku mulai memberanikan diri menanyakanmu lewat salah satu gerombolanmu yang aku kenal itu. Nama, hal pertama yang aku ingin tau, pasti. Arina, hahaha hanya nama itu yang aku tangkap.

Diantara tanya itu kabar datang telah ada laki-laki disampingmu. Ahhhh... aku-kan pengen tau saja tanpa niatan lebih. Kala itu pandang dari lantai atas belum pudar. Malah semakin lebih sering mengawati tawamu. Ada yang berbeda lagi kali ini, seutas kain jilbab sekarang menutupi ikat rambutmu yang aku kagumi itu. Entah, sosokmu semakin nyaman untuk obyek kagumku ini.

Perlahan aku mendekat gerombolanmu itu, sepertinya sekelilingmu tau aku mengamati tawamu itu. Hahaha inget hp-mu mati, salah satu dari gerombolanmu yang aku kenal memanggilku, menyuruh mengecek hp-mu yang mati itu. Aku sebernya nggak tau apa-apa tentang hp hahaha, temanmu itu modus-in mungkin supaya aku mendekat sosokmu yang selama itu hanya aku pandangi dari selasar kampus.

Gila! Aku pegang hp-mu berdiri didepanmu, aku gemetar setengah mati. Tak tahu harus ngapain dengan hp-mu. Cuman utik-utik yang aku bisa, astaga hp-mu bisa nyala. Sungguh ajaib bagiku saat itu hahaha.. bahkan sampai saat ini masih muncul tawa ketika memutar memori itu lagi.

Setelahnya aku kembali menjadi pengamatmu,

Aku membuka akun facebook, aku cari lagi namamu. Ahh.. ternyata akun facebookmu telah menjadi teman. Aku mulai stalking akun yang hanya bernama ‘Arina’ itu. Kulihat beberapa fotomu bersama laki-laki yang disampingmu. Ahhh benar ada sosok laki yang berada dihatimu. Aku batin, ahh oke yaudah sedikit kecewa saat itu.

2. Pesan konyol ucapku menjadi awal cerita Ini.

my first message

my first message via http://panel.mustangcorps.com

Awal November, aku lepas kendali atasku. Hahaha aku stalking disertai nge-like beberapa fotomu. Aku lihat akunmu sedang on-line. Kendali ini lepas lagi, aku message akunmu dengan panggilan “cung” hahaha sok akrab banget.

Dari message sederhana itu awal kita kenal. Kamu menawarkan “bbm aja gimana?” duhhh... hoki banget malam itu. Mulai kita sambung obrolan kita via bbm. Tiap menit kita ketawa via pesan itu, bahkan kita lupa larut sudah datang dan pesan itu tersambung ketika pagi kembali datang.

Jujur, nyaman yang aku dapat saat itu. Aku mulai berlaku konyol menanyakan tentang sosok laki yang dihatimu itu. Jawaban kalian lagi konflik yang aku dapat, duhh mati batinku, ini bukan gara-gara aku datangkan. Beberapa hari kembali kita bahas hal itu, dan kabar kalian putus datang di-chat-ku. Dan kontak kita semakin sering dan kita semakin dekat.

Malam minggu 15 November, aku beranikan membuat rencana nonton denganmu saat hari itu. Tak ada penolakan darimu, hahaha beruntung pikirku kala itu. Aku datang kerumahmu dengan penampilan rapi berharap sedikit kamu suka saat itu dan sedikit berencanya mengungkapkan hati ini saat itu.

Ya, aku suka, aku sayang dengan sosokmu yang membuat tawa-tawa kecilku berasa nyaman. Sedikit ragu kala itu setelah selambu layar bioskop tertutup, yang bertanda film yang kita nikmati tinggal creditcrew. Aku berusaha berkata ditempat yang sama saat itu. Ahhh.. aku cemen aku nggak berhasil mengungkapkan.

Kita beranjak pulang, dijalan dalam boncengan kita. Aku beranikan berucap untuk mengajakmu saling melengkapi bersama. Itu ungkapan pertama kali yang aku ucapkan didepan perempuan yang sebelumnya aku hanya berani berucap via message.

Gugup, bingung, gemetar, pasti! hahaha dan balasmu hanya meminta waktu untuk memberikankan jawaban dari ucapku sebelumnya. Kudapati pula status bbm-mu yang buat senyum-senyum lagi kala itu “Dia rapi, bunda suka”.

16 November, aku kembali menanyakan tentang perasaan itu. Ahhh.. you said, yes! Jujur inginku teriak lantang kala itu mendapati pesan seperti itu di-hp-ku. Terimakasih sosok yang hanya aku kagumi sebelumnya memberikan hati kepada laki-laki biasa ini.

