Ironi modernitas. Mengulas sisi gelap di balik gedung-gedung mewah, hamparan jalan protokol, pabrik olahan industri, lembaga-lembaga produsen rupiah dan segala bentuk tampilan ukiran kapitalisme. “Ironi pengangguran”. Ada ada apa dengan mereka?.

Keynes hanya mengulas sisi ini dalam perspektif penanggulangannya, padahal tak selamanya pengangguran harus diatasi, bukan kebijakan ketika harus selalu memposisikan para pengangguran sebagai objek negasi sosial, yang dengan itu, seakan-akan manusia pengangguran disepakati sebagai “Setengah Manusia”.

 

1. Tidak Ada Pengangguran Sejati!

Pengangguran harus diberikan penghormatan sosial. Minimal mereka bukan kompetitor dalam dunia kerja bagi karyawan atau pegawai. Tidak ada orang waras yang berkeinginan menjadi pengangguran. Karena “melakukan sesuatu” adalah dorongan nalar. Tidak ada pengangguran sejati. Setidaknya sibuk nganggur sambil memikirkan “harus sibuk apa?”, adalah reaksi normatif.

2. Pengangguran Adalah Masa Lalu Semua Orang

Sebagian penganggur karena diputus relasi, sebagian karena memutus relasi. Ada yang bukan keduanya, biasanya pemikir atau anak orang kaya. Jangan bebankan para pengangguran dengan menyuruh mereka cari kerja. Jika tak mampu memperkerjakan mereka, minimal anggap mereka punya kesibukkan.

Advertisement

Andai mencari kerja semudah menyuruh orang untuk cari kerja, tentu tak akan ada pengangguran. Memposisikan para pengangguran sebagai barang rongsokan sama saja mencaci masa lalu, mencaci masa lalu adalah bentuk ketidak siapan menerima diri yang saat ini.

3. Pengangguran Bukan Ancaman Bagi Peradaban

Para pengangguran mungkin memiliki doa yang tidak terkabul, minimal dengan sebuah harapan ia mampu hidup walaupun tidak dianggap benar-benar hidup. Pengangguran bukanlah ancaman bagi peradaban, karena yang sesungguhnya berbahaya adalah para pekerja yang terkontaminasi virus kapitalisme modern, bermental lembaran-lembaran rupiah dan numerik saldo, mencontreng kemerdekaan jiwa dengan ketertundukkan kepada material.

4. Pengangguran Membangun Peradaban

Super Sibuk via http://papasemar.com

Berikan hak hidup terhormat bagi para pengangguran, karena mereka adalah bagian terdepan yang membangun peradaban. Bayangkan apabila semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, tentu tidak akan ada yang peduli dengan masa depan sejarah.

Para pengangguran menduduki posisi penting dalam hal ini. Berkat mereka lahir gagasan-gagasan neo rekonstruktif, karena mereka pula dunia jadi lebih berwarna.

5. Pengangguran Justru Karena Overqualified

Sebagian dari mereka bertahan hidup dengan cara yang tak terjangkau panca indera kaum apatis, sebagian lain mengorbankan dirinya, agar manusia selainnya dapat hidup dengan claim mulia sebagai “Karyawan” atau “Buruh”, atau yang lebih elit sedikit “Waitress”.

Dan sebagian dari para pengangguran adalah orang-orang yang overqualified, hanya saja claim sosial terbangun berdasarkan merk baju, jenis mobil dan ukuran payudara. Mulai saat ini, uah cara pandang dalam menilai orang pengangguran.

Apabila tidak bisa menghargai mereka karena mereka memiliki gaya hidup yang berbeda, minimal hargai mereka karena mereka adalah manusia, sama seperti kita.