Gading memang menjadi barang langka di Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Timur. Ya, tentu saja karena NTT tidak memiliki gajah sebagai penghasil gading. Namun, gading memiliki nilai yang sangat penting bagi kelompok masyarakat tertentu di NTT. Penasaran, kan?

 

1. Mas kawin Adonara: gading gajah

Gading masih menjadi alat istimewa dan khas dalam urusan adat budaya masyarakat Lamaholot yang meliputi Adonara, Solor, Lembata, dan Flores Timur, terutama dalam adat perkawinan. Pihak laki-laki yang memberikan belis berupa gading pada pihak perempuan bukanlah sesuatu yang asing.

2. Adonara, bermahar gading tapi tidak pernah melahirkan gajah

Karena sudah menjadi sesuatu yang khas dan unik, gading bukan sebagai alat bayar. Sesungguhnya, gading menjadi suatu bentuk penghargaan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Gading sudah menjadi mas kawin yang khas dan unik dalam adat perkawinan budaya Lamaholot.

Advertisement

3. Gading gajah Kampung Lamalota

Menurut adat orang Lamaholot, belis dengan menggunakan gading nilainya tak tergantikan dengan belis apapun. Belis gading yang diberikan pihak laki-laki menjadi suatu bentuk penghargaan yang luar biasa kepada pihak perempuan sebagai "opu lake".

4. Adonara: Mahar Mahal

Bonevasius (50) seorang tokoh adat mengatakan, yang lebih diutamakan dalam urusan adat perkawinan antara satu suku dengan suku yang lainnya adalah pertalian persaudaraan, penghargaan dan kebersamaan.

"Jadi bukan soal berapa gading yang harus diberikan atau berapa binatang yang harus diserahkan, tetapi bahwa pihak laki-laki telah memberikan penghargaan yang tinggi kepada pihak perempuan dengan menyerahkan belis sesuai permintaan pihak perempuan," katanya.

5. Harga gading di Adonara mencapai 30-100 juta per batang, lho

Ia juga mengatakan, dengan belis berupa gading itu, hubungan persaudaraan dan kekeluargaan yang sudah mulai dibangun tersebut akan terus berlanjut dan tidak akan ada putus sampai kapanpun. Jika di kemudian hari pihak perempuan mengalami kesulitan maka pihak laki-laki selalu siap untuk memberikan bantuan dan dukungan. Begitu pula sebaliknya. Sehingga belis itu tidak bisa dinilai dengan berapa besar uang yang dikeluarkan hanya untuk dua atau tiga gading yang dipakai untuk membayar belis kepada pihak perempuan. Tetapi seberapa besar penghargaan dan seberapa besar kinginan untuk mau membangun kebersamaan dan kekeluargaan dengan suku dari pihak perempuan.

Sementar itu prosesi pernikahan adat versi budaya Lamaholot pada umumnya sama yakni melalui beberapa tahapan dan diakhiri dengan pernikahan secara agama.

Sekian dan terima kasih telah membaca. Salam Adonara!