3. Disampingmu aku bahagia bahkan atas konflik sebagai figurannya.

Aku bahagia denganmu

Aku bahagia denganmu via http://img.hipwee.com

Bulan pertama, kedua, ketiga, keempat. Banyak tawa, senyum, momen indah, banyak kencan-kencan yang kita buat. Banyak film-film yang kita habiskan bersama. Beberapa terselip foto berdua yang sampai saat ini masih tersimpan di file hp-ku.

Bahkan foto kita pertama yang aku masih malu-malu-kucing untuk berada didekatmu nggak berani menggandeng tanganmu masih jelas tersimpan. Banyak hal-hal yang bakal menjadi kenangan yang kita cipta. Banyak pamit ke orang tua mu untuk mengajakmu sekedar kencan kecil. Aku pikir memori kamu saat ini masih sering memutar hal-hal itu.

Jujur aku bahagia menjadi laki disampingmu. Tak ada pikiran sedikit-pun untuk pergi menyerah ketika konflik-konflik kecil nantinya datang. Kamu juga pasti tau, setiap hubungan pasti kita pemeran utamanya dan ada juga figuran serta penontonnya dengan sedikit konflik menyertai.

Aku beri seluruh harapku kepada sosok yang dulu hanya bisa aku pandangi yang kala itu telah disampingku menguatkan kebodohan-kebodohan kecil yang aku buat.

Cerita tentang masa lalumu tidak membuat sedikitpun goyah untuk menjauh, bahkan bahagia ini menjadi lebih besar. Kutaruh semua mimpi bersama pada hatimu. Kau-pun juga begitu kan?. Masih ingat? Kamu berkirim gambar dirimu yang acak-acakkan akan bersiap terlelap tidur, bertuliskan “Selamat Malam Ardian”, “Good Night Ardian” dan “Konnichiwa Ardian :*”.

Dengan itu aku sangat tau hatimu begitu nyaman dengan adanya aku sosok yang kala itu laki-lakimu. Aku berterimakasih juga hatimu dipercayakan kepada sosok ini. Aku bahagia itu yang ada rasa saat itu. Aku bersyukur dirimu menjadi bagian cerita-cerita konyolku.

4. Semua berubah dengan perubahan kecilmu.

Rencana kencan kita lebih sering diawali per-sewotan-an kecil. Perubahan-perubahan cara dirimu bahagia juga sudah berbeda. Ya aku tau itu semua diawali dari banyak rese, banyak sifat dan sikapku yang membuatmu jenuh, terganggu, kecewa. Maaf, tapi tidak ada keinginan sedikitpun untuk membuatmu tidak nyaman.

Dan kita masih kembali baik, kembali banyak tawa-tawa. Banyak momen-momen yang kita lewati dengan bahagia. Banyak konflik yang kita dapat lewati dengan saling terbuka.

5. Ulang tahunku, ulang tahunmu juga masih merasa bahagia.

Kita masih bisa tertawa besama

Kita masih bisa tertawa besama via http://cdn1.listovative.com

Sayang, masih inget dengan ulang tahunku dan ulang tahunmu? Semua biasa tapi berasa spesial, kadomu yang sederhana tanpa kejutan-kejutan seperti yang lain sudah membuat hati ini lebih besar kepadamu. Begitu pula kadoku untukmu, tidak ada yang spesial tapi tawamu menggambarkan kamu lebih suka kado itu dari kado-kado yang lain. Aku kembali bersyukur, hal yang biasa bisa terbuat lebih dengan cara-caramu. Cara-cara kita.

6. Ahhh.. Kembali berubah kali ini lebih besar

Kamu kembali berbeda

Kamu kembali berbeda via http://www.indrakeenam.com

Hatimu menjadi lebih tanpa ketenangan disampingku. Aku tak pernah menyalahkan sedikitpun akan-mu. Aku kembali melihat diri ini, apa hati ini gagal membuat nyaman lagi? Hanya itu yang ada digundahku. Aku tau banyak pesan-pesanku mulai teracuhkan sebab perasaan itu. Tapi ketika kita masih bertemu, semua baik-baik. Karena aku hanya melihat tawamu saat disampingku, tanpa keluar keluhan-keluhan atas-ku.

Aku berfikir tidak ada yang salah, semua baik....

Tiba – tiba, kamu menyerah. Mengatakan hatimu sudah tidak lagi disini. Kalau memori itu terputar kembali, rasanya masih tidak percaya akan statement itu yang sebelumnya hanya ada pesan-pesan untuk tidak saling meninggalkan, untuk tetap saling berjuang.

