Di zaman sekarang, kita tidak bisa menutup mata dan telinga kalau menikah bukanlah hal yang sepele untuk diputuskan. Butuh banyak pertimbangan dan persiapan yang dilakukan oleh keduanya, terutama laki-laki yang menjadi pasanganmu.

Hanya saja, terkadang untuk sebagian wanita yang masih ingin berkarier, perbincangan mengenai pernikahan dirasa terlalu tergesa-gesa dan disikapi secara berlebihan.

Daripada bingung menyikapinya, yuk kita simak agar tidak salam paham mengartikan maksud pasanganmu.

 

1. Kapan aku bisa melamarmu?

Pertanyaan ini, bukan tidak tegas tapi lebih menghargai cita-citamu

Pertanyaan ini, bukan tidak tegas tapi lebih menghargai cita-citamu via http://www.merdeka.com

Kita punya rencana lain sebelum menikah, berapa lama waktu yang pantas untuk aku menunggumu?

Pertanyaan ini tentu saja merupakan salah satu tanda keseriusannya menjalin hubungan denganmu. Bukan tidak ingin mengatakannya melalui kejutan seperti merangkai bunga dan mengumpulkan banyak teman dengan segala macam tulisan yang menunjukkan bahwa dia ingin melamarmu dan disaksikan banyak orang.

Lelaki yang bertanya demikian, tentu lebih mempertimbangkan keinginanmu yang tidak ingin segera menikah dalam waktu dekat karena beberapa faktor, selain umur, dan urusan studi atau pekerjaan. Jika sudah mengetahui jawabannya, dia akan menjadikan waktu kesiapanmu sebagai agenda dan rencana ke depan dengan melakukan banyak persiapan.

Tentu saja pertanyaan seperti itu diajukan karena dia lebih menghargai cita-cita dan keinginan yang ingin kamu raih sebelum menikah. Karena mungkin saja dia tahu beberapa keinginanmu yang tidak bisa dilakukan atau dikerjakan setelah menikah.

Oleh karena itu, pahamilah, dia ingin mengetahui berapa lama waktu yang pantas untuknya menunggumu siap untuk melepas masa lajang.

2. Di mana kita akan tinggal serumah?

Kita akan tinggal serumah, di mana tempat terbaik untuk kita?

Kita akan tinggal serumah, di mana tempat terbaik untuk kita? via http://rumahminimalisku.web.id

Long Distance Relationship setelah menikah? Perlu kita pertimbangkan kembali

 

Menyoal urusan tempat tinggal, tentu saja ini harus dibicarakan dengan serius sebelum menikah. Lelaki yang bertanya demikian, ingin menghabiskan waktunya bersamamu, bukan hanya dihari libur kerja.

Setelah menikah, hidup serumah tentu saja menjadi harapan dan keinginan yang sangat wajar. Mungkin ketika masa pacaran, hubungan jarak jauh/LDR (Long Distance Relationship) masih bisa dimaklumi karena banyak urusan yang harus diselesaikan di tempat yang berbeda, semisal kuliah dan tempat kerja di kota yang berbeda, tetapi ketika sudah menikah, hidup bersama dalam satu atap  menjadi faktor penting.

Pertanyaan seperti itu, perlu dijawab dengan pertimbangan yang matang, karena bisa saja tempat yang kamu kehendaki tidak sama dengan pasanganmu, begitu juga sebaliknya. Apalagi kalau proses mengenal atau pacaran dimulai dengan LDR.

3. Apa rencanamu setelah lulus kuliah?

Setelah wisuda? mau lanjut studi... atau...

Setelah wisuda? mau lanjut studi... atau... via http://olx.co.id

Status sosial pasangan, bisa menjadi kesenjangan dalam hubungan

 

Sudah memikirkan langkah apa yang akan ditempuh setelah lulus kuliah? Terkadang pertanyaan ini dianggap sepele, tapi dampaknya akan terasa setelah menikah.

Misalnya saja, ketika wanita memiliki gelar akademik lebih tinggi ketimbang pasangannya, ini akan menjadi masalah baru bagi sebagian orang dan patut diwaspadai dalam mengambil langkah setelah lulus kuliah.

Bisa jadi, permasalahan ini akan menjadi celah kesenjangan sosial dalam rumah tangga kamu nantinya. Pertanyaan yang kelak diajukan oleh pasanganmu nanti, perlu dijawab dengan pertimbangan yang matang karena jika jawabanmu akan melanjutkan studi, baiknya dibicarakan sejak awal.

Mungkin saja yang ada dalam pikiran pasanganmu yaitu menabung untuk persiapan menikahimu dan itu menjadi prioritas utama selain melanjutkan kuliah, dan dia akan ketinggalan satu langkah dari kamu.

4. Saat aku ke rumah, apa komentar keluargamu?

Beritahu aku apa komentar keluargamu

Beritahu aku apa komentar keluargamu via http://www.kapanlagi.com

Saat kita main ke rumah wanita dan diperkenalkan sebagai teman dekat/pacarnya. Atau sekadar diundang untuk makan malam bersama, pertanyaan ini akan muncul dan dilontarkan kepadamu. "Sayang, mamah komentar apa?", "Ayah bilang apa?". Ke-kepo-an seperti itu, bisa kita maknai bahwa lelaki yang kamu bawa ke rumah, ini memperbaiki dirinya agar bisa diterima baik oleh keluargamu.

Bukan untuk menjadi orang lain, tetapi setidaknya bisa menempatkan diri ketika sedang berada di rumahmu. Misalnya saja, kebiasaan merokoknya belum tentu bisa diterima oleh keluargamu saat sedang berkumpul bersama.

Kamu bisa memberi tahu pasanganmu jika ada komentar yang kurang baik dari keluarga. Buat dia bisa ada di lingkungan keluargamu.

5. Saya ingin mandiri, kamu bisa bertahan dengan itu?

Saya ingin mandiri, merintis semuanya dari awal

Saya ingin mandiri, merintis semuanya dari awal via http://www.hunirumah.com

Tidak semua orang yang nyaman dengan menerima pemberian dari orang tua, termasuk rumah, mobil dan segala fasilitas yang ada untuk rumah tangganya. Ada yang ingin memiliki semuanya karena usaha sendiri dan tidak bergantung pada orang tua. Mungkin pasanganmu termasuk orang seperti itu.

Apakah kamu mau mendampinginya untuk mendapatkan segala kebutuhannya saat bersamamu nanti? Tentunya kamu sudah tahu risikonya dan mampu membayangkan semuanya dari sekarang.

 

Jika kamu mendapatkan pertanyaan-pertanyaan itu dari pasanganmu, yuk sikapi dengan bijak. Dia punya niat baik kok dan serius menjalin hubungan denganmu. Percaya deh, merintis bersama dari awal, lebih baik ketimbang saling menunggu kesuksesan pasanganmu. Akan lebih romantis jika membangun semuanya bersama.

 

Lebih baik mendaki bersama ketimbang harus saling menunggu di puncak.