Hati ini belum pergi, masih berjuang menahan hatimu kala itu. Kali ini berjuang menjadi hal lebih sulit seolah aku hanya sendiri tanpa kamu yang menguatkan seperti dulu. Banyak cara tingkah ini untuk mempertahankan. Tapi sosokmu memilih menyudahi dengan menyerah.

Kembali aku jujur, hati ini gugur, hati ini bak tertabrak benda besar dan menyakitkan. Dengan tanpa keinginan untuk pergi dari hatimu yang telah tidak disini.

7. Saat terberat bagi hati yang dulu terbahagiakan olehmu

Kamu meminta pergi

Kamu meminta pergi via http://orig05.deviantart.net

Pesan-pesan mu untuk memilih menyudahi, pikiran ini masih menangis. Dan sekali lagi masih dengan tidak ingin pergi. Alasan-alasan untuk memilih menyudahi yang masih belum terkumpul jelas hanya menumbuhkan argument-argument hatimu telah berpindah dengan kenyamanan sosok lain.

Tetapi, ketika kamu berucap menjelaskan. Tanpa ada hati lain diantara memori-memori kita. Menguatkan perasaan ini. Meski aku tau beberapa message-mu dengan laki itu menunjukkan perhatianmu kepadanya. Setiap menit kalian tertawa membuat laki-laki yang pernah terbahagiakan ini iri memandangnya. Dan kembali aku masih menguatkan untuk tidak berargument.

Iya, jujur perasaan cemburu ini muncul ketika tau kamu tertawa, dekat dengan laki-laki itu. Dan sekali lagi masih tidak ingin pergi. Masih mampu memberikan hati ini untukmu. Masih penuh harap untuk sosokmu kembali. Dan masih percaya dengan penjelaskan itu.

Kamu bercerita itu hanya seorang teman, tapi yang aku tau, beberapa message-mu, kalian saling mendapat perhatian. Ahhh sakit tapi tetap hati ini tak ingin pergi. Dengan banyak argumen-argumen itu aku sadar hanya akan membuat lebih berantakan tentang kita. Maaf, itu karena aku begitu ketakutan atas perginya hatimu tanpa ada sosokmu yang menguatkan kebodohanku seperti dulu. Iya dulu hatimu yang selalu sejuk diantara kekonyolan-kekonyolanku.

8. Setelah hatimu pergi, hanya harap kembali yang aku cari

Masih disini menunggu harap

Masih disini menunggu harap via http://instagram.com

Kosong, hampa tanpa perhatian-perhatianmu, pesan-pesan selamat pagimu. Pesan-pesan “Love you” dari kontakmu. Kadang aku kembali mengingat bahagia kita, dan masih tawa yang keluar kali ini tawa disertai tangis hati. Hahaha, aku bukan laki-laki sok kuat. Aku berasa jatuh atas semua kepergian itu.

Diantara itu masih terselip hati ini untuk tidak pergi, tetap memberikan perhatian yang mungkin risih menurutmu sekarang sehingga banyak kau acuhkan. Hati ini masih dengan do’a saban hari kamu kembali dengan hati ini. Saban hari kamu membuat bahagia (lagi). Masih terus berjuang untuk bertahan tanpa meninggalkan tanpa berpindah mencoba hati lain, aku disini. Berharap Tuhan Maha pembolak-balik hati memberikan kesempatan untuk hatimu melihat disini (kembali)

Perasaan ini masih menunggu, iya menunggu semua tentang kamu kembali. “Butuh waktu” yang kau ucap, itu penguatku untuk bertahan dan bersabar saat ini.

Cerita ini masih berharap untuk terus disambung dengan tawa-tawa darimu, sedikitpun tidak ada untuk meninggalkan dan mencoba hati lain. Teguh yang aku lakukan untuk berharap hati itu untukku (lagi).

Terima kasih cerita bersama 9 bulan yang singkat ini, yang banyak bahagai disertai konflik-konfliknya. Harapmu kembali masih dihati ini tanpa meniggalkan, Terima kasih denganmu aku menjadi sosok teguh dengan diri, menjadi sosok yang mau berjuang. Terima kasih.

Carita ini masih berharap terlanjut dengan ketikan-mu, dengan hal-hal indah bersama hatimu. Berharap ingatan tentang kebahagiaan kita membuat hatimu kembali. Terima kasih dengan ini aku belajar menjadikan hatimu untuk diperjuangkan. Terima Kasih, Arina.